Saturday, September 12, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

15 Kali Ditolak Penerbit, Buku Guru Lamongan Ini Malah Terbit di Malaysia

LAMONGAN, RONGGOHADI – Lima belas kali naskah dikembalikan penerbit. Lima belas kali pula seorang guru dari Lamongan harus menelan kecewa.

Namun, alih-alih berhenti menulis, Aditya Akbar Hakim justru terus memperbaiki tulisannya. Hingga akhirnya, perjalanan panjang itu membawanya ke tempat yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pasar buku Malaysia.

Kisah tersebut bermula dari sebuah desa di Kabupaten Lamongan, tempat Adit bersama istrinya, Faidatur Robiah, membangun sebuah ruang baca sederhana bernama Omah Gemar Maos.

Dari rumah yang penuh buku itu, keduanya tidak hanya mengajak anak-anak membaca. Mereka juga menanamkan keyakinan bahwa siapa pun, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota, tetap punya kesempatan untuk berkarya dan dikenal dunia.

Dari Desa Pangkatrejo, Mimpi Literasi Itu Tumbuh

Memasuki Omah Gemar Maos di Desa Pangkatrejo, Kabupaten Lamongan, suasananya jauh dari kesan perpustakaan formal.

Rak-rak kayu dipenuhi buku. Buku cerita anak berserakan di meja. Anak-anak desa datang untuk membaca, belajar, berdiskusi, hingga mengikuti berbagai kegiatan literasi.

Di salah satu dinding, dua piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Timur terpampang. Penghargaan kategori karya nonfiksi dalam ajang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Creative Camp 2022 tersebut menjadi salah satu jejak perjalanan Adit dan Faidatur dalam dunia pendidikan dan literasi.

Bagi pasangan guru ini, Omah Gemar Maos bukan sekadar tempat menyimpan buku.

Tempat tersebut adalah ruang untuk menyalakan kebiasaan membaca dari lingkungan paling dekat: rumah dan desa.

“Menggerakkan Omah Gemar Maos adalah wujud kecintaan kami yang paling utuh terhadap dunia pendidikan,” ungkap Adit.

Ia dan Faidatur bahkan memiliki mimpi sederhana tetapi penuh makna. Gang di depan rumah mereka suatu hari ingin dikenal sebagai “Jl. Literasi No. A2”.

Bukan demi nama besar.

Melainkan sebagai penanda bahwa gerakan literasi pernah tumbuh dari sebuah sudut desa di Lamongan.

Dari #BacaSampaiTuntas hingga Safari Literasi

Sebagai pendidik sekaligus pegiat literasi, Adit tidak ingin gerakan membaca berhenti di ruang baca miliknya.

Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pengurus Daerah Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (PD GPMB) Kabupaten Lamongan. Peran tersebut dimanfaatkannya untuk bergerak dari satu sekolah ke sekolah lain, menyebarkan pesan bahwa membaca bukan aktivitas untuk sekadar menggugurkan kewajiban.

Di SMA Negeri 2 Lamongan, tempatnya mengabdi, Adit memperkenalkan gerakan #BacaSampaiTuntas.

Pesannya sederhana: kalau sudah mengambil sebuah buku, jangan hanya membaca halaman awal. Baca sampai selesai. Pahami. Renungkan. Lalu ambil sesuatu dari sana.

Di tengah dominasi gawai dan derasnya arus informasi digital, kebiasaan sederhana tersebut justru menjadi tantangan tersendiri.

Namun Adit dan Faidatur memilih untuk terus berjalan.

15 Naskah Ditolak, Satu Buku Mengubah Segalanya

Perjalanan Adit sebagai penulis ternyata jauh dari mulus.

Pada 2016, ketika mulai serius menulis buku, naskah-naskahnya berkali-kali ditolak penerbit.

Tidak tanggung-tanggung, sekitar 15 naskah pernah dikembalikan.

Bagi sebagian orang, penolakan sebanyak itu mungkin sudah cukup menjadi alasan untuk berhenti.

Namun Adit punya alasan lain untuk terus mencoba.

Ada Faidatur di sampingnya.

Sang istri terus memberikan dorongan moral dan keyakinan agar Adit tidak menyerah. Penolakan demi penolakan justru menjadi ruang belajar untuk memperbaiki kualitas tulisan.

Hingga akhirnya, pada tahun yang sama, buku Quantum Belajar berhasil diterbitkan.

Penolakan yang dulu terasa seperti jalan buntu ternyata justru menjadi pintu menuju perjalanan yang lebih panjang.

Ketika Naskah Lamongan Menyeberang ke Negeri Jiran

Titik balik terbesar datang pada 2019.

Naskah Adit berjudul Pengurusan Kewangan Keluarga Dalam Islam mendapatkan perhatian dari penerbit Malaysia, Rimbunan Islamik Media.

Buku yang membahas pengelolaan keuangan keluarga berdasarkan nilai-nilai Islam itu kemudian diterbitkan dan didistribusikan di pasar Malaysia.

Dari Lamongan ke Negeri Jiran.

Bukan karena tinggal di kota besar. Bukan pula karena berada di lingkungan industri penerbitan yang besar.

Tetapi karena sebuah naskah dari seorang guru desa akhirnya menemukan pembacanya di luar negeri.

“Keberhasilan menembus penerbit Malaysia itu memberikan keyakinan besar bagi kami. Itu menjadi pelecut bagi saya dan istri untuk terus konsisten menulis dan membuktikan bahwa dari Bumi Kota Soto, kita bisa memberi warna bagi dunia literasi,” kata Adit.

Istrinya Juga Penulis, Bukan Sekadar Pendamping

Kisah Adit tidak berdiri sendirian.

Di belakang perjalanan tersebut ada Faidatur Robiah, yang juga aktif menulis. Sejak 2016 hingga sekarang, Faidatur telah menghasilkan lebih dari 15 judul buku.

Tema yang digarapnya banyak berkaitan dengan penguatan karakter anak, parenting Islami, dan pendidikan keluarga.

Dengan demikian, rumah tangga mereka bukan hanya tempat berbagi kehidupan, tetapi juga menjadi ruang bertukar gagasan.

Keduanya bahkan berkolaborasi menghasilkan buku Bingkisan Cinta untuk Suami Istri pada 2023.

Buku tersebut menjadi semacam potret hubungan mereka: dua guru, dua penulis, sekaligus dua orang yang memilih berjalan bersama dalam dunia pendidikan dan literasi.

Dari Rak Buku Desa, Menyeberangi Batas Negara

Hari-hari Adit dan Faidatur kini masih diisi rutinitas yang mungkin terlihat sederhana.

Mengajar. Menulis. Melakukan riset. Mendampingi anak-anak membaca di Omah Gemar Maos.

Namun dari rutinitas itulah lahir sesuatu yang jauh lebih besar.

Cerita mereka menunjukkan bahwa desa bukan batas bagi seseorang untuk berkarya.

Lima belas penolakan tidak menjadi akhir. Rak buku sederhana tidak menghalangi mimpi. Dan jarak Lamongan dengan Kuala Lumpur tidak cukup jauh untuk menghentikan sebuah gagasan ketika karya tersebut memang menemukan jalannya.

Di Omah Gemar Maos, anak-anak mungkin baru belajar mengeja satu demi satu halaman buku.

Sementara dari tempat yang sama, dua orang gurunya sedang menunjukkan bahwa sebuah tulisan bisa berjalan lebih jauh dari siapa pun yang menulisnya.

Dari Pangkatrejo, Lamongan, sebuah api kecil bernama literasi telah dinyalakan. Dan ternyata, cahayanya mampu menyeberang sampai Negeri Jiran. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles