Thursday, April 16, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Di Tengah Banjir Konten Digital, Radio Justru Jadi “Benteng Terakhir” Informasi Sehat di Jawa Timur

RONGGOHADI, LAMONGAN – Di era ketika informasi datang tanpa jeda dari berbagai platform digital, peran radio dan lembaga penyiaran justru semakin menemukan relevansinya. Bukan sekadar menyampaikan kabar, media penyiaran kini diposisikan sebagai penjaga kualitas ruang publik—bahkan menjadi “benteng terakhir” dalam melawan hoaks dan menjaga ketenangan masyarakat.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Timur, Royin Fauziana, menegaskan bahwa fungsi penyiaran hari ini tidak lagi sebatas informasi dan hiburan. Lebih dari itu, penyiaran memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kedaulatan informasi.

“Lembaga penyiaran harus memastikan setiap informasi yang disampaikan tidak menimbulkan keresahan, apalagi mengandung unsur hoaks. Ini menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Menurutnya, media penyiaran di Jawa Timur sejauh ini masih menunjukkan komitmen kuat terhadap kepentingan publik. Hal ini terlihat dari konsistensi dalam menghadirkan konten yang edukatif, informatif, sekaligus menghibur—tanpa mengabaikan nilai-nilai sosial yang berlaku.

Radio: Penjernih Informasi di Tengah Kebisingan Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap tak terverifikasi, radio justru hadir sebagai penjernih. Dengan regulasi yang ketat seperti Undang-Undang Penyiaran, P3SPS, hingga PKPI, setiap siaran dituntut melalui proses seleksi yang bertanggung jawab.

Berbeda dengan media sosial yang cenderung bebas, radio memiliki batasan jam tayang, segmentasi usia, hingga standar isi siaran. Hal ini menjadikan radio relatif lebih aman, terutama bagi anak-anak dan keluarga.

“Radio masih sangat ramah lingkungan dalam arti kontennya terjaga. Ada aturan yang jelas, ada pengawasan. Ini yang membuatnya tetap dipercaya,” tambah Royin.

Bukan Sekadar Siaran, Tapi Alat Pemersatu Bangsa

Menariknya, fungsi radio sebagai alat pemersatu bangsa juga kembali ditekankan. Tidak hanya dalam momentum besar seperti hari kemerdekaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Radio dinilai mampu menjadi ruang bersama yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat melalui informasi yang jernih dan berimbang.

“Peran radio sebagai alat pemersatu bangsa itu masih sangat relevan. Ia menjadi ruang publik yang sehat dan inklusif,” jelasnya.

Tantangan Digital: Adaptif Tanpa Kehilangan “Ruh”

Transformasi digital memang tak terhindarkan. Banyak radio kini telah merambah ke platform digital—mulai dari streaming, media sosial, hingga podcast. Namun, Royin mengingatkan agar transformasi ini tidak menghilangkan “ruh penyiaran”.

“Teknologi boleh berubah, dari analog ke digital, dari terestrial ke multiplatform. Tapi nilai dasar penyiaran—integritas, kualitas, dan tanggung jawab—harus tetap dijaga,” ujarnya.

Literasi Jadi Kunci, Kolaborasi Jadi Jalan

Di tengah maraknya konsumsi konten digital oleh anak-anak, literasi media menjadi hal krusial. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada anak, tetapi juga kepada orang tua dan tenaga pendidik.

Namun, upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi antara lembaga penyiaran, pemerintah, sekolah, hingga masyarakat menjadi kunci utama.

“Kami sangat mengapresiasi lembaga penyiaran yang sudah aktif berkolaborasi untuk edukasi dan literasi media. Ini langkah penting,” katanya.

Pesan untuk Radio dan Pendengar

Menutup pernyataannya, Royin menyampaikan dua pesan penting. Pertama, kepada radio di Jawa Timur agar terus beradaptasi dengan digitalisasi tanpa meninggalkan kualitas siaran.

Kedua, kepada masyarakat sebagai pendengar untuk ikut aktif mengawal isi siaran.

“Kalau ada siaran yang tidak pantas, jangan diam. Mari kita jaga bersama agar penyiaran tetap sehat dan berkualitas,” pungkasnya. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles