RONGGOHADI, LAMONGAN — Biasanya, kata “Panen Raya” adalah musik paling merdu di telinga para petani tambak. Namun, di Lamongan, khususnya wilayah Kecamatan Glagah, musim panen kali ini justru terdengar seperti lagu duka.
Bukannya untung besar, para petambak justru harus menelan pil pahit. Mereka sedang terjepit di antara dua raksasa: Hukum alam (pasca-banjir) dan Hukum rimba pasar (harga anjlok). Bayangkan, Lur, sudah susah payah menjaga ikan jangan sampai hanyut saat banjir, giliran dipanen malah harganya nggak cukup buat beli kopi!
“Triple Kill” Bagi Petambak: Banjir, Pupuk Ghaib, dan Harga Ambyar
Kenapa kondisi tahun 2026 ini bisa separah itu? Ternyata ada tiga faktor “maut” yang menyerang sekaligus:
- Sisa Tragedi Banjir: Meskipun sudah dipasang jaring berlapis, luapan air beberapa waktu lalu tetap membuat stok ikan “kabur” ke perairan bebas. Hasil panen otomatis menyusut drastis.
- Pupuk “Ghaib”: Ikan butuh plankton, dan plankton butuh pupuk. Kelangkaan pupuk membuat pertumbuhan ikan terhambat. Hasilnya? Ikan kuntet alias tidak bisa besar maksimal.
- Banjir Stok, Harga Drop: Karena semua orang panen di waktu yang bersamaan sebelum musim tanam padi tiba, pasar pun kelebihan pasokan. Harga pun terjun bebas.
Update Harga Ikan di Pasar Lamongan (10-11 April 2026)
Mari kita intip angka yang bikin para petambak pusing tujuh keliling. Harga ini adalah harga di tingkat petambak yang sudah “tiarap”:
| Jenis Ikan/Udang | Harga per Kilogram | Kondisi Pasar |
| Ikan Bandeng | Rp10.000 – Rp15.000 | Harga jatuh, sulit balik modal. |
| Ikan Tombro | Rp8.000 – Rp10.000 | Sangat murah untuk biaya pakan tinggi. |
| Ikan Nila | Rp5.000 – Rp15.000 | Tergantung ukuran (ukuran kecil gak laku). |
| Ikan Bader | Rp5.000 – Rp10.000 | Nyaris tidak ada harganya. |
| Udang | Rp35.000 – Rp70.000 | Satu-satunya yang masih “bernafas”. |
“Hampir tidak ada keuntungan. Kalau dihitung-hitung, kerugian kami bisa mencapai 80 sampai 90 persen. Kita terpaksa panen apa adanya karena lahan harus segera dikeringkan untuk tanam padi,” keluh Qomariyah, petambak yang tampak pasrah melihat hasil tambaknya.
Kisah petambak Lamongan ini adalah cerminan betapa rentannya ketahanan ekonomi lokal kita terhadap perubahan iklim dan distribusi logistik. Saat pemerintah sibuk bicara soal efisiensi energi di kota, warga Glagah sedang bertarung nyawa demi segram pupuk.
Memanen ikan dengan ukuran yang belum ideal adalah bentuk “Pasrah yang Terencana”. Mereka tahu mereka rugi, tapi membiarkan ikan tetap di tambak berarti kehilangan momentum untuk menanam padi. Ini adalah dilema tahunan yang butuh solusi sistemik, bukan sekadar bantuan darurat saat banjir sudah surut. (rm)



