RONGGOHADI, LAMONGAN – Musim kemarau tak hanya membawa cuaca panas dan tanah yang mengering. Di Kabupaten Lamongan, datangnya musim ini juga membuat pekerjaan petugas pemadam kebakaran semakin padat.
Selain menghadapi potensi kebakaran rumah dan fasilitas umum, petugas Damkar Lamongan juga harus bersiaga menangani kebakaran lahan serta semak-semak kering yang mudah terbakar. Belum lagi laporan lain seperti evakuasi ular, biawak hingga tawon yang masuk ke permukiman warga.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian besar wilayah Lamongan dinilai memiliki potensi kebakaran. Faktor kepadatan penduduk menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.
Kepala Satpol PP Lamongan, Dr. Edwyn Anedi, S.Sos., M.M., mengatakan musim kemarau memang menjadi periode yang cukup sibuk bagi petugas pemadam kebakaran.
“Yang paling utama itu menghadapi musim kemarau,” ujarnya dalam wawancara bersama Radio Ronggohadi.
Bukan Cuma Kebakaran, Damkar Juga Tangani Satwa Liar
Ketika suhu meningkat dan kondisi lingkungan semakin kering, persoalan yang dihadapi petugas ternyata tidak hanya api.
Satwa liar seperti ular, biawak dan tawon lebih sering masuk ke rumah maupun pekarangan warga sehingga masyarakat membutuhkan bantuan petugas untuk melakukan evakuasi.
Namun, ancaman yang paling serius tetap berasal dari kebakaran.
Kebakaran rumah, fasilitas umum hingga lahan kosong dan semak-semak menjadi kejadian yang harus diantisipasi selama musim kemarau. Tumpukan jerami sisa panen yang dibiarkan di area persawahan juga menjadi salah satu titik yang patut diwaspadai.
Kondisi bahan yang kering membuat api dapat dengan cepat membesar dan merambat, terutama jika berada tidak jauh dari kawasan permukiman.
Lamongan, Paciran hingga Babat Jadi Perhatian
Edwyn menjelaskan bahwa Damkar Lamongan tidak secara khusus menetapkan satu wilayah sebagai “zona merah” kebakaran.
Pemetaan lebih banyak mempertimbangkan kepadatan penduduk, karena semakin padat suatu kawasan, semakin besar pula risiko dan dampak ketika kebakaran terjadi.
Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Lamongan kota, Paciran—khususnya wilayah Blimbing dan Brondong—serta Babat.
Untuk menghadapi persoalan jarak, Damkar Lamongan telah menyiapkan empat pos yang tersebar di sejumlah wilayah. Pos tersebut berada di Paciran, Jimbung, Babat dan Lamongan dengan cakupan pelayanan masing-masing.
Strategi tersebut diharapkan mampu mempercepat respons petugas ketika terjadi kebakaran di berbagai kecamatan.
Masalah Terbesar Justru Sering Datang dari Keterlambatan Laporan
Ada satu persoalan yang menurut Edwyn masih menjadi pekerjaan rumah besar: masyarakat sering terlambat menghubungi Damkar ketika kebakaran terjadi.
Dalam beberapa kejadian, laporan baru diterima sekitar 30 menit hingga satu jam setelah api mulai muncul.
Padahal, dalam situasi kebakaran, selisih waktu beberapa menit saja bisa menentukan seberapa besar api berkembang.
Edwyn mengingatkan masyarakat agar segera menghubungi Damkar ketika melihat kebakaran dan tidak menunggu api membesar terlebih dahulu.
“Paling cepat 30 menit itu baru kita mendapatkan laporan,” ungkapnya.
Untuk mempermudah akses masyarakat, Damkar Lamongan memiliki sejumlah nomor layanan di masing-masing pos. Informasi nomor tersebut juga telah disosialisasikan melalui berbagai forum masyarakat dan media sosial.
Kebakaran Rumah Banyak Dipicu Masalah Listrik
Jika melihat pola kejadian, kebakaran di kawasan rumah atau permukiman cukup sering berkaitan dengan instalasi listrik.
Selain itu, beberapa kejadian juga dapat dipicu kelalaian dalam penggunaan peralatan rumah tangga, termasuk penggunaan obat nyamuk dan sumber api lainnya.
Sementara untuk kebakaran semak dan lahan, persoalan sering kali bermula dari kebiasaan masyarakat membuang benda atau material yang masih menyimpan bara ke tempat yang mudah terbakar.
“Untuk yang di semak-semak itu paling banyak. Itu karena membuang sesuatu yang sudah terbakar,” jelas Edwyn.
Masalah tersebut menjadi semakin berbahaya ketika lokasi kebakaran berada dekat rumah warga. Permukiman yang rapat membuat api lebih mudah menjalar dan menyulitkan proses pemadaman maupun evakuasi.
Damkar Dorong Masyarakat Belajar Memadamkan Api Sejak Dini
Damkar Lamongan tidak hanya mengandalkan kecepatan petugas ketika kebakaran terjadi.
Edukasi mengenai pencegahan dan penanganan awal kebakaran juga terus dilakukan kepada sekolah, instansi, perangkat desa hingga masyarakat.
Petugas memberikan pemahaman mengenai bahaya kebakaran sekaligus langkah awal yang dapat dilakukan masyarakat ketika api baru muncul.
Namun, Edwyn mengakui sosialisasi tersebut belum dapat dilakukan secara menyeluruh karena keterbatasan personel.
Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya menunggu petugas datang. Pengetahuan dasar mengenai penanganan kebakaran menjadi penting agar api dapat dikendalikan pada tahap awal, selama tindakan tersebut tetap aman dilakukan.
Damkar dan PLN Perkuat Antisipasi Kebakaran Listrik
Potensi kebakaran akibat gangguan listrik juga mendorong koordinasi antara Damkar Lamongan dan PLN.
Dalam kondisi terjadi kebakaran, pemutusan aliran listrik menjadi bagian penting untuk mencegah api semakin meluas sekaligus melindungi warga dan petugas pemadam dari risiko sengatan listrik.
Menurut Edwyn, sistem deteksi dan penanganan PLN memungkinkan aliran listrik di sekitar lokasi kejadian untuk dilokalisasi dan dipadamkan sehingga proses pemadaman dapat dilakukan dengan lebih aman.
Kemarau Belum Berakhir, Warga Jangan Tunggu Api Membesar
Musim kemarau pada akhirnya bukan hanya menjadi tantangan bagi petugas Damkar, tetapi juga ujian bagi kedisiplinan masyarakat.
Jangan membakar sampah sembarangan. Jangan membuang puntung rokok ke lahan kering. Jangan meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Dan yang tak kalah penting, jangan menunda laporan ketika melihat kebakaran.
Sebab ketika api masih kecil, peluang untuk mengendalikan dampaknya jauh lebih besar.
Namun ketika laporan baru masuk setelah api membesar, petugas Damkar tidak hanya harus memadamkan api, tetapi juga berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan rumah, fasilitas umum, harta benda, bahkan nyawa.
Di tengah musim kemarau yang membuat rumput mengering dan permukiman semakin rentan, satu pesan dari Damkar Lamongan patut menjadi perhatian bersama:
Jika melihat kebakaran, segera laporkan. Jangan menunggu api membesar. (rm)



