RONGGOHADI, LAMONGAN—Kisah heroik sekaligus tragis mewarnai perairan utara Lamongan. Kapal nelayan bernama Raja Jaya mengalami kecelakaan laut hebat, tenggelam sekitar 7 hingga 10 mil dari daratan Paciran. Kecelakaan yang terjadi Kamis malam (11/12/2025) sekitar pukul 22.00 WIB ini memaksa sebelas Anak Buah Kapal (ABK) berjuang hidup selama sembilan jam di tengah laut.
Nur Wahid, Ketua Rukun Nelayan Desa Blimbing, Paciran, mengungkapkan bahwa musibah terjadi saat kapal dalam perjalanan pulang dari melaut di wilayah Gresik.
Penyebab: Tiba-tiba pipa pada bagian belakang kapal lepas, menyebabkan air laut masuk dengan cepat ke lambung kapal. Seluruh awak kapal tidak mampu mengatasi kebocoran tersebut, sehingga kapal Raja Jaya tenggelam.
Perjuangan 9 Jam di Laut Lepas
Para ABK berusaha menyelamatkan diri masing-masing dengan berpegangan pada peralatan seadanya. Setelah nyaris satu malam (9 jam) bertahan di perairan, keajaiban datang. Pada Jumat (12/12) pagi, sepuluh ABK berhasil diselamatkan oleh dua kapal nelayan yang kebetulan melintas.
Mereka berhasil dibawa mendarat, namun satu orang harus mendapatkan perawatan intensif di PKU Muhammadiyah Paciran karena kondisinya sangat lemah.
Sayangnya, satu ABK bernama Udin (40), yang tidak mampu bertahan, kini masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus utama pencarian.
Operasi SAR Hari Keempat: KN Permadi Dikerahkan Melawan Gelombang
Operasi pencarian (SAR) kini memasuki hari keempat, melibatkan tim gabungan Basarnas Satuan Jaga Bojonegoro (Unit Siaga SAR Bojonegoro), Polairud Polres Lamongan di Brondong, Bakamla, dan Rukun Nelayan Blimbing.
Nanang Sigit, Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya (selaku SAR Mission Coordinator/SMC), telah mengerahkan Kapal Negara (KN) SAR 249 Permadi. Kapal berukuran panjang 40 meter ini dikerahkan untuk memperluas area pencarian dan mengantisipasi cuaca ekstrem.
Kendala Cuaca: Koordinator Unit Siaga SAR Bojonegoro, Nanang Pujo, menyebutkan proses pencarian terhambat oleh kondisi cuaca yang berawan tebal disertai hujan ringan, angin bertiup kencang (7–11 knot), dan tinggi gelombang mencapai 0,5 hingga 1,25 meter di perairan utara Lamongan.
Di tengah kondisi kritis ini, Sukri Sulatim, Ketua HNSI Lamongan, mengimbau seluruh nelayan Lamongan agar melengkapi diri dengan peralatan keselamatan (seperti pelampung) dan menjaga kesehatan, demi terhindar dari bahaya yang tidak diinginkan di musim cuaca ekstrem ini. (rm)



