Thursday, May 21, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Mahasiswa Zaman Now: Aktif di Dunia Nyata Menurun, ‘Hidup’ di Dunia Maya Meningkat? Ini Kata Dosen Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

RONGGOHADI, LAMONGAN – Fenomena perubahan perilaku mahasiswa pasca pandemi kini semakin terasa. Jika dulu kampus identik dengan diskusi panas, aksi sosial, hingga aktivitas organisasi yang padat, kini wajah itu mulai bergeser—lebih sunyi di ruang nyata, namun ramai di dunia digital.

Hal ini disampaikan oleh Rodli, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, yang melihat langsung perubahan karakter mahasiswa dari waktu ke waktu.

Menurutnya, ada dua “tipikal klasik” mahasiswa yang dulu sangat terlihat: mahasiswa aktivis dan mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah-pulang). Namun, pasca pandemi COVID-19, garis itu semakin kabur.

“Sekarang ada pergeseran besar. Mahasiswa cenderung lebih menikmati aktivitas di dunia maya daripada terlibat langsung dalam organisasi atau forum diskusi di kampus,” ujarnya.

Dari Diskusi Kampus ke Scroll Media Sosial

Perubahan ini tak lepas dari digitalisasi yang semakin masif. Jika dulu mahasiswa mencari hiburan dan wawasan lewat forum diskusi, teater, atau konser, kini semuanya bisa diakses lewat layar ponsel.

Akibatnya, ruang-ruang intelektual di kampus perlahan kehilangan daya tariknya.

“Sekarang lebih asyik scrolling media sosial. Respon terhadap isu juga cepat, tapi seringkali tidak melalui proses diskusi yang mendalam,” jelasnya.

Fenomena ini memunculkan generasi yang kritis—namun lebih vokal di kolom komentar daripada di ruang diskusi nyata.

Tantangan Baru Dunia Pendidikan

Bagi para dosen, perubahan ini menjadi tantangan tersendiri. Adaptasi terhadap teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

“Digitalisasi itu keniscayaan. Mau tidak mau, kami juga harus masuk ke sana. Pembelajaran sekarang banyak berbasis konten digital, video, dan kreativitas mahasiswa,” tambahnya.

Khusus di bidang sastra dan film, mahasiswa justru diarahkan untuk memanfaatkan dunia digital sebagai ruang ekspresi—mulai dari produksi konten hingga storytelling berbasis visual.

Kuliah Bukan Sekadar Cari Kerja

Di tengah fenomena banyaknya lulusan yang bekerja tidak sesuai jurusan, Rodli menegaskan bahwa makna kuliah tidak boleh disempitkan hanya untuk mencari pekerjaan.

“Kuliah itu membuka pola pikir. Bukan sekadar jadi guru kalau dari FKIP, tapi bisa jadi penyiar, penulis, kreator, bahkan membuka usaha sendiri,” tegasnya.

Ia juga menyinggung berbagai program pemerintah seperti beasiswa pendidikan yang mendorong akses kuliah lebih luas, termasuk program “satu keluarga satu sarjana”.

Menurutnya, keberadaan satu sarjana dalam keluarga bisa menjadi titik balik peningkatan ekonomi dan pola pikir.

Mahasiswa, Antara Nyata dan Maya

Meski aktivitas fisik di kampus menurun, bukan berarti mahasiswa kehilangan kepedulian. Mereka tetap kritis—hanya medianya yang berubah.

Namun, tanpa proses diskusi dan pendalaman, respons yang muncul kerap dangkal dan reaktif.

Di sinilah peran kampus menjadi penting: mengembalikan keseimbangan antara kecerdasan digital dan kedalaman berpikir.

Refleksi: Kampus Masih Relevan?

Perubahan zaman memang tak bisa dihindari. Namun pertanyaannya, apakah kampus akan ikut berubah atau justru kehilangan ruhnya?

Di tengah derasnya arus digital, kampus tetap punya satu keunggulan yang tak tergantikan: ruang interaksi nyata, tempat ide diuji, diperdebatkan, dan dipertajam.

Dan mungkin, di situlah masa depan mahasiswa seharusnya dibentuk—bukan hanya cepat bereaksi, tapi juga mampu berpikir. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles