LAMONGAN, RONGGOHADI – Bagi sebagian warga, mengambil bantuan beras di balai desa mungkin perkara sederhana. Tinggal datang, menunjukkan identitas, lalu membawa pulang beras untuk kebutuhan keluarga.
Namun, tidak semua Keluarga Penerima Manfaat (KPM) punya kemampuan untuk melakukan hal sesederhana itu.
Di Kabupaten Lamongan, pemerintah memilih tidak berhenti di meja pembagian. Bantuan pangan juga diantar langsung ke rumah warga yang kesulitan hadir, termasuk mereka yang tidak bisa melihat maupun tidak bisa berjalan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penyaluran 5.390,58 ton beras bantuan sosial pangan untuk masyarakat kurang mampu di Lamongan. Beras itu merupakan alokasi bantuan untuk Juli, Agustus, dan September 2026.
Pemkab Lamongan melakukan monitoring dan evaluasi langsung untuk memastikan bantuan tidak hanya selesai secara administrasi, tetapi benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi turun langsung memantau penyaluran di Desa Sidokumpul dan Desa Made, Kecamatan Lamongan, Selasa (1/9/2026). Secara simbolis, Pak Yes menyerahkan bantuan kepada KPM di masing-masing balai desa.
Di Desa Sidokumpul, bantuan disalurkan kepada 250 KPM, sementara di Desa Made terdapat 427 KPM penerima.
Ketika Penerima Tak Bisa Datang, Bantuan yang Mendatangi
Cerita berbeda terjadi di Desa Mantup. Wakil Bupati Lamongan Dirham Akbar Aksara ikut memantau penyaluran bantuan kepada 784 KPM.
Yang menarik, penyaluran tidak seluruhnya dilakukan dengan pola warga datang ke balai desa.
Dirham secara langsung melakukan delivery service bantuan beras ke rumah warga yang tidak memungkinkan hadir. Di antaranya warga yang memiliki keterbatasan penglihatan dan warga yang tidak dapat berjalan.
Cara ini membuat penyaluran bantuan memiliki makna yang lebih sederhana sekaligus penting: warga yang membutuhkan tidak boleh kehilangan hak hanya karena keterbatasan untuk datang mengambil bantuan.
Pemkab Ingin Bantuan Tak Salah Alamat
Bupati Yuhronur mengatakan monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting dalam memastikan program bantuan pemerintah berjalan sesuai tujuan.
Menurutnya, pemerintah ingin memastikan beras benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan dan penyalurannya berlangsung secara merata.
“Kita ingin memastikan bantuan ini tepat sasaran, diterima oleh masyarakat yang membutuhkan dan penyalurannya merata,” tutur Pak Yes, Selasa (1/9/2026).
Pesan tersebut menjadi penting karena bantuan pangan bukan hanya soal jumlah beras yang tersalurkan. Di balik setiap karung terdapat kebutuhan rumah tangga yang harus terbantu, terutama bagi masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi kurang mampu.
Bukan Sekadar Mengisi Dapur
Wabup Dirham menilai bantuan beras memiliki fungsi yang lebih luas. Selain membantu memenuhi kebutuhan pokok warga, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan sekaligus membantu mengendalikan tekanan harga pangan.
“Bantuan ini mudah-mudahan dapat meringankan kebutuhan masyarakat. Tujuan disalurkannya bantuan hari ini adalah untuk mengentas kemiskinan, menjaga stabilitas harga pangan, dan memastikan ketahanan pangan di Kabupaten Lamongan terjaga,” kata Dirham.
Dengan total 5.390,58 ton beras yang dialokasikan untuk tiga bulan, skala program ini menunjukkan besarnya upaya pemerintah dalam menjaga agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi.
Tetapi pada akhirnya, ukuran keberhasilan bantuan bukan sekadar berapa ton beras yang keluar dari gudang.
Ukuran sebenarnya adalah apakah beras tersebut sampai kepada orang yang memang membutuhkan—termasuk mereka yang tak mampu datang sendiri untuk mengambilnya.
Di titik itulah, penyaluran bantuan pangan Lamongan tak sekadar menjadi urusan distribusi. Ia menjadi tentang memastikan tidak ada warga yang tertinggal hanya karena keterbatasan untuk datang mengambil haknya. (rm)


