RONGGOHADI, LAMONGAN—Malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 tinggal menghitung jam. Di balik meja birokrasi, Gubernur Jawa Timur memang telah melayangkan imbauan tegas agar pemerintah daerah tidak menggelar pesta kembang api. Namun, di trotoar jalanan protokol Kabupaten Lamongan, cerita yang tertulis sungguh berbeda.
Warna-warni kembang api dan jajaran terompet mengkilap tetap menghiasi setiap sudut jalan. Bagi para pedagang musiman, imbauan pejabat mungkin terdengar sayup, namun tuntutan dapur harus tetap berasap. Mereka memilih tetap “gaspol” menjajakan keceriaan tahun baru kepada warga yang haus akan hiburan.
Musuh Sebenarnya Bukan Kebijakan, Tapi Cuaca!
Menariknya, saat ditanya mengenai pembatasan pesta kembang api, para pedagang justru mengaku tidak terlalu ambil pusing. Bagi mereka, kebijakan pemerintah bukanlah tantangan utama tahun ini.
“Imbauan itu biasa, Mas. Musuh kami yang sebenarnya itu hujan. Kalau sudah turun hujan deras, pembeli jadi malas keluar, itu yang bikin dagangan sepi, bukan karena dilarang gubernur,” ujar salah satu pedagang di pusat kota Lamongan.
Hujan yang turun tak menentu dalam beberapa hari terakhir memang menjadi “hantu” bagi omzet mereka. Namun, optimisme tetap membara. Mereka yakin, tepat di malam pergantian tahun nanti, langit akan bersahabat dan masyarakat tetap akan memburu kembang api untuk memeriahkan suasana di lingkungan rumah masing-masing.
Terompet LED: Primadona Baru yang Bikin Anak-anak Kepincut
Jika kembang api masih terganjal cuaca, lain halnya dengan terompet. Tahun ini, tren terompet di Lamongan mengalami evolusi. Bukan lagi sekadar suara nyaring, tapi juga adu gaya dengan fitur lampu warna-warni (LED).
- Omzet Stabil: Pedagang rata-rata mampu melepas sekitar 30 buah terompet per hari.
- Target Pasar: Anak-anak menjadi pembeli setia, terutama untuk model terompet lampu yang bisa berkedip di kegelapan malam.
- Harga Terjangkau: Meski tampil lebih modern, harga yang ditawarkan tetap ramah di kantong masyarakat Lamongan.
Pantauan Lapangan: Pasar Tetap Bergairah
Hingga Selasa pagi (30/12/2025), geliat ekonomi di pinggir jalan protokol terpantau normal. Belum ada penurunan minat yang signifikan dari pembeli. Sepertinya, merayakan tahun baru dengan tiupan terompet dan letupan kembang api kecil sudah menjadi ritual yang sulit dilepaskan oleh warga Lamongan, terlepas dari ada atau tidaknya perayaan resmi dari pemerintah.
Bagi para pedagang ini, malam tahun baru adalah “lebaran” kecil yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebelum kembali ke rutinitas harian mereka. (rm)



