Saturday, September 12, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Bukan Cuma Donor Darah, PMI Lamongan Turun Tangan Atasi Krisis Air Bersih Saat Kemarau

RONGGOHADI, LAMONGAN – Ketika musim kemarau membuat sebagian wilayah Lamongan mulai kesulitan mendapatkan air bersih, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lamongan tidak tinggal diam. Selain menjalankan layanan donor darah, PMI juga turun langsung mendistribusikan bantuan air kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kemanusiaan PMI Lamongan sepanjang 2026.

Ketua PMI Kabupaten Lamongan, Agus Suyanto, mengatakan kegiatan PMI tidak hanya berfokus pada donor darah. Organisasi kemanusiaan tersebut juga menjalankan berbagai kegiatan sosial, kebencanaan, hingga pembinaan generasi muda.

“Program PMI di 2026 ini salah satunya kegiatan donor darah setiap hari. Kita keliling ke tempat-tempat yang sudah kita tuju,” ujar Agus saat berbincang dalam program Halo Dangdut Radio Ronggohadi.

Menurutnya, kegiatan donor darah dilakukan di berbagai lokasi, mulai dari lingkungan pemerintah daerah, perbankan, kepolisian, lembaga pemasyarakatan, hingga masyarakat di tingkat desa.

Namun, ketika kebutuhan masyarakat berubah akibat kondisi musim, PMI juga menyesuaikan bentuk pelayanan.

Kemarau Datang, Tangki Air PMI Bergerak

Salah satu respons yang kini dilakukan PMI Lamongan adalah membantu masyarakat yang mengalami kekurangan air akibat musim kemarau.

Agus menyebut terdapat sekitar 13 kabupaten/kota di Jawa Timur yang menjadi wilayah sasaran dukungan PMI Pusat terkait dampak kekeringan. Lamongan termasuk daerah yang mendapat dukungan tersebut.

Di Lamongan sendiri, terdapat sejumlah kecamatan yang disebut mengalami dampak kekurangan air saat musim kemarau.

Beberapa di antaranya adalah Deket, Sarirejo, Brondong, Kembangbahu, Mantup, Sambeng, Ngimbang, Modo, Meluluk, dan Sukorame.

Untuk menentukan wilayah yang membutuhkan bantuan, PMI melakukan koordinasi dengan BPBD maupun pemerintah kecamatan dan desa.

“Memang di Kabupaten Lamongan ini ada sekitar antara sembilan atau sekitar sepuluh kecamatan yang pada musim kemarau seperti ini terdampak kekurangan air,” jelas Agus.

Koordinasi tersebut menjadi penting agar distribusi air bisa diarahkan ke wilayah yang benar-benar membutuhkan.

Dua Tangki Air Digelontorkan ke Wilayah Terdampak

Gerak cepat PMI mulai terlihat ketika dua tangki air diluncurkan untuk membantu warga terdampak kekeringan.

Agus mengatakan, sehari sebelumnya PMI telah menyalurkan bantuan air ke Desa Deket Wetan, Kecamatan Deket, dengan kapasitas tangki sekitar 10.000 liter.

Distribusi bantuan kemudian dilanjutkan ke wilayah lain yang membutuhkan.

“Kami akan memberikan bantuan air bersih atau air minum di wilayah kekurangan air pada dampak kemarau ini,” katanya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, PMI Lamongan juga mendapat dukungan berupa pinjaman tangki air berkapasitas 5.000 liter dari PMI Provinsi Jawa Timur dan PMI Pusat.

Dukungan itu digunakan untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Warga Bisa Melapor, PMI Siap Turun

Bantuan air tidak semata-mata bergerak berdasarkan perkiraan. PMI Lamongan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mengetahui desa mana yang membutuhkan distribusi air.

Kepala desa juga memiliki peran penting dalam menyampaikan kondisi warganya.

Agus mengatakan masyarakat yang membutuhkan bantuan air dapat menyampaikan kondisi tersebut melalui pemerintah desa dan kecamatan untuk kemudian dikoordinasikan dengan pihak terkait.

“Bisa langsung ke Pak Camat. Pak Camat bisa ke BPBD atau ke PMI. Nanti bisa kita bantu,” ujarnya.

Pola koordinasi tersebut diharapkan membuat distribusi bantuan lebih tepat sasaran, terutama ketika kebutuhan air bersih meningkat akibat kemarau panjang.

Dari Donor Darah hingga Pembinaan Pelajar

Meski sedang fokus membantu wilayah terdampak kekeringan, pelayanan PMI Lamongan tetap berjalan di bidang lainnya.

Kegiatan donor darah tetap dilakukan secara rutin dengan menyasar berbagai komunitas dan lembaga.

PMI Lamongan juga menjalankan kegiatan kemanusiaan ketika terjadi bencana. Agus mencontohkan bantuan yang sebelumnya diberikan kepada sejumlah daerah terdampak banjir.

Selain itu, PMI turut melakukan pembinaan Palang Merah Remaja (PMR) di lingkungan pendidikan.

Pembinaan diberikan kepada pelajar mulai tingkat SD, SMP, SMA maupun jenjang pendidikan yang setara seperti MI, MTs, dan MA.

Materi PMR diberikan sebagai bagian dari upaya mengenalkan nilai kemanusiaan dan kepalangmerahan sejak usia sekolah.

PMI dan Semangat Melayani Masyarakat

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kerja PMI tidak berhenti ketika seseorang datang untuk mendonorkan darah.

Di tengah musim kemarau, tugas kemanusiaan itu bergeser ke kebutuhan yang paling mendasar: air.

Ketika sumur warga mulai sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketika desa membutuhkan suplai air bersih, dan ketika kemarau mulai memberikan tekanan kepada masyarakat, koordinasi antara PMI, BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganannya.

Bagi PMI Lamongan, pelayanan kemanusiaan berarti hadir sesuai kebutuhan masyarakat.

Hari ini mungkin donor darah. Besok bisa jadi bantuan kebencanaan. Dan ketika kemarau datang, tangki-tangki air pun ikut bergerak.

Sebab pada akhirnya, kerja kemanusiaan bukan sekadar tentang program yang tertulis di atas kertas, tetapi tentang seberapa cepat bantuan bisa sampai kepada mereka yang membutuhkan. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles