RONGGOHADI, LAMONGAN– Sepintas, mengambil darah mungkin terlihat seperti pekerjaan sederhana. Jarum ditusukkan, darah diambil, lalu sampel dibawa ke laboratorium.
Namun di balik proses singkat tersebut, ada standar ketelitian yang menentukan kualitas pemeriksaan hingga keselamatan pasien.
Hal inilah yang menjadi perhatian Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (DPC PATELKI) Kabupaten Lamongan) melalui pelatihan dan uji kompetensi flebotomi bagi tenaga laboratorium medik.
Kegiatan tersebut digelar selama lima hari di Aula Maharani Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta kemudian menjalani uji kompetensi flebotomi di Aula Lesung Si Panji, Rabu (12/8/2026).
Ketua DPC PATELKI Lamongan, Fahruddin, mengatakan peningkatan kompetensi tenaga laboratorium menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya tuntutan terhadap kualitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, tenaga laboratorium tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis. Mereka juga dituntut memahami keselamatan pasien serta mampu menjalankan prosedur sesuai standar pelayanan kesehatan.
“Kegiatan ini dilatarbelakangi kebutuhan tenaga laboratorium yang kompeten dalam flebotomi semakin meningkat, seiring dengan tuntutan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada mutu, keselamatan pasien (patient safety), dan standar akreditasi fasilitas kesehatan,” kata Fahruddin.
Pengambilan Darah Jadi Titik Awal Kualitas Pemeriksaan Laboratorium
Flebotomi merupakan proses pengambilan sampel darah yang menjadi bagian awal dari pemeriksaan laboratorium.
Di tahap inilah ketelitian tenaga laboratorium menjadi sangat penting. Prosedur pengambilan dan penanganan sampel yang tidak tepat dapat memengaruhi kualitas sampel sebelum masuk ke tahap pemeriksaan.
Karena itu, kemampuan tenaga laboratorium dalam melakukan flebotomi tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menggunakan alat, tetapi juga menyangkut ketepatan prosedur dan patient safety.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, Moh. Chaidir Annas, yang hadir membuka kegiatan, menegaskan bahwa flebotomi tidak boleh dianggap sebagai pekerjaan sederhana.
“Pelatihan dan uji kompetensi flebotomi ini guna memastikan dan menjamin kualitas layanan kesehatan di bidang laboratorium, utamanya dalam kegiatan flebotomi,” ujar dr. Annas.
Ia menggambarkan bahwa perjalanan sebuah hasil pemeriksaan laboratorium sebenarnya dimulai jauh sebelum sampel masuk ke mesin pemeriksaan.
“Perjalanan sebuah hasil pemeriksaan laboratorium ternyata tidak dimulai ketika sampel diperiksa di mesin laboratorium. Semuanya bermula dari satu proses sederhana: bagaimana darah pasien diambil dengan benar,” pungkasnya.
Tak Hanya Dilatih, Kompetensi Tenaga Lab Lamongan Juga Diuji
Untuk memastikan kemampuan peserta benar-benar memenuhi standar, DPC PATELKI Lamongan menggandeng Lembaga Sertifikasi Profesi Pranata Laboratorium Medik Presisi (LSP PLMP) yang telah memiliki lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Dengan skema tersebut, peserta tidak berhenti pada pelatihan. Kemampuan mereka juga diuji dan dinilai berdasarkan standar kompetensi yang berlaku.
Fahruddin berharap seluruh peserta dapat memperoleh predikat kompeten setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan dan uji kompetensi.
“Kami berharap seluruh peserta dapat meraih predikat kompeten, sehingga kompetensi yang dimiliki benar-benar dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan laboratorium,” ujarnya.
Bagi PATELKI Lamongan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat profesionalisme tenaga laboratorium medik sekaligus menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan yang semakin menuntut kualitas.
Sebab, ketika seorang pasien duduk untuk diambil darahnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar satu tabung sampel. Di baliknya ada proses pemeriksaan yang akan membantu tenaga kesehatan menentukan langkah pelayanan berikutnya.
Karena itu, kompetensi tenaga laboratorium, ketepatan flebotomi, mutu pemeriksaan, dan keselamatan pasien menjadi satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. (rm)



