RONGGOHADI, LAMONGAN – Musim kemarau mulai mengetuk pintu Lamongan. Meski belum terasa ekstrem, tanda-tanda krisis air sudah terbaca jelas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan pun bergerak cepat memetakan wilayah rawan dan menyiapkan strategi antisipasi sebelum kondisi memburuk.
Erik, BPBD Lamongan, mengungkapkan bahwa wilayah Lamongan kini telah dibagi dalam dua kategori utama: daerah dengan risiko kekeringan rendah dan daerah yang masuk zona merah.
“Zona merah ini yang perlu kewaspadaan ekstra. Karena saat puncak kemarau nanti, potensi kekurangan airnya cukup tinggi,” jelasnya.
Daerah Zona Merah Kekeringan
Sejumlah kecamatan seperti Bluluk, Sambeng, Sukorame, hingga Paciran masuk dalam kategori rawan tinggi. Wilayah-wilayah ini diprediksi akan merasakan dampak paling signifikan saat kemarau mencapai puncaknya.
Sementara itu, beberapa daerah lain seperti Babat, Karanggeneng, hingga Sekaran tetap terdampak, namun dalam skala yang lebih ringan.
Puncak Kemarau Lebih Panjang dari Biasanya
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang. BPBD memperkirakan puncak kekeringan akan terjadi pada Agustus hingga September, bahkan berpotensi berlanjut hingga Oktober.
“Mulai April ini sudah masuk fase awal. Tapi puncaknya nanti di bulan 8 dan 9. Itu yang harus kita antisipasi serius,” tegas Erik.
Penurunan debit air di waduk-waduk pun diprediksi akan terjadi drastis pada periode tersebut.
Siap Droping Air, Asal Ajukan
Untuk mengantisipasi krisis air bersih, BPBD Lamongan telah menyiapkan skema distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Namun, bantuan ini tidak datang otomatis. Pemerintah desa diminta proaktif mengajukan permohonan melalui kecamatan, yang kemudian diteruskan ke BPBD.
“Kami siap respon cepat. Yang penting ada pengajuan resmi dari desa,” jelasnya.
Tantangan Alam: Banjir dan Kekeringan dalam Satu Wilayah
Uniknya, Lamongan menghadapi dua ekstrem sekaligus. Di satu sisi, beberapa wilayah masih menyimpan air sisa banjir yang terjadi beberapa bulan lalu. Namun di sisi lain, daerah lain justru mulai mengalami kekeringan.
Kondisi geografis Lamongan yang sebagian wilayahnya lebih rendah dari permukaan laut menjadi tantangan tersendiri. Air sulit mengalir keluar, bahkan berpotensi kemasukan air laut jika tidak dikendalikan.
“Lamongan ini unik. Bisa banjir lama, tapi juga bisa kering parah,” ungkap Erik.
Pesan untuk Petani: Ubah Pola Tanam
Selain masyarakat umum, BPBD juga memberikan perhatian khusus kepada petani. Mereka diminta menyesuaikan pola dan waktu tanam dengan kondisi iklim tahun ini.
Jika biasanya masa tanam dimulai April, disarankan untuk menggeser ke Mei atau menyesuaikan dengan kondisi cuaca terkini.
“Jangan memaksakan pola lama. Harus adaptif dengan kondisi cuaca sekarang,” pesannya.
Kolaborasi Jadi Kunci
BPBD menegaskan bahwa penanganan kekeringan tidak bisa dilakukan sendiri. Peran aktif masyarakat, pemerintah desa, hingga stakeholder lain sangat dibutuhkan.
Masyarakat diminta segera melapor jika mulai mengalami kesulitan air, agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
“Jaga Alam, Alam Jaga Kita”
Menutup pernyataannya, BPBD Lamongan mengingatkan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan dan menggunakan air secara bijak.
“Jaga alam, alam akan jaga kita. Tetap waspada, tetap tangguh,” pungkasnya. (rm)



