LAMONGAN, RONGGOHADI – Bagi warga desa, jalan bukan sekadar bentangan aspal yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain.
Di atas jalan itulah hasil panen dibawa menuju pasar, anak-anak berangkat sekolah, pedagang mengirim barang, hingga roda ekonomi desa terus berputar.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lamongan kembali menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu senjata untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.
Melalui program Jalan Mantab dan Alus Lamongan (Jamula), Pemkab Lamongan menyiapkan anggaran Rp68,3 miliar dalam APBD 2027.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk menangani 30 ruas jalan antarkecamatan, dua jembatan, serta sembilan titik gorong-gorong.
Program Jamula sendiri merupakan salah satu dari 11 program prioritas Bupati Lamongan Yuhronur Efendi bersama Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara.
Bukan Sekadar Membuat Jalan Lebih Mulus
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan pembangunan jalan memiliki dampak yang jauh lebih luas dibanding sekadar memperbaiki kondisi infrastruktur.
Jalan yang semakin baik akan memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus memudahkan aktivitas masyarakat.
Hal tersebut juga menjadi perhatian Yuhronur saat melakukan inspeksi mendadak atau sidak jalan di Kecamatan Sugio.
“Termasuk sebagai upaya memberikan kenyamanan bagi masyarakat pengguna jalan,” kata Yuhronur.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur juga diarahkan untuk memperlancar mobilitas serta kegiatan ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan.
Sederhananya, ketika jalan tidak lagi menjadi hambatan, hasil bumi dari desa memiliki jalan yang lebih mudah untuk sampai ke pasar.
Warga Sugio Rasakan Dampaknya
Dampak pembangunan jalan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat.
Mahrus, 36, warga Sugio, mengatakan keberadaan program Jamula sejak periode pertama pemerintahan Yuhronur Efendi memberikan manfaat terhadap aktivitas warga.
Salah satunya dalam memperlancar distribusi hasil pertanian.
“Perekonomian makin membaik karena hasil-hasil pertanian dapat dijual tanpa kendala kerusakan jalan. Kami sangat bersyukur dengan adanya program pembangunan jalan yang berjalan secara nyata,” ujar Mahrus.
Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa bagi masyarakat desa, jalan yang baik bisa berarti lebih dari sekadar perjalanan yang nyaman.
Ada biaya distribusi yang lebih terkendali, akses pasar yang lebih terbuka, serta peluang bagi hasil pertanian untuk bergerak lebih cepat.
30 Ruas Jalan dan 34,7 Kilometer Masuk Target
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lamongan, Sugeng Widodo, mengatakan anggaran Rp68,3 miliar pada 2027 akan diarahkan untuk pembangunan dan peningkatan infrastruktur jalan.
Total terdapat 30 ruas jalan antarkecamatan dengan panjang penanganan mencapai 34,7 kilometer.
Sejumlah ruas yang masuk sasaran antara lain:
- Gembong–Dempel di Kecamatan Maduran
- Soko–Karangbinangun
- Deket–Soko
- Sugio–Kedungdadi
- Sumberwudi–Maduran
- Nguwok–Tlanak
Pekerjaan tersebut terdiri atas rekonstruksi jalan sepanjang 19,20 kilometer dan pemeliharaan berkala sepanjang 15,50 kilometer.
Tak hanya jalan, pemerintah juga menyiapkan penanganan terhadap dua jembatan dan sembilan gorong-gorong.
Untuk jembatan, penanganan yang direncanakan mencakup penggantian sepanjang 1.500 meter dan rehabilitasi sepanjang 500 meter.
Jamula Sudah Menyentuh Puluhan Ruas
Program Jamula bukan pekerjaan yang baru dimulai.
Pada tahun sebelumnya, sebanyak 56 ruas jalan dengan total panjang sekitar 40 kilometer telah masuk dalam program peningkatan infrastruktur.
Pekerjaan dilakukan menyesuaikan kondisi masing-masing ruas, mulai dari pelebaran, pengecoran hingga pengaspalan.
Sugeng mengatakan sejumlah pekerjaan tahun 2026 juga masih berjalan dengan progres yang berbeda-beda.
“Dan untuk anggaran 2026 sudah dalam proses semuanya, ada yang sudah 100 persen selesai, masih proses pengecoran, hampir agregat, juga proses penghitungan,” ujar Sugeng.
Keberlanjutan program tersebut menunjukkan bahwa Pemkab Lamongan ingin pembangunan konektivitas dilakukan secara bertahap, bukan berhenti pada satu tahun anggaran.
Ketika Jalan Menjadi Jalan Ekonomi
Pada akhirnya, keberhasilan Jamula tidak hanya akan diukur dari berapa kilometer jalan yang selesai dibangun.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar perubahan yang terjadi setelah jalan tersebut dibenahi.
Apakah petani semakin mudah membawa hasil panen? Apakah waktu tempuh warga menjadi lebih singkat? Apakah distribusi barang semakin lancar? Dan yang tak kalah penting, apakah aktivitas ekonomi di desa ikut bergerak?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan seberapa besar manfaat pembangunan infrastruktur bagi masyarakat.
Dengan anggaran Rp68,3 miliar pada 2027, Pemkab Lamongan kembali menaruh harapan pada Jamula untuk memperkuat konektivitas hingga pelosok.
Sebab di banyak desa, jalan yang mulus bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan menuju pasar, menuju sekolah, menuju pelayanan publik, dan tentu saja menuju peluang ekonomi yang lebih besar. (rm)



