LAMONGAN, RONGGOHADI – Delapan hari berada di Lamongan bukan sekadar perjalanan dinas bagi 54 pengurus Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dari 31 provinsi. Mereka datang untuk belajar, melihat langsung bagaimana koperasi dikelola, sekaligus membawa pulang pengalaman yang bisa diterapkan di daerah masing-masing.
Program magang pengurus KDKMP sektor serba usaha yang digelar Kementerian Koperasi tersebut berlangsung pada 23–30 Agustus 2026. Kegiatan dipusatkan di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sunan Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Selama delapan hari, para peserta tidak hanya duduk menerima materi. Mereka diajak melihat langsung unit-unit usaha koperasi, mengikuti studi kunjungan, hingga menjalani praktik on the job training.
Dari ruang teori menuju lapangan, para pengurus dibekali gambaran nyata tentang bagaimana koperasi bisa dikelola secara profesional, produktif, dan tetap memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kementerian Koperasi, Destry Anna Sari, mengatakan pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal penting bagi para pengurus ketika kembali ke daerah.
“Para peserta membawa bekal pembelajaran nyata mengenai pengelolaan koperasi yang profesional, produktif, dan berkelanjutan untuk diterapkan di daerah masing-masing,” kata Destry saat penutupan program magang KDKMP di Lamongan.
Bukan Sekadar Belajar, Tapi Dituntut Berani Berubah
Menurut Destry, keberadaan sumber daya manusia yang mumpuni menjadi salah satu kunci keberhasilan KDKMP.
Pengurus koperasi tidak cukup hanya memahami administrasi dan tata kelola. Mereka juga dituntut mampu membaca peluang, beradaptasi dengan perubahan, serta memiliki jiwa kewirausahaan.
Karena itu, keberhasilan program magang tidak berhenti pada absensi peserta selama delapan hari.
Justru tantangan sebenarnya dimulai ketika para pengurus kembali ke kampung halaman masing-masing.
“Keberhasilan kegiatan magang tidak hanya diukur dari kehadiran selama kegiatan berlangsung, melainkan dari langkah nyata yang lahir setelah peserta kembali ke daerah,” ujarnya.
Beragam materi diberikan selama program berlangsung. Mulai dari regulasi dan kebijakan perkoperasian, tata kelola koperasi, komunikasi antara pengurus dan pengelola, kepemimpinan, kewirausahaan, hingga pemetaan potensi usaha di wilayah masing-masing.
Peserta juga mempelajari pengelolaan keuangan dan pembiayaan, penyusunan proposal bisnis, mitigasi risiko, pengembangan circular business, serta pembangunan ekosistem usaha yang berkelanjutan.
Dengan bekal tersebut, KDKMP diharapkan tidak sekadar menjadi lembaga yang berdiri secara administratif, tetapi mampu menjadi penggerak ekonomi di tingkat desa dan kelurahan.
“Kegiatan magang ini telah berakhir, namun perjalanan memajukan KDKMP baru saja dimulai. Terapkan pengalaman yang diperoleh, hadirkan inovasi, dan bangun koperasi yang kuat, modern, serta bermanfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Destry.
Mengapa Lamongan Jadi Tempat Belajar?
Dipilihnya Lamongan sebagai lokasi pembelajaran bukan tanpa alasan.
Kabupaten ini memiliki jumlah KDKMP yang cukup besar. Data Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan mencatat terdapat 317 KDKMP yang telah terbangun secara fisik.
Namun, dari ratusan koperasi tersebut, baru 90 unit pada tahap pertama yang mulai beroperasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa membangun koperasi bukan hanya soal mendirikan bangunan dan membentuk kepengurusan. Setelah itu, masih ada pekerjaan jauh lebih besar: memastikan koperasi mampu bergerak, menemukan pasar, mengelola usaha, dan memberikan manfaat bagi anggotanya.
Kepala Bidang Perkoperasian Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan, Yusup Efendi, menyebut jumlah KDKMP yang besar sekaligus menjadi tantangan bagi Lamongan.
“Dari jumlah tersebut, tahap pertama sebanyak 90 unit telah mulai beroperasi. Keberadaan KDKMP yang jumlahnya paling banyak di Lamongan membawa tantangan tersendiri,” katanya.
Omzet Rp14 Juta Sehari Jadi Sinyal Potensi
Meski perjalanan KDKMP masih berada pada tahap awal, respons masyarakat terhadap keberadaan koperasi tersebut disebut cukup positif.
Salah satu KDKMP bahkan mampu mencatat omzet sekitar Rp14 juta dalam sehari ketika peluncuran awal.
Komoditas kebutuhan sehari-hari menjadi magnet utama masyarakat. Beras, minyak goreng, dan elpiji tercatat sebagai produk yang paling banyak dibeli.
Bagi Yusup, capaian tersebut memberikan satu gambaran penting: koperasi memiliki pasar apabila mampu menyediakan kebutuhan masyarakat dengan jalur distribusi dan pengelolaan yang baik.
“Ini membuktikan bahwa jika jalur logistik terjamin dan pengelolaan berjalan baik, keberadaan KDKMP akan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.
Angka omzet tersebut mungkin baru sebuah permulaan. Namun dari sana terlihat bahwa KDKMP memiliki peluang untuk tumbuh menjadi lebih dari sekadar toko di tingkat desa.
Koperasi dapat menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan kebutuhan masyarakat, potensi usaha lokal, distribusi barang, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan usaha warga.
Kini, 54 pengurus dari 31 provinsi telah kembali membawa pengalaman dari Lamongan.
Tantangannya sederhana tetapi tidak ringan: apakah ilmu yang mereka dapat selama delapan hari benar-benar akan berubah menjadi koperasi yang hidup dan menghasilkan di daerah masing-masing?
Sebab, koperasi yang kuat bukan hanya yang memiliki gedung, struktur organisasi, atau nama besar. Koperasi baru benar-benar hidup ketika masyarakat datang, bertransaksi, menjadi anggota, ikut mengembangkan usaha, dan merasakan manfaatnya. (rm)



