Saturday, September 12, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Bukan Sekadar Seragam, Polwan Lamongan Pilih Dekati Generasi Muda dari Hati ke Hati

LAMONGAN, RONGGOHADI – Ada cara berbeda yang dipilih polisi wanita (Polwan) untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Bukan selalu dengan suara tegas atau pendekatan yang kaku, tetapi dengan cara yang lebih dekat: mendengarkan, memahami, lalu mengajak berbicara dari hati ke hati.

Pendekatan inilah yang kini terus dikembangkan Polwan, termasuk di Kabupaten Lamongan. Di tengah karakter generasi muda yang semakin kritis dan tidak mudah menerima sesuatu hanya karena diperintah, kehadiran Polwan dinilai memiliki ruang tersendiri untuk membangun komunikasi yang lebih emosional dan humanis.

Hal tersebut disampaikan Kanit Bintibsos Satbinmas Polres Lamongan, Aipda Yuli Setiyaningsih, saat berbincang bersama Ronggohadi dalam momentum Hari Jadi ke-78 Polwan Republik Indonesia yang diperingati setiap 1 September.

Menurut Yuli, Polwan memiliki karakter pendekatan yang relatif lebih lembut ketika berhadapan dengan masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Karena itu, dalam kegiatan pembinaan generasi muda, Polwan kerap ditempatkan di garis depan untuk membangun komunikasi yang tidak terasa menggurui.

“Kalau kita mau mengajak mereka kepada kebaikan, kita melakukan pendekatan dari hati ke hati,” ujar Yuli.

Ketika Generasi Muda Tak Bisa Lagi Didekati dengan Paksaan

Bagi Yuli, menghadapi generasi Alpha dan Gen Z membutuhkan cara komunikasi yang berbeda. Mereka dinilai memiliki karakter yang kritis dan cenderung tidak mudah menerima sesuatu ketika disampaikan dengan cara memaksa.

Karena itu, pesan-pesan mengenai keamanan, ketertiban maupun edukasi hukum tidak cukup hanya disampaikan sebagai imbauan. Polwan berupaya membuat komunikasi tersebut lebih mudah diterima oleh anak-anak dan remaja.

Pendekatan itu dilakukan melalui berbagai kegiatan pembinaan, mulai dari lingkungan pendidikan tingkat TK, SD, SMP hingga SMA, komunitas, serta organisasi kepemudaan seperti karang taruna.

“Polwan dijadikan garda terdepan dalam rangka pendekatan secara emosional kepada generasi muda. Kita memberikan pengertian, sosialisasi dan imbauan dengan bahasa yang lebih halus dan bisa mereka terima,” jelasnya.

Cara tersebut menjadi penting karena pencegahan persoalan sosial tidak selalu harus dimulai ketika masalah sudah terjadi. Menurut Yuli, membangun kedekatan sejak dini justru menjadi salah satu cara untuk menjaga anak-anak agar tidak mudah terjerumus ke berbagai persoalan.

Polwan Mulai Masuk ke Desa sebagai Bhabinkamtibmas

Peran Polwan di Lamongan juga mulai terlihat di tingkat desa. Yuli menyebut sudah ada sejumlah Polwan yang mendapat tugas sebagai Bhabinkamtibmas.

Di antaranya terdapat petugas Polwan di wilayah Deket, Kembangbahu, Sukodadi, Brondong hingga kawasan Kota Lamongan. Secara keseluruhan, sekitar 10 hingga 12 anggota Polwan telah menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas di sejumlah wilayah.

Kehadiran Polwan di posisi tersebut diharapkan semakin memperluas ruang komunikasi dengan masyarakat, terutama perempuan, anak-anak, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan pendekatan lebih personal.

Meski demikian, jumlah Polwan secara nasional masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan personel kepolisian. Yuli menyebut persentasenya saat ini berada di kisaran 6 persen dan terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Setiap tahun bertambah. Kalau tahun ini sudah sekitar 6 persen,” katanya.

Bukan Hanya Pendekatan, Polwan Juga Hadir dalam Penanganan Perempuan dan Anak

Peran Polwan tidak berhenti pada kegiatan sosial maupun pembinaan. Di lingkungan Polres Lamongan, sejumlah Polwan juga ditempatkan pada fungsi penegakan hukum, termasuk unit yang menangani perkara perempuan dan anak.

Yuli mengatakan, Polwan turut mendapat tugas dalam fungsi preventif, pre-emptive hingga represif. Artinya, keterlibatan mereka tidak hanya berada pada tahap pencegahan, tetapi juga dalam proses penanganan persoalan hukum.

Kehadiran Polwan dalam penanganan perempuan dan anak dinilai penting karena membutuhkan kepekaan serta komunikasi yang tidak hanya berorientasi pada proses hukum, tetapi juga kondisi korban.

Di sisi lain, pendekatan kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat juga terus dilakukan sebagai bagian dari strategi pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dari Kegiatan Sosial hingga Trauma Healing

Momentum peringatan HUT ke-78 Polwan tahun ini juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial. Rangkaian kegiatan bahkan telah dimulai sejak Agustus, mulai dari bakti religi, anjangsana kepada senior Polwan yang telah purna, hingga kegiatan sosial lainnya.

Pengalaman Polwan dalam kegiatan sosial juga tidak terbatas di Lamongan. Ketika terjadi bencana di daerah lain, Polwan dapat dilibatkan dalam kegiatan trauma healing, khususnya untuk membantu anak-anak yang terdampak agar kembali membangun semangat dan kepercayaan diri.

Sementara di Lamongan, kegiatan sosial dilakukan melalui bakti sosial, bakti kesehatan maupun kegiatan keagamaan.

Ada pula program pelayanan masyarakat yang melibatkan Polwan ketika pelaksanaan salat Jumat. Personel Polwan ditempatkan untuk membantu pelayanan dan pengamanan ketika personel polisi laki-laki menjalankan ibadah.

Bagi Yuli, seluruh kegiatan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal: membuat kehadiran polisi semakin dekat dan dirasakan masyarakat.

Usia 78 Tahun, Polwan Ingin Tinggalkan Dampak

Memasuki usia ke-78, Polwan menyadari perjalanan panjangnya masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Namun, usia yang semakin matang juga menjadi momentum untuk memperkuat peran di tengah masyarakat.

Tahun ini, peringatan HUT Polwan mengusung tema “One Police Woman, Extraordinary Impact”.

Tema tersebut menjadi pengingat bahwa kehadiran seorang Polwan seharusnya tidak berhenti pada seragam dan jabatan. Ada dampak yang harus ditinggalkan, sekecil apa pun itu, bagi masyarakat di sekitarnya.

“Kami menyadari Polwan mungkin masih banyak kekurangan. Tetapi kami akan berusaha ke depannya menjadi abdi negara yang lebih baik dalam memberikan pelayanan keamanan kepada masyarakat,” tutur Yuli.

Pada akhirnya, wajah Polwan yang ingin dibangun bukan hanya tentang ketegasan dalam menjalankan tugas. Ada sisi lain yang tak kalah penting: menjadi sosok yang mau mendengar, memahami dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Terlebih bagi generasi muda, terkadang sebuah nasihat akan lebih mudah diterima bukan karena siapa yang menyampaikannya, tetapi karena bagaimana cara menyampaikannya.

Dan di situlah Polwan Lamongan ingin mengambil peran: bukan sekadar mendekati masyarakat, tetapi memenangkan hati mereka terlebih dahulu. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles