Sunday, August 16, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Harga Daging Sapi Melambung, Pedagang Lamongan Kompak Tutup Lapak 3 Hari: Konsumen Beralih ke Ayam

RONGGOHADI, LAMONGAN – Kenaikan harga daging sapi di Lamongan kini tak lagi sekadar membuat konsumen mengelus dada. Para pedagang pun memilih mengambil langkah yang jarang terjadi: kompak menghentikan aktivitas berjualan selama tiga hari sebagai bentuk respons atas lonjakan harga yang terus berulang sepanjang tahun 2026.

Keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa gejolak harga daging sapi telah memasuki fase yang cukup mengkhawatirkan. Tidak hanya menekan daya beli masyarakat, kondisi ini juga membuat pedagang kesulitan mempertahankan pelanggan.

Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan, Bagus Budi Raharjo, mengatakan keputusan libur berjualan lahir dari hasil musyawarah para pedagang setelah menerima informasi kenaikan harga dari pengepul sapi hidup.

Menurutnya, langkah itu diambil bukan karena stok daging langka, melainkan untuk meredam gejolak psikologis di tengah pasar yang semakin sensitif terhadap kenaikan harga.

“Kami sepakat libur tiga hari supaya ada ketenangan. Setiap harga naik, pelanggan banyak yang komplain bahkan membatalkan pembelian,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).

Kenaikan Harga Terparah dalam Satu Dekade

Bagus mengungkapkan, lonjakan harga kali ini menjadi yang paling berat selama sekitar sepuluh tahun terakhir. Dalam kurun waktu enam bulan saja, harga sudah mengalami kenaikan hingga lima kali.

Awal tahun 2026, harga karkas sapi di tingkat jagal masih berada di kisaran Rp110 ribu per kilogram. Kini angkanya melonjak menjadi sekitar Rp130 ribu per kilogram, sehingga harga daging sapi eceran di pasar Lamongan menyentuh Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.

Kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Jika harga dinaikkan mengikuti biaya pembelian, konsumen memilih mengurangi belanja. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, pedagang harus menanggung kerugian.

Daya Beli Masyarakat Menurun, Ayam Jadi Pilihan

Lonjakan harga juga mengubah pola konsumsi masyarakat. Daging sapi yang biasanya menjadi menu utama saat hajatan, pesta pernikahan hingga berbagai acara keluarga, kini mulai ditinggalkan.

Banyak warga memilih beralih ke daging ayam yang dinilai jauh lebih terjangkau.

“Selisih harga sekarang terlalu jauh. Akhirnya masyarakat memilih ayam sebagai alternatif,” jelas Bagus.

Dampaknya terasa langsung terhadap omzet pedagang. Paguyuban mencatat pendapatan para penjual daging sapi di Lamongan turun sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan saat harga masih stabil.

Hampir 20 Pedagang Ikut Tutup Lapak

Aksi libur jualan ini diikuti sekitar 18 hingga 19 pedagang yang berjualan di tiga pasar utama Kabupaten Lamongan, yakni Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made.

Meski bersifat sementara, para pedagang berharap langkah tersebut menjadi perhatian seluruh pihak terhadap kondisi pasar yang semakin berat.

Mereka menilai stabilitas harga menjadi faktor utama agar aktivitas perdagangan dapat kembali normal tanpa harus kehilangan pelanggan setiap kali terjadi kenaikan harga.

Pedagang Minta Pemerintah Segera Turun Tangan

Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga pasokan sapi serta menstabilkan harga di tingkat jagal maupun pasar.

Menurut mereka, kepastian pasokan akan membantu menekan lonjakan harga sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak, pedagang, dan masyarakat sebagai konsumen.

Di tengah tingginya biaya hidup, stabilitas harga daging sapi dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan roda ekonomi di pasar tradisional tetap bergerak. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles