Dampak musim kemarau mulai dirasakan oleh warga di berbagai wilayah. Sumber air dari sumur bor dan sumur gali mulai mengecil, bahkan ada yang sudah mengering. Hal ini menyebabkan banyak warga harus menggali sumur baru untuk mendapatkan sumber air baru.
Hidayah, seorang warga dari Sukodadi, terpaksa membuat sumur baru dengan kedalaman yang lebih ideal untuk mendapatkan sumber air bawah tanah. Ia menyatakan bahwa sumur bor yang dimilikinya sudah tidak mampu lagi memompa air ke tandon atas selama dua tahun terakhir setiap musim kemarau.
Tidak hanya itu, beberapa warga lain juga mencoba menurunkan pompa air sekitar dua meter dari permukaan tanah, namun hasilnya tetap tidak maksimal dan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan air.
Krisis air bersih ini tidak hanya berdampak pada warga, tetapi juga pada lahan pertanian. Banyak lahan padi yang mengering dengan permukaan tanah yang mulai pecah-pecah karena kurangnya air. Waduk-waduk yang biasanya menjadi sumber air cadangan kini hanya terisi sekitar 25 persen dari volume normal, dan banyak yang sudah mulai kering.
Dengan kondisi ini, warga Lamongan dibayangi oleh krisis air bersih yang lebih parah jika musim kemarau terus berlanjut hingga bulan Juli, Agustus, dan Oktober mendatang.



