LAMONGAN, RONGGOHADI – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian melalui pengenalan mekanisasi dan penerapan pola tanam modern. Langkah ini dilakukan agar pertanian semakin efisien, produktif, dan menarik bagi petani milenial.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan, Dr. Mugito, M.M., menyampaikan bahwa sektor pertanian memiliki tantangan dalam menarik minat generasi muda. Di tengah perkembangan kawasan industri, perdagangan, dan jasa di Jawa Timur, generasi muda cenderung melirik sektor-sektor tersebut sebagai pilihan pekerjaan.
Menurutnya, Lamongan tetap membutuhkan generasi muda yang bersedia terjun ke sektor pertanian, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan mempertahankan posisi daerah sebagai salah satu penyangga pangan nasional.
“Anak-anak milenial harus mempersiapkan diri dengan baik. Yang ingin bergerak di sektor jasa, perdagangan, atau industri manufaktur, silakan. Namun, tetap harus ada generasi muda yang berminat di sektor pertanian, tetapi bukan pertanian konvensional. Kita dorong pertanian berbasis mekanisasi,” ujarnya dalam siaran Radio Ronggohadi.
Mekanisasi Pertanian Jadi Daya Tarik Petani Muda
Mugito menjelaskan, pengenalan mekanisasi menjadi salah satu upaya untuk mengubah pandangan bahwa bekerja di sektor pertanian identik dengan pekerjaan yang berat dan membutuhkan banyak tenaga manusia.
Berbagai peralatan pertanian mulai diperkenalkan, termasuk mesin untuk pengolahan lahan, penanaman, hingga proses panen. Mekanisasi juga dikenalkan pada sektor perkebunan tebu yang memiliki luas lahan sekitar 4.000 hektare di Lamongan.
Peralatan yang diperkenalkan mencakup mekanisasi pengolahan lahan dan penanaman tebu, alat untuk memotong tebu, serta peralatan untuk mengangkut hasil panen ke truk. Selain itu, petani juga diperkenalkan dengan sistem irigasi tetes atau drip irrigation yang dinilai dapat membantu penggunaan air secara lebih efektif saat musim kemarau.
Menurut Mugito, penggunaan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi kerja sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian.
Kenalkan Pola Tanam Modern untuk Tingkatkan Produktivitas
Selain mekanisasi, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan turut menyosialisasikan pola tanam yang disebut PMAAS atau Pertanian Modern Advanced Sistem Agrikultural, sebagaimana disampaikan dalam wawancara tersebut.
Pola ini memanfaatkan metode tanam benih langsung atau tabela dengan bantuan alat seperti drum seeder. Melalui metode tersebut, benih padi ditanam langsung ke lahan sehingga petani tidak perlu melalui proses persemaian dan pemindahan bibit seperti pada pola tanam konvensional.
Mugito menjelaskan, penggunaan alat tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja, menghemat biaya persemaian, serta mempercepat proses tanam. Tanaman juga tidak perlu melewati masa adaptasi akibat pemindahan bibit.
Berdasarkan hasil demplot atau demonstrasi plot yang disampaikan Mugito, produktivitas padi dengan pola tersebut di sejumlah lokasi berpotensi meningkat. Ia menyebut hasil yang biasanya berada pada kisaran 7–8 ton per hektare dapat mencapai lebih dari 9,8 ton, bahkan hingga 14 ton per hektare pada lokasi tertentu.
Meski demikian, hasil panen tetap bergantung pada kondisi lahan, varietas, pemeliharaan, dan penerapan teknis di lapangan.
Petani yang tertarik menerapkan pola tanam tersebut diminta berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) masing-masing kecamatan. Penyuluh dapat memberikan pendampingan teknis, termasuk pengenalan dan pembuatan alat tanam sederhana.
Mugito juga menyampaikan bahwa petani yang menerapkan pola tanam modern berpeluang mendapatkan dukungan program, termasuk bantuan benih dan sarana pendukung sesuai ketentuan serta ketersediaan program.



