RONGGOHADI, LAMONGAN – Menanggapi berbagai isu strategis terkait distribusi energi pasca-Lebaran dan situasi geopolitik global, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan informasi hoaks.
Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, menekankan pentingnya efisiensi energi yang produktif tanpa harus mengorbankan roda ekonomi.
Efisiensi Tanpa Membatasi Produktivitas
Terkait tren sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang beralih menggunakan sepeda sebagai bentuk penghematan, Ahad memberikan apresiasi positif. Namun, ia menggarisbawahi bahwa penghematan energi harus dilakukan secara cerdas.
“Hemat itu tidak berarti membatasi kegiatan ekonomi atau menurunkan produktivitas. Kuncinya adalah menggunakan energi secara efisien dan mengendalikan pemakaian agar cukup untuk kebutuhan, terutama di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini,” ujar Ahad.
Meluruskan Isu Kenaikan Harga BBM
Menanggapi simpang siur informasi mengenai kenaikan harga BBM per 1 April, Ahad menjelaskan adanya perbedaan mendasar antara BBM Subsidi dan Non-Subsidi:
- BBM Non-Subsidi (Pertamax, Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dex Series): Penyesuaian harga dilakukan secara periodik mengikuti harga minyak dunia dan nilai tukar mata uang asing. Hal ini lumrah terjadi dan bisa mengalami kenaikan maupun penurunan.
- BBM Subsidi (Pertalite dan Biosolar): Penetapan harga sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Hingga saat ini, belum ada informasi mengenai perubahan harga untuk jenis BBM subsidi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying. Stok kami pastikan aman dan tersedia di seluruh lembaga penyalur,” tegasnya.
Waspada Penimbunan LPG di Level Pengecer
Ahad juga menyoroti keresahan masyarakat terkait harga LPG 3kg yang melambung di tingkat pengecer. Ia menjelaskan bahwa jalur distribusi resmi Pertamina berakhir di Pangkalan, bukan pengecer.
“Pangkalan resmi ditandai dengan papan nama hijau yang mencantumkan Harga Eceran Tertinggi (HET) serta nomor pengaduan. Di luar itu (pengecer), tidak ada regulasi yang mengatur harga, sehingga sering dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan pribadi,” jelasnya.
Pertamina telah bekerja sama dengan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk menertibkan pelaku penimbunan, seperti yang sempat terjadi di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.
Pesan untuk Masyarakat
Menutup keterangannya, Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus meminta masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar di media sosial atau grup WhatsApp.
- Beli sesuai kebutuhan: Jangan menimbun atau membeli di luar kewajaran.
- Cek kanal resmi: Gunakan informasi dari sumber terverifikasi untuk menghindari hoaks.
- Pastikan stok aman: Pertamina terus memonitor ketersediaan BBM, LPG, hingga Avtur di seluruh wilayah operasional.
“Tetap tenang, jalankan aktivitas seperti biasa, dan mari kita gunakan energi secara bijak demi kelancaran sektor-sektor strategis negara kita,” pungkas Ahad. (rm)



