Ronggohadi, Lamongan – Memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2026, Ahmad Habib Salahudin, atau lebih akrab di sapa Pak Habib guru MA Matholiul Anwar Simo, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan. Saat berbincang melalui sambungan telepon Radio Ronggohadi Pak Habib mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Hari Anak Nasional sebagai momentum memperkuat perlindungan, pendidikan, dan pembentukan karakter generasi muda.
Menurut Ahmad Habib Salahudin, Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak untuk tumbuh, berkembang, belajar, serta memperoleh perlindungan di lingkungan yang aman dan nyaman.
“Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh, berkembang, belajar, dan mendapatkan perlindungan. Khususnya di jenjang SMA atau MA, peserta didik sedang berada pada fase penting dalam membentuk jati diri dan mempersiapkan masa depan. Karena itu pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan berpikir kritis,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi remaja saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Pesatnya perkembangan teknologi membuat siswa memiliki akses informasi yang sangat luas sehingga menuntut mereka untuk lebih bijak dalam memanfaatkannya.
“Dulu dengan sekarang tentu sangat berbeda. Anak-anak sekarang hidup berdampingan dengan teknologi digital. Informasi bisa diperoleh dengan sangat cepat. Karena itu mereka harus memiliki pola pikir yang kreatif, mampu beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman,” katanya.
Pak Habib menilai dunia pendidikan memiliki peran besar dalam membimbing peserta didik agar mampu menggunakan media sosial dan teknologi secara bertanggung jawab. Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya memberikan materi pelajaran, tetapi juga harus menyediakan pendampingan kepada siswa agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), secara bijak.
“Jika sekolah tidak memberikan pendampingan, dampaknya bisa negatif. Oleh karena itu guru harus hadir membimbing siswa agar mampu menggunakan media digital untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri,” ujarnya.
Dalam membangun hubungan dengan peserta didik, Habib menekankan bahwa guru tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga harus menjadi pendengar yang baik.
“Guru harus menjadi sahabat bagi siswa. Ketika guru mau mendengarkan kebutuhan, keluh kesah, maupun permasalahan mereka, maka siswa akan merasa nyaman. Sekolah akan menjadi rumah kedua bagi mereka, tempat yang aman untuk belajar dan berkembang,” tuturnya.
Ia juga menyoroti persoalan bullying yang hingga kini masih menjadi perhatian di lingkungan sekolah. Menurutnya, pencegahan harus lebih diutamakan daripada penanganan setelah kasus terjadi.
“Sekolah harus membangun budaya saling menghargai perbedaan. Selain memberikan edukasi tentang dampak bullying, sekolah juga perlu menyediakan ruang pengaduan dan pendampingan bagi korban maupun pelaku. Semua pihak harus serius agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pak Habib menekankan pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam mendidik remaja. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.
“Orang tua jangan sampai sepenuhnya menyerahkan pendidikan kepada sekolah. Anak perlu pendampingan di rumah. Apa yang diajarkan guru di sekolah harus dilanjutkan oleh orang tua di rumah. Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua akan melahirkan pendidikan yang maksimal dan membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan berkarakter,” jelasnya.
Ia berharap sinergi tersebut terus diperkuat sehingga anak-anak tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang memiliki akhlak baik, mampu menghadapi tantangan zaman, serta siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Menutup perbincangan, Ahmad Habib Salahudin mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Anak Nasional sebagai momentum bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, bebas dari perundungan, dan penuh kasih sayang bagi setiap anak.
“Anak-anak adalah investasi masa depan bangsa. Mari kita jaga bersama, kita dampingi, dan kita berikan ruang untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan,” pungkasnya. (zay)



