Tuesday, September 15, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pakai IoT, Kampung Kerapu Labuhan Lamongan Didorong Tembus Pasar Dunia

LAMONGAN, RONGGOHADI – Kampung Kerapu Labuhan di Kecamatan Brondong tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman pembudidaya untuk menjaga kualitas ikan. Teknologi Internet of Things (IoT) mulai digunakan untuk membantu memantau kondisi air tambak, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi sekaligus membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.

Dorongan pemanfaatan teknologi itu disampaikan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi saat menghadiri Festival Kerapu III di Desa Labuhan, Minggu (13/9/2026).

Menurut Yuhronur, budidaya ikan kerapu di Labuhan terus menunjukkan perkembangan dan telah menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pesisir. Karena itu, peningkatan produksi harus dibarengi dengan penguatan teknologi agar kualitas hasil budidaya semakin terjaga.

“Sehingga kita yakin pada akhir 2026 ini produksinya akan semakin bertambah besar lagi dan Kampung Kerapu nelayan pasti akan terus kebanjiran order, kebanjiran permintaan,” ujar Yuhronur.

Produksi Kerapu Capai Rp174 Miliar

Besarnya potensi tersebut terlihat dari nilai produksi ikan kerapu yang terus meningkat.

Pada 2025, nilai produksi kerapu di Lamongan mencapai sekitar Rp174 miliar. Sementara hingga triwulan II 2026, nilainya telah menembus lebih dari Rp90 miliar.

Pertumbuhan tersebut menjadi modal bagi Kampung Kerapu Labuhan untuk naik kelas. Namun, peningkatan produksi juga menuntut pembudidaya mampu menjaga kualitas ikan secara konsisten.

Salah satu yang didorong Pemkab Lamongan adalah penggunaan perangkat IoT.

Sebanyak 100 perangkat berbasis IoT telah diberikan kepada nelayan dan pembudidaya. Alat tersebut memungkinkan kondisi serta kandungan air tambak dipantau dari jarak jauh melalui jaringan internet.

“Alat ini sudah bisa memonitor dari rumah bagaimana kehidupan air, bagaimana kandungan air dan berbagai macam yang bisa dilaporkan oleh alat tersebut,” kata Yuhronur.

Dengan sistem tersebut, pembudidaya tidak harus menunggu kondisi tambak memburuk untuk mengambil tindakan. Perubahan kondisi air dapat dipantau sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Pemkab Lamongan juga berkomitmen untuk meningkatkan dukungan teknologi bagi Kampung Kerapu pada tahun berikutnya.

Bibit, Pakan dan Air Jadi Penentu

Teknologi bukan satu-satunya kunci. Pembudidaya kerapu Desa Labuhan, Sukarno, menyebut kualitas produksi sangat ditentukan sejak awal proses budidaya.

Setidaknya ada tiga hal yang menurutnya harus mendapat perhatian, yakni kualitas bibit, pakan, serta pengelolaan lahan dan air.

“Daripada pembibitan, kita harus mencari bibit yang bagus. Yang kedua pemberian pakan hendaknya pakan yang berkualitas. Yang ketiga pengolahan lahan dan pemilihan airnya harus bagus,” tuturnya.

Persoalan pakan masih menjadi salah satu tantangan. Ketersediaan ikan rucah yang selama ini digunakan sebagai pakan semakin terbatas karena banyak terserap industri tepung ikan.

Kondisi tersebut membuat pembudidaya mulai mencari alternatif melalui penggunaan pakan pelet.

Jakarta dan Bali Terus Minta Pasokan

Di tengah berbagai tantangan budidaya, pasar ikan kerapu justru menunjukkan permintaan yang cukup tinggi.

Sukarno mengatakan permintaan dari Jakarta dan Bali terus meningkat. Bahkan, kebutuhan pasar Jakarta disebut bisa mencapai lebih dari dua hingga tiga ton per hari.

Jumlah tersebut belum sepenuhnya mampu dipenuhi pembudidaya lokal.

Harga ikan kerapu di tingkat pembudidaya saat ini berada di kisaran Rp120 ribu per kilogram. Setelah masuk Jakarta, harganya dapat mencapai sekitar Rp130 ribu per kilogram.

Bagi pembudidaya, kualitas menjadi syarat penting untuk mempertahankan akses pasar tersebut.

Ikan umumnya mulai dipasarkan ketika bobotnya mencapai sekitar lima ons setelah melalui masa pemeliharaan enam hingga tujuh bulan.

“Kalau kualitasnya bagus, dibawa ke Jakarta tiga sampai empat hari masih tahan hidup,” jelas Sukarno.

Dari Kampung Kerapu Menuju Pasar Dunia

Potensi produksi dan permintaan pasar yang terus tumbuh membuat pengembangan Kampung Kerapu Labuhan tidak cukup hanya mengejar jumlah produksi.

Kualitas bibit, pakan, kondisi tambak, pengelolaan air hingga distribusi harus dibangun secara bersamaan. Teknologi IoT menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga proses budidaya lebih terukur.

Dengan dukungan tersebut, Kampung Kerapu Labuhan diharapkan mampu menjawab kebutuhan pasar nasional sekaligus memperluas peluang ikan kerapu Lamongan menembus pasar internasional.

Bagi Lamongan, targetnya bukan sekadar membuat produksi kerapu semakin besar, tetapi menjadikan Kampung Kerapu Labuhan sebagai sentra budidaya yang mampu bersaing hingga pasar dunia. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles