Thursday, April 16, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Mahasiswa PMII Geruduk DPRD & Pemkab: “Banjir Bukan Takdir, Tapi Gagalnya Kebijakan!”

RONGGOHADI, LAMONGAN — Selamat datang di siklus tahunan yang melelahkan: hujan turun, Bengawan Jero meluap, dan rakyat kembali diminta untuk bersabar. Namun, pada Senin (2/2/2026), kesabaran itu mencapai batasnya. Sekitar 70 kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Lamongan membiru-kuningkan jalanan menuju Gedung DPRD di Jalan Basuki Rahmat.

Mereka datang bukan untuk membawa bunga, melainkan membawa rapor merah bagi pemerintah daerah dan para wakil rakyat. Dengan suara lantang, mereka menegaskan bahwa banjir tahunan di Lamongan bukan lagi murni bencana alam, melainkan “dosa struktural” akibat tata kelola yang amburadul.

“Rakyat Bosan Disuruh Sabar!”

Ketua Cabang PMII Lamongan, Maulana Arif Hidayatullah, dalam orasinya yang membakar semangat, menyentil pola penanganan banjir yang selama ini dianggap hanya bersifat seremoni dan “tambal sulam”.

“Setiap tahun banjir datang, setiap tahun pula rakyat diminta bersabar. Tapi di mana kebijakan nyatanya? Ini adalah bukti nyata kegagalan fungsi perencanaan dan pengawasan DPRD serta Pemkab Lamongan!” tegas Maulana di tengah kerumunan massa.

5 Tuntutan Harga Mati untuk Lamongan Bebas Banjir

Mahasiswa tidak hanya datang dengan tangan kosong. Mereka menyodorkan “Lima Paket Solusi” yang harus segera dieksekusi agar warga Bengawan Jero dan sekitarnya tidak lagi menjadi “warga air” setiap musim hujan:

NoPoin Tuntutan Utama PMIITarget Capaian
1Normalisasi WadukAtasi sedimentasi parah agar daya tampung air maksimal.
2Re-Desain Siaga BencanaStatus siaga harus relevan dengan fakta lapangan, bukan formalitas.
3Amunisi Pompa AirPenambahan unit pompa untuk membuang debit air secara masif.
4Fasilitas Darurat TerintegrasiPosko kesehatan, angkutan umum, dan jaminan pendidikan di area banjir.
5Tegakkan Perda No. 3 Tahun 2021Hentikan alih fungsi lahan ilegal yang merusak tata ruang!

 Respons DPRD: Janji di Bawah Kawalan Ketat

Massa aksi akhirnya ditemui oleh Wakil Ketua DPRD Lamongan, Husen. Ia secara simbolis menerima dokumen tuntutan mahasiswa. Namun, PMII tidak lantas percaya begitu saja. Mereka memperingatkan bahwa jika tuntutan ini hanya berakhir di laci meja kantor, mereka akan kembali dengan gelombang massa yang lebih besar dan bahkan menempuh jalur hukum.

“Kami mendesak pemerintah berhenti bersikap reaktif. Jangan tunggu banjir datang baru sibuk cari pompa. Evaluasi total alih fungsi lahan dan lindungi petani kita yang ekonominya lumpuh setiap tahun!” tambah Firman, Ketua PMII Komisariat Unisda.

Setelah “menggoyang” gedung dewan, massa bergerak menuju Kantor Pemkab Lamongan untuk memastikan pesan yang sama sampai ke telinga eksekutif.

Aksi PMII ini adalah cermin dari kejenuhan publik. Ketika banjir menjadi “agenda tetap” tanpa solusi permanen, maka legitimasi pemerintah sedang dipertaruhkan. Penekanan pada Perda Tata Ruang adalah poin paling cerdas dalam demo kali ini; karena seringkali banjir diperparah oleh bangunan yang berdiri di tempat yang salah sementara penguasa menutup mata. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles