LAMONGAN, RONGGOHADI – Ada orang yang masuk ke dunia sepak bola karena sejak kecil hidupnya lekat dengan si kulit bundar. Ada pula yang datang karena kecintaan pada klub. Namun, cerita Pradita Aditya, Direktur Bisnis Persela Lamongan, justru sedikit berbeda.
Ia terang-terangan mengaku bukan penggila sepak bola. Bahkan, sebelumnya ia tidak terlalu memahami sepak bola Indonesia. Namun, kecintaannya terhadap Lamongan membuatnya bersedia masuk lebih jauh, belajar, lalu perlahan jatuh cinta pada Persela.
Kini, sepak bola bukan lagi sekadar pertandingan 90 menit baginya. Ada ekosistem, bisnis, pemain muda, sponsor, suporter, hingga bagaimana Persela memiliki nilai tawar sebagai sebuah klub.
“Jadi saya ini bukan penggila bola atau bukan orang yang paham bola. Jujur. Tetapi saya memang mencintai Lamongan,” kata Adit dalam perbincangan bersama Radio Ronggohadi.
Dari situlah perjalanan barunya dimulai.
Ketika mendapat kesempatan terlibat dalam manajemen Persela, Adit memilih belajar cepat. Dunia yang sebelumnya terasa asing perlahan ia pelajari, termasuk bagaimana sepak bola Indonesia bekerja dan bagaimana sebuah klub bisa dibangun secara profesional.
“Saya banyak belajar dari situ terkait dengan sepak bola Indonesia, kemudian bagaimana membangun ekosistemnya,” ujarnya.
Dari Jualan Celana hingga Punya 15 Toko
Sebelum masuk ke dunia sepak bola, Adit lebih dahulu melewati perjalanan panjang sebagai pengusaha.
Naluri bisnisnya bahkan mulai tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Ia pernah berjualan berbagai macam barang, mulai celana, cacing laut, parfum, sepatu hingga pakaian.
Jiwa entrepreneur tersebut kemudian berkembang menjadi bisnis yang lebih serius. Ia pernah berkecimpung dalam bisnis rongsokan dan daur ulang, mengumpulkan plastik, kardus hingga kertas untuk dijual kembali ke pabrik.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Pada 2008, ia mengaku pernah mengalami kerugian besar setelah tertipu.
Alih-alih berhenti, pengalaman tersebut justru menjadi sekolah bisnis baginya.
Adit kemudian beralih ke bisnis besi. Bermula dari tempat kontrakan kecil di Blimbing, ia membangun usaha sedikit demi sedikit.
Satu karyawan, kemudian dua. Dari satu toko berkembang menjadi beberapa toko. Kini, bisnis yang dibangunnya melalui Duta Merpati Indonesia telah memiliki sekitar 15 toko besi dengan lebih dari 300 karyawan.
“Tempatnya kecil, tidak besar. Kami ngontrak di sana. Alhamdulillah, meskipun kecil tapi mimpinya besar. Step by step,” tuturnya.
Kalimat itu tampaknya menjadi benang merah perjalanan bisnis Adit: mulai dari kecil, tetapi jangan pernah mengecilkan mimpi.
Lamongan Bukan Sekadar Tempat Pulang
Ketika banyak anak muda memilih mencari peluang di kota besar, Adit justru melihat Lamongan dari sisi yang berbeda.
Menurutnya, masih banyak peluang bisnis di Lamongan yang belum digarap secara maksimal.
Ia melihat strategi bisnis yang berkembang di kota-kota besar, kemudian mencoba mengadaptasinya ke daerah.
“Karena memang kami melihat di Lamongan masih ada opportunity yang cukup bagus. Opportunity itu belum tergerak dengan baik,” katanya.
Strategi tersebut kemudian diterapkan dalam bisnisnya hingga mampu membawa usahanya menjadi salah satu pemain utama di sektor toko besi di Lamongan.
Bagi Adit, tinggal dan berkembang di daerah bukan berarti harus kehilangan kesempatan untuk menjadi besar.
Justru sebaliknya, daerah bisa menjadi ladang peluang ketika seseorang mampu membaca kebutuhan masyarakat.
Bisnis Berawal dari Passion dan Opportunity
Dalam membaca peluang usaha, Adit mengaku memiliki dua pegangan utama: passion dan opportunity.
Ia menyukai dunia hospitality, terutama bagaimana memberikan pelayanan dan membuat orang merasa bahagia. Dari passion tersebut, ia kemudian masuk ke bisnis food and beverage.
Namun passion saja tidak cukup.
Ada kesempatan yang harus dibaca dan dieksekusi.
Menurut Adit, seorang entrepreneur harus mampu melihat celah yang belum digarap. Ketika sebuah kebutuhan belum tersedia, di situlah peluang bisnis bisa muncul.
Tetapi membaca peluang juga harus dibarengi perhitungan.
Dalam mengembangkan bisnis, ia mengaku terbiasa menghitung investasi, potensi pendapatan hingga return of investment sebelum mengambil keputusan.
“Kalau kita investasi sekian, bagaimana? Pasti kita sudah menghitung secara matematik kira-kira works atau enggak,” jelasnya.
Persela Tak Cukup Hanya Menang
Cara berpikir bisnis tersebut kini dibawanya ke Persela Lamongan.
Menurut Adit, membangun klub sepak bola tidak cukup hanya dengan memiliki pemain bagus kemudian berharap menang setiap pertandingan.
Ada pekerjaan jauh lebih besar di belakang layar.
Persela harus memiliki manajemen yang baik, membangun ekosistem, mengembangkan usia dini, menjalin kolaborasi dengan sponsor, sekaligus meningkatkan market value klub.
“Tidak hanya pemainnya bagus, kemudian kita bermain dan terus menang. Itu memang part of-nya. Tetapi itu semua tentunya tidak bisa dibangun secara instan tanpa ada good management di belakangnya,” katanya.
Karena itu, manajemen Persela kini mencoba membangun sesuatu yang lebih besar: ekosistem sepak bola yang sehat dan profesional di Lamongan.
Mulai dari pembenahan fasilitas pemain hingga perhatian terhadap kebutuhan dasar skuad.
Adit menyebut manajemen juga mulai menata meal plan pemain. Makanan, susu, jus hingga vitamin dipersiapkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan performa pemain.
Bagi Adit, hal-hal kecil semacam itu justru bisa menjadi bagian penting dari perjalanan membangun tim.
Pesan untuk Anak Muda: Jangan Takut Mulai dari “Nggak Bisa”
Di luar sepak bola, Adit punya satu pesan sederhana untuk anak muda yang ingin terjun ke dunia bisnis.
Jangan takut memulai hanya karena belum bisa.
Sebab, menurutnya, semua orang yang sukses pernah berada di titik tidak tahu dan tidak mampu.
Ia menggambarkan proses itu seperti manusia belajar berjalan. Tidak ada bayi yang baru lahir kemudian langsung berlari. Semuanya dimulai dari tengkurap, duduk, berdiri, tertatih, berjalan, lalu akhirnya berlari.
“Semua butuh proses. Tapi kita sebagai pebisnis harus paham itu dan harus melalui itu,” ujarnya.
Kuncinya adalah mau belajar, bekerja keras, memiliki visi yang kuat, lalu menjalani prosesnya dengan serius.
Persela Butuh Lamongan, Bukan Sekadar Penonton
Untuk Persela, Adit juga menyampaikan pesan yang tak kalah penting: klub membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat Lamongan.
Dukungan itu tidak harus selalu dalam bentuk besar.
Datang ke stadion ketika Persela bertanding, membeli merchandise resmi Persela, hingga menjaga sikap sportif di tribun merupakan bagian dari dukungan nyata.
“Kami butuh support, kemudian kolaborasi bersama antara semua elemen masyarakat,” katanya.
Sebab pada akhirnya, Persela bukan hanya milik pemain, pelatih atau manajemen.
Persela adalah bagian dari identitas Lamongan.
Dan bagi Adit, membangun klub sebesar Persela membutuhkan sesuatu yang sama seperti membangun bisnis dari nol: visi yang besar, kerja keras, kemauan belajar, dan kesabaran untuk menjalani proses.
Dari seorang pengusaha yang mengaku awalnya tidak paham sepak bola, kini Adit justru sedang ikut menata masa depan sepak bola Lamongan.
Bukan sekadar mengejar kemenangan di lapangan, tetapi mencoba membuat Persela tumbuh menjadi sebuah industri yang punya ekosistem, nilai, dan masa depan. (rm)



