LAMONGAN, RONGGOHADI – Angka pertumbuhan ekonomi boleh saja terlihat menjanjikan. Pemerintah optimistis, investasi terus bergerak, dan berbagai indikator makro menunjukkan perkembangan positif. Namun, di tengah masyarakat, cerita yang muncul belum tentu sama.
Masih banyak warga yang merasa ekonomi semakin berat. Daya beli menjadi persoalan, biaya hidup terus diperhitungkan, sementara pelaku usaha kecil harus berjuang agar tetap bertahan.
Fenomena inilah yang disoroti Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan (Unisla), Dr. Mohammad Yaskun, S.E., M.M., dalam perbincangan bersama Radio Ronggohadi.
Menurutnya, ada jarak yang perlu diperhatikan antara optimisme pertumbuhan ekonomi secara makro dengan kondisi ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat di lapisan bawah.
Berdasarkan data yang disampaikan Yaskun, pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua tahun 2026 mencapai 5,29 persen. Sektor konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen dan investasi mencapai 6,87 persen. Namun, pertumbuhan konsumsi rumah tangga justru menjadi salah satu bagian yang perlu mendapatkan perhatian serius.
“Daya beli masyarakat ini yang memang harus diperhatikan betul. Kebijakan-kebijakan yang mengarah kepada tingkat ekonomi ke bawah harus benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.
Ketika Ekonomi Tumbuh, Daya Beli Tetap Jadi PR
Yaskun menilai pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka besar. Sebab, keberhasilan ekonomi pada akhirnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ketika ekonomi tumbuh tetapi masyarakat masih mengeluhkan kebutuhan hidup, menurutnya pemerintah perlu memastikan kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Ia juga menyoroti pentingnya mengubah orientasi belanja. Bukan sekadar mengejar besarnya serapan anggaran, tetapi memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan menghasilkan dampak nyata.
“Yang harus diperhatikan adalah bagaimana belanja itu menghasilkan atau berdampak bagi masyarakat. Jadi uang yang dikeluarkan tidak sia-sia,” jelasnya.
UMKM Disebut Pahlawan Ekonomi, Tapi Masih Tertatih-Tatih
Di tengah persoalan tersebut, UMKM kembali menjadi perhatian.
Selama ini, usaha mikro, kecil, dan menengah kerap disebut sebagai tulang punggung bahkan pahlawan ekonomi Indonesia. Jumlahnya besar, dekat dengan masyarakat, dan menjadi sumber penghidupan jutaan keluarga.
Namun Yaskun melihat ada sebuah kontradiksi besar.
“UMKM sering disebut sebagai penopang atau pahlawan ekonomi. Tetapi kalau dilihat dari kualitas pertumbuhan, produktivitas, dan pendapatannya, masih banyak yang tertatih-tatih,” katanya.
Menurutnya, persoalan utama bukan karena Indonesia kekurangan pelaku UMKM. Justru jumlahnya sangat besar.
Tantangan terbesar adalah bagaimana meningkatkan produktivitas mereka.
“PR beratnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas para pelaku UMKM,” tegasnya.
Bagi Yaskun, UMKM tidak boleh terus berada dalam posisi sekadar bertahan. Pelaku usaha harus mulai didorong untuk naik kelas, memperluas pasar, meningkatkan kualitas produk, hingga mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Lamongan Punya Potensi, Tapi Pasar Global Masih Menjadi Tantangan
Potensi produk lokal Lamongan sebenarnya sangat besar.
Mulai dari produk makanan, kerajinan, hingga produk khas daerah memiliki peluang untuk menembus pasar yang lebih luas. Namun, perjalanan menuju pasar internasional tidak selalu mudah.
Yaskun menyebut masih ada sejumlah hambatan yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari kualitas produk, pemahaman regulasi, legalitas, hingga birokrasi ekspor.
“Banyak pelaku UMKM kita yang sebenarnya memiliki produk bagus, tetapi belum memahami mekanisme bagaimana produknya bisa masuk ke pasar internasional,” ujarnya.
Ia mencontohkan produk lokal seperti batik Parengan yang selama ini telah memiliki peluang masuk pasar luar negeri melalui jaringan personal masyarakat Lamongan yang bekerja di luar negeri.
Namun, menurutnya, akses pasar internasional tidak bisa hanya mengandalkan hubungan pribadi.
Pelaku UMKM juga harus memahami jalur formal, mekanisme ekspor, regulasi, dan strategi pemasaran global.
Karena itu, literasi ekspor menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus terus diperkuat.
Mau Naik Kelas? Produk, Legalitas dan Branding Jadi Kunci
Bagi pelaku UMKM yang ingin berkembang, Yaskun memberikan sejumlah catatan penting.
Pertama adalah kualitas produk.
Produk yang ingin masuk ke pasar yang lebih luas harus memiliki standar kualitas yang konsisten.
Kedua adalah legalitas usaha.
Untuk produk makanan, misalnya, pelaku usaha perlu memperhatikan perizinan, keamanan produk, serta sertifikasi halal.
Ketiga adalah branding.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, produk tidak cukup hanya bagus. Produk juga harus memiliki identitas yang kuat dan mudah dikenal konsumen.
“Branding produk harus bagus. Kemudian semua media juga harus digunakan untuk memperkenalkan produk,” jelasnya.
Pemanfaatan media digital, menurutnya, kini menjadi salah satu senjata penting bagi pelaku UMKM. Pasar tidak lagi terbatas pada toko, pasar tradisional, atau wilayah sendiri.
Dengan strategi digital yang tepat, produk dari desa sekalipun memiliki peluang menjangkau konsumen lintas daerah bahkan lintas negara.
Anak Muda Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Baru
Yaskun juga menaruh harapan besar kepada generasi muda.
Menurutnya, anak-anak muda memiliki kedekatan dengan teknologi, digitalisasi, dan berbagai inovasi baru yang dapat membantu UMKM berkembang lebih cepat.
Karena itu, dunia pendidikan juga memiliki peran untuk mendorong lahirnya lebih banyak entrepreneur muda.
Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisla, mahasiswa mendapatkan pembelajaran terkait UMKM, seminar, workshop, hingga pengalaman langsung dari para praktisi.
Harapannya, mahasiswa tidak hanya menjadi pencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
“Kami berharap banyak mahasiswa yang tertarik menjadi entrepreneur, kemudian bisa membawa produknya sampai ke negara-negara lain,” katanya.
Potensi tersebut bukan sekadar angan-angan.
Yaskun bahkan mencontohkan salah satu produk dari Lamongan yang telah berhasil menembus pasar Singapura.
Baginya, hal tersebut menjadi bukti bahwa produk lokal Lamongan sebenarnya memiliki peluang besar untuk bersaing lebih jauh.
“Potensi Lamongan ini sebenarnya luar biasa. Tinggal bagaimana kita fokus dan terus mendorong entrepreneur-entrepreneur muda,” pungkasnya. (rm)



