LAMONGAN, RONGGOHADI – Kalau biasanya bandeng dan lele berakhir di meja makan, pemandangan berbeda terlihat di Kecamatan Turi, Lamongan. Minggu (30/8/2026), dua komoditas kebanggaan Lamongan itu justru menjadi bintang utama sebuah pesta rakyat yang penuh warna.
Halaman Kantor Kecamatan Turi berubah menjadi lautan manusia. Ratusan warga berkumpul dalam Festival Bandeng Lele Megilan, rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang memadukan kuliner, kreativitas, hiburan, hingga semangat kebersamaan.
Bukan hanya sambal yang diulek. Kostum pun ikut “diulek” dalam adu kreativitas.
Sebanyak 430 peserta dari 19 desa se-Kecamatan Turi ambil bagian dalam festival penyet atau uleg bandeng lele. Pesertanya pun beragam, mulai dari pemerintah desa, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, Polsek, Koramil, Puskesmas hingga pelaku UMKM.
Sejak pagi, suasana sudah terasa meriah. Kelompok-kelompok peserta datang dengan kostum kreasi masing-masing. Ada yang tampil unik, ada yang kompak, dan ada pula yang sengaja tampil mencolok demi mencuri perhatian.
Panitia telah menyiapkan cobek dan uleg sebagai “senjata” utama. Setelah aba-aba dimulai, peserta langsung membuat sambal penyet untuk melengkapi olahan bandeng dan lele.
Suasana semakin pecah ketika musik dari DJ Cintya mengiringi aksi ratusan peserta. Ulekan bergerak, sambal diracik, sementara kostum-kostum unik membuat halaman kantor kecamatan terasa seperti panggung festival.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi bersama Wakil Bupati Lamongan Dirham Akbar Aksara bahkan ikut turun langsung. Keduanya turut mengulek sambal bersama peserta, didampingi sejumlah kepala OPD dan pejabat Pemkab Lamongan.
Namun, ada satu pemandangan yang tak kalah mencuri perhatian.
Di tengah keramaian, sebuah gunungan ikan bandeng dan lele asap berdiri sebagai simbol kekayaan hasil perikanan Lamongan.
Sebanyak sekitar 80 kilogram bandeng dan 40 kilogram lele asap disusun menyerupai gunungan. Begitu gunungan diperebutkan, suasana berubah semakin riuh. Warga berdesakan dan berebut mendapatkan ikan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Lamongan.
Bandeng dan Lele Tak Sekadar Kuliner
Bagi Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Festival Bandeng Lele Megilan bukan sekadar pesta atau kegiatan seremonial. Ada pesan ekonomi yang ingin dibawa melalui festival tersebut.
Menurutnya, bandeng dan lele merupakan salah satu potensi perikanan yang patut dibanggakan. Karena itu, semakin sering potensi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat, semakin besar pula peluang sektor budi daya untuk berkembang.
“Kita bangga dengan Festival Bandeng Lele ini. Tahun ini dipusatkan di Kecamatan Turi,” ujar Yuhronur.
Ia berharap kegiatan tersebut ikut menggairahkan masyarakat untuk mengembangkan budi daya ikan sehingga berdampak terhadap kesejahteraan pembudi daya.
“Mudah-mudahan acara ini bisa menggairahkan budi daya tambak, sehingga harga semakin mahal,” harapnya.
Menurut Yuhronur, pengembangan budi daya tentu membutuhkan dukungan dari berbagai sisi, termasuk kemudahan memperoleh pupuk dan ketersediaan air.
“Pupuk gampang, air juga mudah dan dimudahkan semuanya,” ungkapnya.
430 Peserta, 19 Desa, Satu Panggung Kreativitas
Festival ini sekaligus memperlihatkan bagaimana potensi lokal bisa dikemas menjadi kegiatan yang dekat dengan masyarakat.
Salah satu peserta, Hj Anik dari Puskesmas Turi yang bertugas di Pustu Desa Gedongboyountung, mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Pokoknya Alhamdulillah deh,” ujarnya.
Kemeriahan festival pun tidak berhenti pada lomba uleg sambal. Kehadiran warga, kostum beragam, hiburan musik, hingga gunungan ikan menciptakan suasana yang berbeda dari perayaan kemerdekaan pada umumnya.
Bandeng dan lele tidak hanya hadir sebagai lauk di atas piring. Keduanya menjelma menjadi identitas lokal, simbol potensi perikanan, sekaligus media untuk mempertemukan warga dalam satu perayaan.
Di saat yang sama, festival juga membuka ruang bagi UMKM dan pelaku usaha lokal untuk ikut mengambil manfaat dari ramainya kegiatan.
Diawali Jalan Sehat 8 Kilometer
Sebelum warga berjibaku dengan cobek dan ulekan, rangkaian acara terlebih dahulu dibuka dengan jalan sehat.
Sekitar 300 peserta mengikuti jalan sehat dengan jarak tempuh mencapai 8 kilometer.
Setelahnya, suasana berlanjut dengan Festival Bandeng Lele Megilan yang dikemas lengkap dengan adu kreativitas kostum, lomba penyet atau uleg, hiburan, gunungan ikan hingga pengundian hadiah.
Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Turi akhirnya bukan cuma menjadi pesta sehari. Ada semangat yang ikut dihidupkan: bahwa potensi lokal bisa dirayakan dengan cara yang kreatif, menyenangkan, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama.
Dan di Turi hari itu, bandeng serta lele membuktikan satu hal: ikan lokal pun bisa menjadi bintang utama sebuah festival. (rm)



