RONGGOHADI, LAMONGAN — Penderitaan warga di wilayah Bengawan Jero, khususnya di Kecamatan Glagah, seolah tak berujung. Memasuki bulan kedua sejak air mulai mengepung permukiman, warga kini harus menghadapi musuh baru yang tak kalah kejam dari banjir: Loncatan harga kebutuhan pokok.
Akses darat yang lumpuh total mengubah urat nadi ekonomi menjadi jalur air yang mahal. Untuk membawa sekarung beras atau sekeranjang telur, para pedagang harus bertaruh dengan waktu dan biaya sewa perahu yang tidak murah. Dampaknya? Harga di meja dapur warga langsung “terbakar”.
Laporan Langsung: Kenaikan Harga yang Bikin Geleng Kepala
Kepala Dusun Glagah, Suparjo, mengungkapkan bahwa kondisi wilayahnya saat ini benar-benar terisolasi. Jika biasanya warga bisa dengan mudah ke pasar, kini setiap liter minyak goreng atau tiap butir telur harus melewati perjuangan panjang menembus banjir.
“Banjir sudah berjalan 2 bulan. Ekonomi mati suri, dan sekarang sembako naik gila-gilaan. Akses jalan terendam, hanya bisa dilewati perahu. Inilah yang bikin harga barang jadi mahal,” keluh Suparjo, Jumat (16/1/2026).
Estimasi Kenaikan Harga di Wilayah Terdampak
Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga per item barang cukup untuk membuat para ibu rumah tangga mengelus dada. Berikut adalah gambaran kenaikan harga di pasar lokal wilayah banjir:
| Komoditas Pokok | Estimasi Kenaikan per Item/Kg | Kondisi Distribusi |
| Beras | ⬆️ Rp 5.000 – Rp 7.000 | Via Perahu Tradisional |
| Minyak Goreng | ⬆️ Rp 5.000 – Rp 6.000 | Stok Terbatas |
| Telur Ayam | ⬆️ Rp 6.000 – Rp 7.000 | Risiko Pecah Tinggi di Perahu |
| Bumbu Dapur | ⬆️ Rp 5.000 | Distribusi Terhambat |
Ongkos Perahu: Biaya Tambahan yang Menjadi Beban Rakyat
Fatimah, salah satu warga terdampak, hanya bisa pasrah. Ia memaklumi mengapa pedagang menaikkan harga, namun dompetnya tak bisa berbohong kalau beban ini sudah terlalu berat.
“Intinya barang dapur naik semua. Kami maklum, pedagang harus sewa perahu buat bawa barang masuk ke sini. Tapi kalau begini terus, kami mau makan apa?” ujar Fatimah dengan nada lirih.
Biaya logistik “ekstra” inilah yang menjadi biang kerok utama. Perahu yang seharusnya menjadi alat transportasi darurat, kini menjadi komponen biaya yang melambungkan harga pangan.
Harapan Warga: Butuh Intervensi, Bukan Sekadar Janji!
Warga Bengawan Jero kini sangat mengharapkan dua hal dari Pemerintah Kabupaten Lamongan:
- Operasi Pasar Murah: Menggunakan armada air pemerintah untuk membawa sembako murah langsung ke desa-desa terisolasi.
- Bantuan Logistik Merata: Memastikan stok pangan di wilayah terdampak tidak langka.
Hingga saat ini, debit air masih fluktuatif. Jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, warga khawatir harga-harga tersebut akan semakin tak terjangkau. (rm)



