RONGGOHADI, LAMONGAN – Di saat sebagian remaja seusianya menghabiskan sore untuk belajar atau bermain bersama teman, Cinta (15) justru memulai pekerjaannya. Selepas pulang sekolah, siswi kelas IX SMP Negeri Kembangbahu, Kabupaten Lamongan itu harus bekerja hingga larut malam demi satu tujuan sederhana: tetap bisa sekolah dan membantu ayahnya bertahan hidup.
Upah yang diterimanya pun jauh dari kata besar, hanya Rp25.000 per hari. Namun, bagi Cinta, nominal tersebut menjadi penyambung harapan di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Perjuangan remaja asal Dusun Krajan, Desa Sukobendu, Kecamatan Mantup, ini kini menyentuh banyak hati setelah kisahnya terungkap ke publik.
Pulang Sekolah, Langsung Bekerja hingga Malam
Setiap hari, Cinta memulai pekerjaannya sekitar pukul 16.00 WIB dan baru selesai sekitar pukul 22.00 WIB.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, ia memilih tetap berada di tempat kerja selama beberapa hari tanpa pulang ke rumah.
“Kadang saya berangkat jam 4 sore sampai jam 10 malam. Kadang juga tidak pulang beberapa hari,” tutur Cinta, Selasa (21/7/2026).
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Sejak ibunya meninggal dunia, Cinta tinggal bersama sang ayah, Edi, serta dua saudara kandungnya.
Ayahnya bekerja sebagai pedagang mainan keliling dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Kadang tidak ada penghasilan sama sekali,” ungkap Cinta.
Kondisi tersebut membuatnya memilih ikut mencari nafkah agar kebutuhan keluarga dan biaya sekolah tetap terpenuhi.
Bertahan Demi Mimpi, Bukan Sekadar Mencari Uang
Di balik senyumnya, Cinta menyimpan perjuangan yang mungkin tak pernah dibayangkan banyak orang.
Setelah mengenakan seragam sekolah sejak pagi, ia berganti peran menjadi pekerja di sebuah warung malam demi memperoleh penghasilan tambahan.
Meski lelah, ia memilih bertahan daripada harus menghentikan pendidikan.
Kisah itu menjadi gambaran bahwa masih banyak anak-anak yang harus memikul beban ekonomi keluarga di usia yang seharusnya dipenuhi dengan belajar dan mengejar cita-cita.
Polisi Turun Tangan, Beri Modal Agar Tak Lagi Bekerja di Warung Malam
Perjuangan Cinta akhirnya sampai ke telinga anggota Polres Lamongan, Ipda Purnomo, yang akrab disapa Pak Pur.
Menurutnya, lingkungan tempat Cinta bekerja bukanlah tempat yang layak bagi seorang pelajar.
Selain aktivitas yang berlangsung hingga malam, lokasi tersebut juga dinilai memiliki berbagai risiko bagi anak di bawah umur.
“Lingkungan warung yang diwarnai musik keras dan minuman keras sebenarnya bukan tempat yang aman maupun layak bagi anak seusianya,” kata Purnomo.
Ia juga mengetahui bahwa keluarga Cinta pernah mengalami kepanikan ketika gadis itu tidak pulang selama hampir satu pekan karena harus bekerja.
Alih-alih hanya merasa iba, Pak Pur memilih mengambil langkah nyata.
Ia memberikan bantuan modal usaha agar Cinta dapat memperoleh penghasilan tanpa harus kembali bekerja di warung malam.
Kini Merintis Warung Kecil di Rumah
Berkat bantuan tersebut, kehidupan Cinta mulai berubah.
Kini ia tidak lagi bekerja hingga larut malam.
Sebagai gantinya, ia mulai merintis usaha kecil dengan menjual makanan ringan dan minuman di teras rumahnya.
“Saat ini Dek Cinta tidak lagi harus bekerja di warung malam. Kami memberikan bantuan modal agar dia mulai merintis usaha sendiri,” ujar Purnomo.
Harapannya sederhana, Cinta tetap bisa fokus menyelesaikan pendidikan tanpa harus mempertaruhkan keselamatan maupun masa depannya.
Jangan Mudah Menghakimi Anak yang Terpaksa Bekerja
Purnomo berharap kisah Cinta menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mudah memberi stigma negatif kepada anak-anak yang terlihat bekerja di usia sekolah.
Menurutnya, banyak anak yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan, bukan karena ingin melanggar aturan ataupun kehilangan semangat belajar.
Ia mengajak sekolah, guru, dan masyarakat untuk melihat lebih dalam latar belakang setiap anak sebelum memberikan penilaian.
“Di balik seragam sekolah, mungkin ada beban hidup yang tidak pernah mereka ceritakan.”
Kisah Cinta menjadi bukti bahwa pendidikan masih menjadi impian besar bagi banyak anak Indonesia. Di tengah keterbatasan ekonomi, semangat belajar tetap menyala. Dan terkadang, secercah harapan hadir dari kepedulian orang-orang di sekitar yang memilih membantu, bukan menghakimi. (rm)



