Thursday, May 21, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Dari Sepeda Motor Tua ke Tanah Suci: Kisah Haru Pasutri Penjual Ikan Lamongan Menjemput Panggilan Haji

RONGGOHADI, LAMONGAN – Di tengah riuh kehidupan pasar dan aroma laut yang melekat di setiap harinya, siapa sangka mimpi besar bisa tumbuh dari hal sederhana: menyisihkan uang receh dengan penuh keyakinan.

Adalah Mulyono (48) dan Wiwik Mujiyati (43), pasangan suami istri asal Desa Kemlagigede, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, yang tahun ini akhirnya akan menunaikan ibadah haji—setelah perjalanan panjang penuh kesabaran.

Menabung dari Receh, Menjemput Mimpi Besar

Berbeda dari kisah kebanyakan, perjalanan mereka menuju Baitullah tidak dimulai dari kemapanan, melainkan dari keterbatasan.

Sejak tahun 2005, Mulyono sudah menanamkan niat untuk berangkat haji. Bersama sang istri, ia mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil berjualan ikan—pekerjaan dengan penghasilan yang tidak menentu.

Setiap hari, mereka menyisihkan uang antara Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.

“Yang penting konsisten dan ikhlas,” ujar Mulyono.

Kala itu, mereka belum memiliki lapak tetap. Sepeda motor tua menjadi saksi perjuangan, mengantar mereka berkeliling menjajakan ikan dari kampung ke kampung.

7 Tahun Menabung, 14 Tahun Menunggu

Kesabaran menjadi kunci dalam perjalanan ini. Setelah tujuh tahun menabung tanpa henti, pada tahun 2012 mereka akhirnya mampu mendaftarkan diri untuk mendapatkan porsi haji.

Namun perjuangan belum selesai.

Mereka masih harus menunggu antrean selama kurang lebih 14 tahun—sebuah penantian panjang yang menguji keimanan dan keteguhan hati.

“Alhamdulillah, tahun ini panggilan itu datang. Kami sempat tidak menyangka,” ungkap Wiwik dengan mata berbinar.

Lebih dari Sekadar Perjalanan Fisik

Menjelang keberangkatan, berbagai persiapan telah dilakukan, mulai dari manasik haji hingga menjaga kondisi fisik.

Namun bagi Mulyono dan Wiwik, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang telah mereka bangun selama hampir dua dekade.

Di sana, mereka hanya memiliki satu tujuan: beribadah dengan khusyuk.

“Doa kami sederhana, semoga keluarga diberi kesehatan, keberkahan, dan rezeki yang lancar,” tambah Wiwik.

Ketika Mimpi Tidak Ditentukan oleh Keadaan

Kisah pasangan ini menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak selalu membutuhkan langkah besar—cukup langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Dari hasil jualan ikan, dari sepeda motor tua, dari tabungan harian yang mungkin dianggap sepele—lahirlah sebuah perjalanan suci yang kini tinggal menghitung hari.

Inspirasi dari Lamongan untuk Indonesia

Di saat banyak orang menunda mimpi karena merasa belum cukup mampu, Mulyono dan Wiwik justru membuktikan sebaliknya: bahwa kemampuan bisa dibangun dari kebiasaan kecil.

Kisah ini bukan hanya tentang ibadah haji, tetapi tentang ketekunan, kesabaran, dan keyakinan.

Bahwa rezeki bukan soal besar kecilnya penghasilan, tapi bagaimana cara kita mengelolanya. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles