RONGGOHADI, LAMONGAN – Peringatan Hari Kartini tahun ini menghadirkan refleksi yang lebih dalam, terutama dari dunia pendidikan. Di tengah semangat emansipasi yang terus digaungkan, seorang kepala sekolah di Lamongan justru memilih langkah sederhana namun berdampak besar: menanamkan kesetaraan sejak usia dini.
Adalah Uswatun, Kepala Sekolah MI Ma’arif NU Sunan Drajat (MIUS), yang memaknai Kartini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan energi hidup dalam membentuk generasi masa depan.
Perempuan, Pilar yang Tak Terlihat Tapi Terasa
Dalam pandangannya, perempuan memegang peran yang sangat fundamental dalam pendidikan. Bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping utama anak-anak dalam meraih mimpi.
“Perempuan itu ibarat bensin dalam kehidupan. Tanpa itu, perjalanan pendidikan terasa berat,” ungkapnya.
Pernyataan ini menggambarkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan, baik di rumah maupun di sekolah.
Tantangan Nyata: Membagi Waktu, Menjaga Peran
Di balik perannya sebagai pemimpin sekolah, Uswatun juga menjalani peran sebagai ibu dan istri. Tantangan terbesar yang ia rasakan bukan pada kemampuan, tetapi pada pengelolaan waktu.
“Kuncinya ada di manajemen waktu. Kapan harus jadi ibu, kapan harus fokus sebagai pendidik,” jelasnya.
Realitas ini menjadi potret perjuangan perempuan masa kini—menjalankan banyak peran sekaligus tanpa kehilangan arah.
Kesetaraan Gender Dimulai dari Bangku Kelas
Alih-alih hanya menjadi wacana, konsep kesetaraan gender di MI Ma’arif NU Sunan Drajat diterapkan langsung dalam aktivitas sehari-hari siswa.
Dalam organisasi kelas, tidak ada pembatasan peran berdasarkan gender. Siswa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin, sekretaris, maupun anggota.
“Kami tidak membeda-bedakan. Anak perempuan juga harus punya ruang untuk tampil dan berkembang,” tegasnya.
Pendekatan ini menjadi langkah strategis dalam membentuk pola pikir anak sejak dini bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh gender.
Perempuan dan Kekuatan Empati Sosial
Lebih jauh, Uswatun melihat perempuan memiliki keunggulan dalam aspek sosial—yakni empati.
Menurutnya, banyak kegiatan sosial di masyarakat justru lebih aktif digerakkan oleh perempuan, mulai dari kegiatan PKK hingga aksi sosial lainnya.
“Perempuan itu punya rasa empati tinggi. Kalau punya visi, dampaknya bisa luar biasa,” katanya.
Hal ini memperkuat posisi perempuan sebagai agen perubahan sosial yang tidak hanya berpikir, tetapi juga bergerak.
Pesan untuk Generasi Muda: Niat Adalah Kunci
Dalam momen Hari Kartini ini, ia juga menitipkan pesan penting bagi para pelajar, khususnya perempuan.
“Tidak ada yang sulit kalau niat kita benar. Komitmen itu yang utama,” pesannya.
Pesan sederhana ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju kesuksesan dimulai dari dalam diri sendiri.
Kartini Masa Kini, Lahir dari Pendidikan
Di tengah arus perubahan zaman, semangat Kartini tidak lagi hanya tentang membuka akses pendidikan, tetapi bagaimana memastikan setiap anak—baik laki-laki maupun perempuan—memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Apa yang dilakukan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat menjadi contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil: dari ruang kelas, dari cara berpikir, dan dari keberanian untuk tidak membeda-bedakan.
Karena pada akhirnya, Kartini masa kini bukan hanya mereka yang berbicara tentang kesetaraan—tetapi mereka yang benar-benar mewujudkannya. (rm)



