Sunday, September 6, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ultraman Ikut “Bertarung” di Bengawan Mati, Tim Sidoarjo Bawa Pulang Gelar Juara Festival Dayung Tejoasri Lamongan

RONGGOHADI, LAMONGAN – Ada yang berbeda di Bengawan Mati, Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Minggu (9/8/2026). Deru kayuhan perahu berpacu dengan riuh penonton, sementara sosok Ultraman tiba-tiba ikut “turun gelanggang” di atas perahu.

Pemandangan tak biasa itu menjadi salah satu warna menarik dalam Festival Dayung Tejoasri ke-4, ajang olahraga perahu tradisional yang tahun ini mempertemukan 32 tim dayung dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Sejak pagi, tepian Bengawan Mati sudah dipenuhi masyarakat. Warga berjejer di sepanjang bantaran sungai, menyaksikan para pedayung memacu perahu secepat mungkin menuju garis finis.

Di tengah ketegangan persaingan antartim, kemunculan peserta berkostum Ultraman justru mencuri perhatian. Karakter superhero tersebut ikut berada di atas perahu dan membuat festival olahraga tradisional ini terasa semakin meriah.

Bagi masyarakat, Festival Dayung Tejoasri bukan lagi sekadar perlombaan. Ia telah berubah menjadi tontonan yang menyatukan olahraga, hiburan, budaya, sekaligus aktivitas warga.

Empat Tahun Berjalan, Festival Dayung Tejoasri Makin Berwarna

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang hadir langsung mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam festival tersebut.

Menurutnya, penyelenggaraan yang sudah memasuki tahun keempat menunjukkan adanya perkembangan dari waktu ke waktu, baik dari sisi penampilan maupun kualitas pertandingan.

“Antusiasme masyarakat sangat tinggi karena hari ini adalah Festival Dayung yang keempat. Dari setiap tahun festival ini ada sesuatu yang baru dan diperbaiki, baik dari sisi penampilan maupun kualitas pertandingan yang semakin baik,” ujar Yuhronur.

Perkembangan tersebut menjadi modal penting bagi Festival Dayung Tejoasri untuk terus tumbuh sebagai salah satu event olahraga tradisional yang memiliki karakter kuat.

Apalagi, Bengawan Mati yang menjadi lokasi perlombaan menawarkan suasana berbeda dibanding arena olahraga pada umumnya.

Lintasan air, bantaran sungai, sorak penonton, hingga kreativitas peserta membuat festival ini memiliki daya tarik visual yang kuat.

Final Sengit, Sidoarjo Tundukkan Tuan Rumah

Keseruan festival akhirnya mencapai puncak di babak final.

Dua tim terbaik harus saling mengerahkan kemampuan untuk menjadi yang tercepat. Tim Desa Jumputrejo, Kabupaten Sidoarjo, akhirnya berhasil keluar sebagai juara setelah menaklukkan tim tuan rumah Desa Pupus Blawi, Kabupaten Lamongan.

Gelar tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Festival Dayung Tejoasri mampu menarik persaingan dari luar Lamongan.

Bagi tim-tim peserta, ajang ini menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan. Bagi masyarakat, perlombaan menjadi hiburan yang bisa dinikmati bersama.

Dan bagi Desa Tejoasri, festival tersebut menjadi panggung untuk memperkenalkan potensi wilayahnya kepada masyarakat yang datang dari berbagai daerah.

Berpeluang Naik Kelas Jadi Agenda Jawa Timur

Potensi Festival Dayung Tejoasri rupanya mulai dilirik lebih jauh.

Kepala Desa Tejoasri, Yusuf Bachtiar, menyatakan pihaknya terbuka apabila Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian lebih dan mendorong festival tersebut menjadi agenda tingkat provinsi.

“Kita selalu terbuka. Misalkan Pemprov melirik Desa Tejoasri untuk dijadikan agenda tahunan, Desa Tejoasri menyambut baik agenda itu. Terkait hal-hal lain nanti mungkin kita mengikuti apa yang menjadi petunjuk Pemprov Jatim,” tutur Yusuf.

Wacana tersebut tentu bisa menjadi lompatan besar bagi festival yang kini memasuki tahun keempat.

Namun, jika ingin naik kelas, penyelenggaraan juga harus semakin profesional.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur, Muhammad Hadi Wawan Guntoro, menilai Festival Dayung Tejoasri memiliki potensi untuk berkembang sebagai bagian dari sport tourism sekaligus upaya melestarikan olahraga tradisional.

Menurutnya, diperlukan standar penyelenggaraan yang jelas agar festival tidak berhenti sebagai kegiatan olahraga berbasis masyarakat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pembinaan prestasi.

“Sponsornya juga harus ditata. Nantinya perlu ada standar penyelenggaraan yang jelas. Dengan begitu, festival ini tidak hanya menjadi olahraga yang tumbuh dari masyarakat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pembinaan prestasi,” ungkap Hadi Wawan.

Dari Kayuhan Perahu hingga Perputaran Ekonomi

Festival Dayung Tejoasri juga membawa dampak yang lebih luas.

Keramaian di sekitar Bengawan Mati memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan pedagang lokal untuk ikut mendapatkan manfaat dari kedatangan masyarakat.

Kuliner, jajanan, hingga berbagai aktivitas ekonomi warga ikut bergerak seiring meningkatnya jumlah pengunjung.

Di sisi lain, festival ini turut memperkenalkan Bengawan Mati sebagai salah satu potensi wisata lokal Lamongan.

Jika dikembangkan secara konsisten, perpaduan antara olahraga tradisional, hiburan, budaya, dan UMKM bisa menjadi kekuatan utama Festival Dayung Tejoasri.

Apalagi, kehadiran Ultraman di tengah perlombaan menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat mampu memberikan warna baru pada olahraga tradisional.

Bengawan Mati hari itu bukan cuma tentang siapa yang paling cepat mengayuh perahu.

Ia menjadi cerita tentang bagaimana sebuah desa mengubah sungai menjadi panggung, olahraga menjadi tontonan, dan keramaian menjadi peluang ekonomi.

Dan jika rencana menjadikannya agenda tingkat Jawa Timur benar-benar terwujud, bukan tidak mungkin Festival Dayung Tejoasri akan menjadi salah satu ikon sport tourism baru dari Lamongan. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles