RONGGOHADI, LAMONGAN – Menjadi jamaah haji yang mandiri tidak cukup dipersiapkan hanya beberapa bulan sebelum keberangkatan. Berangkat dari pemikiran tersebut, Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lamongan melahirkan sebuah terobosan yang kini menjadi sorotan nasional, yakni Program Sekolah Haji, sebuah inovasi pembinaan calon jamaah yang dimulai sejak jauh hari sebelum menunaikan rukun Islam kelima.
Program yang dikembangkan bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Kabupaten Lamongan sejak tahun 2023 ini bahkan disebut sebagai program pertama di Indonesia, sehingga menarik perhatian berbagai daerah yang datang langsung ke Lamongan untuk melakukan studi tiru.
Bukan sekadar mengajarkan tata cara ibadah, Sekolah Haji dirancang layaknya sebuah jenjang pendidikan yang membentuk calon jamaah secara utuh, mulai dari aspek spiritual, administrasi, kesehatan hingga kesiapan mental.
Mengubah Paradigma Pembinaan Haji
Selama ini, sebagian besar calon jamaah baru mendapatkan pembinaan ketika memasuki masa manasik. Namun melalui Program Sekolah Haji, Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lamongan mengubah pola tersebut dengan memberikan bekal sejak awal.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lamongan, H. Abdul Ghofur, M.Ag, mengatakan program ini lahir sebagai bentuk komitmen menghadirkan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin menyapa jamaah lebih dini, khususnya mereka yang diproyeksikan berangkat pada tahun-tahun mendatang. Pembinaan dilakukan sejak awal, mulai dari penyambutan calon jamaah, verifikasi dokumen, hingga pemberian materi melalui kurikulum Sekolah Haji yang kami rancang secara khusus,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan yang lebih awal akan membuat jamaah memiliki pemahaman yang lebih matang sehingga tidak hanya siap secara administrasi, tetapi juga memahami makna ibadah haji secara menyeluruh.
Belajar Seperti di Sekolah, Lulus Saat Menunaikan Haji
Keunikan Program Sekolah Haji terletak pada konsep pendidikannya.
Calon jamaah akan mengikuti proses pembelajaran menggunakan kurikulum yang telah disusun secara khusus oleh Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lamongan bersama KBIHU.
Setelah menyelesaikan tahap tersebut, peserta akan melanjutkan pembinaan melalui manasik haji KBIHU, kemudian mengikuti manasik tingkat kecamatan hingga kabupaten.
Abdul Ghofur menggambarkan proses tersebut layaknya perjalanan pendidikan.
Menurutnya, “ujian akhir” Sekolah Haji bukan berada di ruang kelas, melainkan ketika jamaah menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Sedangkan “wisuda” berlangsung ketika jamaah berhasil menjalani wukuf di Arafah, sebagai puncak pelaksanaan ibadah haji.
Sebagai bentuk apresiasi, setiap jamaah nantinya akan memperoleh sertifikat digital yang dapat diunduh setelah menyelesaikan seluruh tahapan pembinaan.
Materi Lengkap, Tak Hanya Belajar Manasik
Program Sekolah Haji tidak hanya membahas tata cara pelaksanaan ibadah.
Peserta juga dibekali berbagai materi penting yang menjadi bekal selama menjalankan ibadah di Tanah Suci, di antaranya:
- Manasik haji secara komprehensif.
- Kesehatan jamaah haji.
- Pengurusan dokumen keberangkatan.
- Manajemen keuangan haji.
- Persiapan fisik dan mental.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lamongan menggandeng berbagai instansi, mulai dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, bank penerima setoran biaya haji, hingga sejumlah lembaga terkait lainnya.
Kolaborasi tersebut membuat proses pembinaan menjadi lebih menyeluruh dan terintegrasi.
Diapresiasi Nasional, Jadi Contoh Berbagai Daerah
Inovasi yang lahir dari Lamongan ini ternyata mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan.
Sejumlah pemerintah daerah dari berbagai kabupaten dan kota datang melakukan studi tiru untuk mempelajari konsep Sekolah Haji.
Tak hanya itu, program tersebut juga memperoleh apresiasi dari berbagai level pemerintahan, mulai dari Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Timur, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Daniel Anjar Simanjuntak, hingga Direktur Jenderal Bina Manasik Haji Kementerian Haji Republik Indonesia.
Hal itu menunjukkan bahwa inovasi daerah mampu menjadi inspirasi dalam penguatan layanan pembinaan jamaah haji secara nasional.
Menuju Sekolah Haji Gratis
Meski saat ini masih berada pada jenjang dasar atau Sekolah Haji Awaliyah, Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lamongan telah menyiapkan langkah pengembangan berikutnya.
Pelaksanaan Sekolah Haji ini tidak dipungut biaya (gratis). Namun, tujuan utamanya adalah mendorong Sekolah Haji menjadi program prioritas Kementerian Haji yang mendapatkan dukungan dan pendanaan melalui anggaran resmi kementerian, sehingga seluruh calon jamaah dapat memperoleh pembinaan berkualitas tanpa terbebani biaya tambahan.
“Harapan kami, jamaah haji Kabupaten Lamongan memiliki bekal ilmu yang lebih matang sehingga mampu menjadi jamaah yang mandiri dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji,” tutur Abdul Ghofur.
Dengan konsep pendidikan yang dimulai jauh sebelum keberangkatan, Lamongan tidak hanya mempersiapkan jamaah untuk berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga membentuk pribadi yang siap secara ilmu, mental, kesehatan, dan spiritual. Inovasi ini menjadi bukti bahwa pelayanan haji tidak hanya berbicara soal administrasi keberangkatan, melainkan juga investasi pengetahuan yang akan menemani jamaah sepanjang perjalanan ibadahnya.(rm)



