RONGGOHADI, LAMONGAN—Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) selalu membawa tradisi kenaikan harga bahan pokok. Namun, Pemerintah Kabupaten Lamongan bergerak cepat dengan high level meeting (HLM) pada Selasa (11/11/2025) untuk mematahkan tren tersebut.
Meskipun Lamongan tercatat memiliki angka inflasi yang masih terbilang aman (2,83% y-on-y, di atas Jatim 2,69%), Bupati Yuhronur Efendi menegaskan kewaspadaan tingkat tinggi.
“Angka inflasi masih aman, tapi kita tidak boleh lengah. Saat Nataru biasanya ada potensi kenaikan harga karena permintaan meningkat,” ujar Pak Yes di Pendopo Lokatantra.
Komoditas utama yang menjadi trouble maker dan penyumbang inflasi terbesar adalah cabai rawit, cabai merah, dan minyak goreng.
Senjata Pamungkas: Model Close Loop Economy dan 4K
Untuk menekan potensi inflasi, Pemkab Lamongan meluncurkan sejumlah strategi inovatif yang berbasis kolaborasi dan data:
- Close Loop Economy: Model ini melibatkan sinergi unik antara Koperasi Merah Putih dan Wasila. Fokusnya adalah mengefisiensikan rantai pasok dari petani langsung ke konsumen, memutus mata rantai spekulan, dan menstabilkan harga secara efektif.
- Lamongan Menanam Pangan: Gerakan ini terus digencarkan untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, dengan mendorong penanaman serentak komoditas rentan seperti cabai dan bawang.
- Sinergi Cadangan Pangan: Pemkab memanfaatkan Cadangan Pangan Daerah melalui kerjasama erat antara Bulog, DKPP, dan Disperindag.
- Early Warning System (EWS): Pengendalian didukung oleh sistem peringatan dini berbasis data dari BPS dan Bank Indonesia untuk mendeteksi pergerakan harga sekecil apapun secara presisi.
“Kuncinya ada di koordinasi dan integrasi data. Semua OPD dan TPID harus bersinergi agar pengambilan keputusan bisa cepat dan presisi,” tegas Bupati.
Semua strategi ini diringkas dalam prinsip pengendalian inflasi yang diusung Lamongan: 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif).
Berita Baik dari Bulog: Stok Beras Super Aman!
Di tengah ancaman kenaikan harga komoditas lain, Lamongan bisa bernapas lega soal stok beras. Kepala Bulog Cabang Bojonegoro, Ferdian Darma Atmaja, mengonfirmasi bahwa stok beras di gudang Lamongan mencapai lebih dari 522 ribu ton!
Angka ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi tahunan Lamongan yang hanya sekitar 130 ribu ton. Dengan produksi pangan yang melimpah dan strategi pengendalian yang terarah, Lamongan optimistis mampu menjaga stabilitas harga hingga pergantian tahun. (rm)



