RONGGOHADI, LAMONGAN – Bulan Agustus selalu punya cara sendiri untuk menghidupkan suasana. Jalan-jalan mulai dihiasi merah putih, anak-anak bersiap mengikuti pawai, dan kreativitas warga tumpah dalam berbagai gelaran karnaval.
Bagi Wijayanti, suasana meriah menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan sekadar perayaan. Ini adalah musim panen bagi usaha yang telah digelutinya: membuat sekaligus menyewakan kostum adat dan kostum karnaval.
Berbasis di Perumahan Griya Permata Nusantara, Lamongan Kota, Wijayanti kini tengah menghadapi kesibukan yang berbeda dari hari-hari biasanya. Pesanan kostum berdatangan dari berbagai lembaga hingga pelanggan luar daerah.
Permintaan bahkan meningkat sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun ada satu hal yang menarik. Selera masyarakat terhadap kostum karnaval ternyata ikut berubah.
Jika dulu kostum adat sederhana sudah cukup untuk tampil dalam pawai, kini peserta karnaval justru berlomba menghadirkan penampilan yang mencuri perhatian.
“Sekarang yang lebih diminati justru kostum yang wow. Bukan lagi kostum biasa, tetapi sudah mengarah ke replika dan semi-karnaval,” ujar Wijayanti, Sabtu (8/8/2026).
Bukan Sekadar Kostum, Tapi Harus Bikin Pangling
Kostum berbentuk replika hewan menjadi salah satu produk yang banyak diburu.
Burung merpati hingga burung enggang menjadi contoh kostum yang diminati karena memiliki bentuk besar, unik, dan tentu saja mudah mencuri perhatian ketika dibawa dalam parade.
Kostum adat pun tak luput dari sentuhan kreativitas. Model konvensional kini banyak dimodifikasi menjadi konsep semi-karnaval, membuat pakaian tradisional tampil lebih megah dan atraktif.
Perubahan tren tersebut membuat bisnis penyewaan kostum tidak bisa hanya mengandalkan stok lama. Kreativitas harus terus bergerak mengikuti selera pelanggan.
Wijayanti menyebut sekitar 80 persen pelanggannya berasal dari lembaga. Menjelang berbagai agenda karnaval Agustusan, setidaknya delapan lembaga di Lamongan telah memesan kostum.
Pesanan bahkan datang dari luar Kabupaten Lamongan, mulai dari Gresik, Tuban, Bojonegoro hingga Nganjuk.
Harga Mulai Rp100 Ribu, Kostum Jumbo Bisa Tembus Rp2 Juta
Soal harga, pilihan kostum cukup beragam.
Kostum adat sederhana dibanderol mulai sekitar Rp100 ribu. Sementara kostum karnaval dengan desain khusus berada di kisaran Rp500 ribu hingga lebih dari Rp2 juta.
Semakin rumit desain dan semakin besar ukuran replika, semakin tinggi pula biaya produksinya.
Kostum berbentuk replika burung enggang atau konsep yang membutuhkan konstruksi besar menjadi salah satu produk dengan harga paling tinggi.
Ramainya pesanan membuat omzet usaha Wijayanti pada musim Agustusan mampu mencapai ratusan juta rupiah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kemeriahan karnaval bukan hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Di balik gemerlap kostum dan parade, ada perputaran ekonomi yang ikut bergerak.
Pesanan Naik, Kreativitas Ikut Dipacu
Untuk kostum sederhana, Wijayanti masih bisa mengerjakannya sendiri. Tetapi ketika pesanan masuk dengan desain yang lebih kompleks, ia harus menggandeng pengrajin untuk membantu proses produksi.
Bagi Wijayanti, kreativitas menjadi modal utama.
Setiap tahun, tren kostum berubah. Apa yang dianggap menarik tahun ini belum tentu menjadi favorit pada perayaan berikutnya.
Karena itu, pelaku usaha harus mampu membaca keinginan pelanggan sekaligus berani menciptakan desain baru.
Menariknya, geliat usaha tersebut tidak hanya berdampak pada Wijayanti. Ketika pesanan meningkat dan produksi membutuhkan tenaga tambahan, pengrajin lain pun ikut mendapatkan pekerjaan.
Rantai ekonominya pun melebar.
Karnaval Bukan Cuma Hiburan
Di tengah derasnya tren hiburan digital, karnaval Agustusan masih memiliki daya tarik tersendiri.
Warga turun ke jalan, mengenakan kostum unik, membawa identitas budaya, dan merayakan kemerdekaan bersama-sama.
Bagi Wijayanti, tradisi tersebut memiliki makna yang lebih jauh daripada sekadar mencari tontonan menarik.
“Kalau event karnaval terus berlanjut, harapannya bisa ikut menumbuhkan rasa nasionalisme masyarakat tentang kemerdekaan, sekaligus menggerakkan UMKM,” katanya.
Karnaval akhirnya menjadi ruang pertemuan tiga hal sekaligus: semangat kemerdekaan, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi.
Di Lamongan, warna-warni kostum yang memenuhi jalanan pada bulan Agustus ternyata menyimpan cerita lain di baliknya.
Ada tangan-tangan kreatif yang bekerja hingga larut, ada pengrajin yang ikut mendapatkan pesanan, dan ada UMKM yang menemukan momentum untuk meningkatkan omzet.
Sebab, ketika masyarakat bersiap merayakan kemerdekaan dengan meriah, pelaku UMKM seperti Wijayanti juga sedang merayakan satu bentuk kemerdekaan lainnya: kesempatan untuk tumbuh dari kreativitas sendiri. (rm)



