LAMONGAN, RONGGOHADI – Operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Perumahan Insani Regency, Desa Sumberejo, Kecamatan Lamongan, akhirnya dihentikan sementara selama dua minggu.
Keputusan tersebut diambil setelah keluhan warga terkait bau limbah dan kebisingan blower berujung pada mediasi bersama pemerintah desa dan pihak pengelola, Kamis (27/8/2026).
Namun, warga menegaskan satu hal penting: mereka tidak menolak program Makan Bergizi Gratis. Persoalan yang mereka soroti adalah dampak operasional dapur terhadap lingkungan tempat tinggal.
Perwakilan Paguyuban Perumahan Insani Regency, Duta Minanda, mengatakan warga berharap keberadaan program pemerintah tetap berjalan, tetapi operasionalnya harus memperhatikan kenyamanan masyarakat sekitar.
“Kami tidak melarang dapur MBG. Tapi kalau operasional menyalahi aturan, kami menyesalkan. Fokus kami IPAL, pembuangan limbah bau, dan blower pada jam istirahat malam,” ujar Duta.
Tiga Masalah Jadi Catatan, Pengelola Siap Benahi
Dari hasil mediasi yang dituangkan dalam berita acara dan ditandatangani sejumlah pihak, terdapat tiga persoalan utama yang harus segera diperbaiki oleh pengelola SPPG.
Pertama, pembenahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan saluran pembuangan. Kedua, relokasi blower agar tidak lagi berada di dekat atau menempel pada dinding rumah warga. Ketiga, penataan lahan fasilitas umum yang berkaitan dengan keberadaan operasional dapur tersebut.
Sebagai bentuk iktikad baik, pihak pengelola sepakat menghentikan seluruh aktivitas operasional dapur selama dua minggu untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh.
Langkah ini menjadi titik penting setelah sebelumnya warga menyampaikan keberatan atas aktivitas dapur MBG yang dinilai menimbulkan gangguan bau serta kebisingan di lingkungan perumahan.
Mitra lapangan SPPG, Angra, menyatakan pihaknya siap bersikap kooperatif dan menyelesaikan persoalan yang menjadi keluhan warga.
“Jika perbaikan tuntas kurang dari dua minggu, kami akan mengundang warga dan pemerintah desa untuk bermusyawarah sebelum operasional dilanjutkan,” jelasnya.
Limbah Tergenang Disebut Jadi Sumber Bau
Dalam proses mediasi, pihak pengelola juga mengakui adanya persoalan genangan limbah pada saluran yang diduga menjadi salah satu sumber munculnya bau tidak sedap.
Persoalan tersebut kini menjadi fokus utama perbaikan.
Warga sebelumnya mengeluhkan aktivitas dapur SPPG yang berada di kawasan Perumahan Insani Regency RT 05 Dusun Kaotan. Keluhan itu tidak hanya berkaitan dengan bau, tetapi juga suara blower yang dinilai mengganggu waktu belajar, beristirahat hingga aktivitas warga pada malam hari.
Keberatan warga secara resmi telah disampaikan kepada Pemerintah Desa Sumberejo sejak 19 Agustus 2026.
Warga juga menyoroti penggunaan fasilitas umum serta meminta operasional SPPG memperhatikan aturan lingkungan dan kenyamanan kawasan permukiman.
Mediasi Jadi Jalan Tengah
Merespons keluhan tersebut, Penjabat Kepala Desa Sumberejo, Suharsono, S.H., kemudian mengundang berbagai pihak untuk duduk bersama dalam forum mediasi di Balai Desa Sumberejo.
Pertemuan itu melibatkan pihak pengelola SPPG, warga, Ketua RT, kepala dusun, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, serta unsur pendukung lainnya.
Mediasi akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk memberikan waktu kepada pengelola melakukan pembenahan.
Jika dalam waktu yang telah disepakati perbaikan belum dilakukan atau tidak ada kejelasan lanjutan, persoalan tersebut berpotensi dibawa kepada instansi terkait, termasuk Badan Gizi Nasional dan Dinas Lingkungan Hidup untuk mendapatkan tindak lanjut administratif.
Warga Tegaskan Dukung MBG, Asal Lingkungan Tetap Nyaman
Yang menarik dari polemik ini, warga menegaskan bahwa keberatan mereka bukan bentuk penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis.
Mereka justru berharap program sosial tersebut dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak penerima manfaat.
Hanya saja, keberadaan dapur MBG di tengah kawasan permukiman diharapkan tidak mengorbankan kenyamanan warga sekitar.
Bagi warga, perbaikan IPAL, pengelolaan limbah, penataan blower, serta kepastian penggunaan lahan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.
Kini, dua minggu ke depan menjadi waktu pembuktian bagi pengelola SPPG Sumberejo Lamongan.
Apabila seluruh perbaikan benar-benar dilakukan dan memenuhi kesepakatan bersama, operasional dapur MBG berpeluang kembali berjalan dengan kondisi yang lebih tertata.
Polemik yang sempat memanas ini pun diharapkan tidak berakhir sebagai konflik antara warga dan pengelola, melainkan menjadi momentum untuk membangun operasional program publik yang lebih ramah lingkungan, tertib, dan tetap berpihak pada kenyamanan masyarakat.
Sebab, program bergizi yang baik tentu harus tumbuh di lingkungan yang juga sehat dan nyaman. (rm)


