Sunday, August 16, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Duka Pendaki Gunung Piramid Berakhir di Lamongan, Maliya Finda Dimakamkan di Kampung Halaman Babat

RONGGOHADI, LAMONGAN – Perjalanan panjang penuh harap akhirnya berujung duka. Setelah proses pencarian dan evakuasi dramatis di lereng curam Gunung Piramid, Bondowoso, jenazah Maliya Finda (51) akhirnya tiba di rumah duka di Surabaya pada Kamis (6/8/2026) dini hari. Sesuai keputusan keluarga, almarhumah kemudian diberangkatkan menuju kampung halamannya di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, untuk dimakamkan di pemakaman umum setempat.

Kepergian perempuan yang dikenal sebagai sosok ramah dan gemar mendaki gunung itu meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga sahabat serta masyarakat yang mengikuti proses pencarian selama dua hari terakhir.

Jenazah Tiba Dini Hari, Langsung Disemayamkan Sebelum Dibawa ke Lamongan

Ambulans milik RS Bhayangkara Bondowoso yang membawa jenazah Maliya Finda tiba di kediamannya di kawasan Jalan Cipunegara, Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, sekitar pukul 01.15 WIB dengan pengawalan Satlantas Polres Bondowoso.

Suasana haru langsung menyelimuti rumah duka. Sejak beberapa hari sebelumnya, puluhan anggota keluarga, kerabat, hingga tetangga telah berkumpul menanti kepulangan almarhumah.

Deretan karangan bunga belasungkawa memenuhi sisi jalan menuju rumah duka, sementara tenda duka berdiri sebagai tempat para pelayat memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan yang akrab disapa Hajah Finda.

Dimakamkan di Babat, Tempat Keluarga Besar Berkumpul

Keluarga memutuskan memakamkan Maliya Finda di Kabupaten Lamongan karena sebagian besar keluarga besarnya berasal dan tinggal di Kecamatan Babat.

Jenazah hanya disemayamkan beberapa jam di Surabaya untuk proses pemulasaraan, mulai dari memandikan, mengafani, hingga salat jenazah sebelum diberangkatkan menuju Lamongan.

Salah satu tetangga korban, Heri, mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil musyawarah keluarga.

“Nanti pagi langsung dibawa ke Lamongan. Beliau anak kedua dari lima bersaudara. Keluarga besar ada di sana semua, rencananya dimakamkan di sana,” ujarnya.

Hal senada disampaikan keponakan korban, Riris, yang menjelaskan bahwa rumah di Surabaya hanya menjadi lokasi persinggahan sebelum perjalanan terakhir menuju tanah kelahiran almarhumah.

Dua Minggu Lalu Baru Menjadi Nenek

Di balik sosoknya yang aktif mendaki gunung, Maliya Finda ternyata baru saja menikmati kebahagiaan menjadi seorang nenek.

Menurut keluarga, putri semata wayangnya baru melahirkan sekitar dua pekan lalu, sehingga kepergian almarhumah menjadi pukulan berat bagi keluarga yang tengah berbahagia menyambut anggota baru.

Tak sedikit pelayat yang tampak menitikkan air mata saat mengenang sosok perempuan yang dikenal sederhana, murah senyum, dan ringan tangan membantu siapa saja.

Tetangga Kehilangan Sosok Dermawan

Bagi warga sekitar, Maliya Finda bukan hanya seorang tetangga biasa.

Ia dikenal sebagai pribadi yang selalu hadir ketika ada warga yang mengalami musibah. Bahkan, banyak warga mengenang kebaikannya yang kerap membantu tanpa diminta.

Anton Kurniawan, tetangga depan rumah korban, mengaku masih mengingat perjumpaan terakhir mereka pada Jumat pagi sebelum almarhumah berangkat mendaki.

Saat itu, Maliya berpamitan sambil membawa tas carrier dan menaiki ojek online menuju titik keberangkatan.

“Beliau masih sempat menyapa kami seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun kalau itu menjadi pertemuan terakhir,” kenangnya.

Sementara Heri mengingat bagaimana almarhumah pernah datang memberikan dukungan kepada keluarganya saat sedang berduka.

“Beliau orangnya sangat baik. Saat keluarga kami berduka, beliau datang membawa bantuan. Itulah yang selalu kami ingat,” katanya.

Evakuasi Dramatis Selama 13 Jam di Gunung Piramid

Maliya Finda ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh di kawasan Punggung Naga Gunung Piramid, Kabupaten Bondowoso.

Dalam tragedi tersebut, seorang pemandu lokal bernama Irfan Nasrul Laili (35) juga meninggal dunia ketika membantu proses pendakian.

Proses evakuasi kedua korban berlangsung sangat berat. Medan ekstrem, jurang curam, kabut tebal, dan cuaca yang terus berubah membuat Tim SAR Gabungan membutuhkan waktu sekitar 13 jam untuk mengangkat jenazah dari lokasi kejadian.

Operasi penyelamatan sendiri berlangsung selama dua hari, melibatkan berbagai unsur relawan, Basarnas, kepolisian, TNI, hingga komunitas pencinta alam.

Pendakian yang Berakhir Duka

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa keindahan alam pegunungan selalu berdampingan dengan risiko yang tidak kecil.

Gunung Piramid dikenal memiliki jalur ekstrem dengan kontur tebing curam yang menuntut kesiapan fisik, pengalaman, serta pendampingan yang memadai.

Kini, perjalanan Maliya Finda telah berakhir di tanah kelahirannya, Babat, Lamongan. Di mata keluarga dan para sahabat, ia akan selalu dikenang bukan hanya sebagai pencinta alam, tetapi juga sosok ibu, nenek, dan tetangga yang penuh kepedulian.(rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles