LAMONGAN, RONGGOHADI – Kekeringan sempat mengintai ribuan hektare sawah di Kabupaten Lamongan. Namun, ancaman itu perlahan berhasil ditekan. Hingga 29 Agustus 2026, sebanyak 3.233 hektare lahan padi terdampak kekeringan telah berhasil mendapatkan aliran air.
Data Kementerian Pertanian mencatat, total terdapat 3.450 hektare lahan padi yang terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino di tujuh kecamatan di Lamongan.
Artinya, lebih dari 93 persen lahan terdampak kini sudah berhasil dialiri air. Sementara 217 hektare lainnya masih dalam proses penanganan, terutama di Kecamatan Turi dan Sugio.
Upaya penyelamatan lahan dilakukan melalui dua langkah utama, yakni optimalisasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi. Dua strategi tersebut menjadi tumpuan pemerintah untuk memastikan tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air di tengah ancaman kekeringan.
Kalitengah Jadi yang Terluas dan Tuntas
Dari tujuh kecamatan terdampak, Kecamatan Kalitengah mencatat luasan penanganan terbesar.
Sebanyak 1.855 hektare lahan padi dengan usia tanaman 0 hingga 40 hari setelah tanam berhasil dialiri seluruhnya. Penanganan dilakukan melalui kombinasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Karang Binangun. Dari 248 hektare lahan terdampak dengan usia tanaman 30 hingga 40 hari setelah tanam, seluruhnya telah mendapatkan aliran air.
Di Kecamatan Glagah, penanganan terhadap 15 hektare lahan padi berusia 46 hingga 60 hari setelah tanam juga telah dinyatakan tuntas.
Sementara itu, Kecamatan Deket masih menyisakan 17 hektare dari total 397 hektare lahan terdampak. Sebanyak 380 hektare di antaranya telah berhasil dialiri.
Penanganan juga telah rampung di Kecamatan Sukodadi. Dari total 50 hektare lahan padi berusia 25 hingga 30 hari setelah tanam yang terdampak, seluruhnya telah mendapatkan air.
Turi Masih Jadi Titik Perhatian
Meski sebagian besar lahan telah berhasil diselamatkan, pekerjaan belum sepenuhnya selesai.
Kecamatan Turi menjadi wilayah dengan pekerjaan rumah terbesar. Dari 791 hektare lahan terdampak, baru 622 hektare yang telah berhasil dialiri. Masih ada 169 hektare yang membutuhkan penanganan lanjutan.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Sugio. Dari 94 hektare lahan padi berusia 25 hingga 45 hari setelah tanam, sebanyak 63 hektare telah teraliri. Sedangkan 31 hektare lainnya masih dalam proses.
Dua wilayah tersebut kini menjadi perhatian pemerintah agar seluruh lahan terdampak dapat segera mendapatkan pasokan air.
Pompa dan Irigasi Jadi Senjata Hadapi Kekeringan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah menghadapi ancaman kekeringan sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Program pompanisasi dan perbaikan jaringan irigasi menjadi bagian dari strategi mitigasi untuk menjaga keberlangsungan musim tanam petani.
Menurut pemerintah, penanganan cepat di Lamongan menunjukkan bahwa strategi tersebut mulai bekerja ketika ancaman kekeringan muncul di lapangan.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Arief Cahyono, mengatakan capaian pengairan 3.233 hektare dari total 3.450 hektare lahan terdampak menjadi gambaran dari percepatan penanganan yang dilakukan.
“Sisa 217 hektare, khususnya di Kecamatan Turi dan Sugio, terus dikawal agar segera tuntas,” ujarnya.
Banyak Pihak Turun Tangan
Penyelamatan ribuan hektare sawah tersebut tidak dilakukan satu instansi saja. Pemerintah menyebut kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci percepatan pengairan di lapangan.
Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Lamongan, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Lamongan, serta Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Lamongan dari Kementerian Pertanian.
Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Lamongan juga akan terus diperkuat untuk mengejar sisa lahan yang belum teraliri.
Bagi petani, air bukan sekadar persoalan teknis. Ketersediaan air menentukan apakah tanaman yang sudah ditanam dapat terus tumbuh atau justru harus menghadapi risiko gagal panen.
Karena itu, ketika 3.233 hektare sawah Lamongan berhasil kembali mendapatkan air, yang diselamatkan bukan hanya lahan pertanian, tetapi juga harapan petani untuk mempertahankan musim tanam di tengah ancaman El Nino.
Pemerintah kini masih berpacu dengan waktu untuk menuntaskan 217 hektare lahan tersisa, sehingga seluruh sawah terdampak kekeringan di Lamongan dapat kembali teraliri. (rm)



