LAMONGAN, RONGGOHADI – Pemerintah Kabupaten Lamongan mengoptimalkan mekanisasi dalam budidaya tebu melalui Program Bongkar Ratoon 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi petani.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, mekanisasi menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program swasembada gula melalui peremajaan tanaman tebu yang sudah tua.
“Mulai penanaman bibit ini akan menggunakan mekanisasi. Kita tunjukkan komitmen untuk program swasembada gula. Kita terus semangat dan kita kawal bersama,” katanya di Lamongan, Kamis.
Menurut Yuhronur, Program Bongkar Ratoon telah dilaksanakan sejak 2025 hingga 2026. Pada 2026, target program di Lamongan mencapai 1.385 hektare.
Sementara itu, alokasi lahan yang telah tersedia mencapai 1.121,43 hektare. Dengan demikian, masih terdapat potensi penambahan sekitar 264 hektare untuk memenuhi target program.
Ia menjelaskan, penerapan mekanisasi diperlukan untuk meringankan beban petani, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman tebu.
Produksi Tebu Capai 1,5 Juta Kuintal
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan, produksi tebu hingga September 2026 mencapai 1.519.314,75 kuintal dengan produktivitas sebesar 650 kuintal per hektare.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan Mugito mengatakan, pengembangan komoditas tebu merupakan tindak lanjut kebijakan pemerintah pusat sekaligus mendukung program prioritas daerah.
“Dengan alat-alat ini kita bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil produksi secara lebih efektif,” katanya.
Penanaman perdana Program Bongkar Ratoon 2026 dilakukan di lahan Gapoktan Sumber Mulyo Mutiara Abadi seluas 90 hektare, Desa Gampangsejati, Kecamatan Laren.
Petani menggunakan varietas Panjalu 1 yang memiliki rendemen di atas 10 persen.
Ketua Poktan Sumber Mulyo Mutiara Abadi Septi Wahyu mengatakan, penerapan mekanisasi membantu menghemat kebutuhan tenaga kerja sekaligus menekan biaya budidaya.
Ia optimistis pengembangan komoditas tebu di Lamongan semakin kuat karena daerah tersebut memiliki industri pengolahan gula. Kondisi tersebut dinilai memberikan dukungan pasar bagi petani dalam memasarkan hasil produksinya.(rm)


