RONGGOHADI, LAMONGAN—Dunia kesehatan dan kemanusiaan di Lamongan tengah diselimuti awan mendung. Dwi Siswanto (28), sosok yang sehari-harinya berjibaku dengan waktu demi menyelamatkan nyawa sebagai sopir ambulans, justru harus mengembuskan napas terakhirnya di aspal jalanan.
Tragedi ini terjadi di Jalan Raya Sukodadi – Plembon, tepatnya di Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, pada Kamis dini hari (18/12/2025). Luka mendalam semakin terasa mengingat korban baru saja meraih mimpinya dengan diangkat sebagai pegawai PPPK, sebuah babak baru dalam hidupnya yang kini harus tertutup selamanya.
Kronologi: Benturan Keras Hingga Skok Depan Patah
Berdasarkan hasil olah TKP, kecelakaan maut ini merupakan kecelakaan tunggal. Korban yang saat itu mengendarai sepeda motor seorang diri melaju dari arah utara. Diduga karena memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, korban kehilangan kendali saat menghadapi tikungan tajam di Desa Menongo.
“Korban melaju dengan kecepatan tinggi. Saat di tikungan, kendaraan tidak terkendali hingga terjungkal. Saking kerasnya benturan, skok depan sepeda motor korban sampai patah. Korban meninggal dunia di lokasi kejadian,” ungkap Kapolsek Sukodadi, Iptu Moch Sokep.
Apresiasi Petugas: Respon Cepat Melebihi Sistem 110
Di balik duka ini, ada catatan dedikasi dari jajaran Polsek Sukodadi. Petugas yang tengah melakukan patroli kewilayahan berhasil mencapai lokasi pada pukul 04.00 WIB, bahkan sebelum pengaduan resmi dari sistem 110 masuk sepenuhnya.
| Detail Kejadian | Informasi |
| Waktu Kejadian | Kamis, 18 Desember 2025 (± 03.15 WIB) |
| Lokasi | Tikungan Desa Menongo, Sukodadi, Lamongan |
| Korban | Dwi Siswanto (28), Warga Desa Menongo |
| Penyebab | Kecepatan Tinggi & Gagal Kendali (Kecelakaan Tunggal) |
| Instansi Terkait | Polsek Sukodadi & RS Muhammadiyah Lamongan |
Iptu Moch Sokep bahkan mengusulkan penghargaan (reward) bagi anggotanya karena langkah penyelamatan dan evakuasi yang dianggap lebih cepat dan tepat sasaran dibandingkan jalur pengaduan standar.
Selamat Jalan, Sang Pejuang Sirine
Kepergian Dwi Siswanto meninggalkan duka mendalam bagi rekan sejawatnya. Sebagai sopir ambulans, ia adalah “pahlawan di balik layar” yang seringkali menembus macet dan gelap malam demi keselamatan pasien. Kini, jalan yang biasa ia lalui untuk menolong orang lain, menjadi saksi bisu kepergiannya.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada saat berkendara, terutama di jam-jam rawan dan lokasi tikungan tajam. Kecepatan memang memberikan efisiensi, namun keselamatan adalah harga mati. (rm)



