Sunday, August 16, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Harga Gabah Tembus Rp8.400/Kg, Petani Lamongan Tersenyum! Tapi Ada Peringatan Penting dari Kadis Pertanian

RONGGOHADI, LAMONGAN – Musim panen tahun ini menjadi kabar menggembirakan bagi petani di Kabupaten Lamongan. Harga gabah yang di tingkat petani mencapai sekitar Rp8.400 per kilogram menjadi angin segar setelah sekian lama petani berharap hasil panennya dihargai lebih layak.

Namun, di balik euforia tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lamongan, Mugito, mengingatkan bahwa kenaikan harga gabah tidak boleh berujung pada lonjakan harga beras yang membebani masyarakat.

Menurut Mugito, tingginya harga gabah saat ini merupakan berkah yang patut disyukuri para petani. Apalagi, kondisi tanaman padi di sejumlah wilayah Lamongan dinilai cukup baik dan mulai memasuki masa panen.

“Alhamdulillah, ini menjadi berkah bagi petani. Silakan dinikmati karena hasil panennya memang bagus dan kualitas padinya juga baik,” ujarnya.

Lamongan yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur diperkirakan kembali mencatat produksi melimpah pada musim panen kali ini. Kondisi tersebut membuat permintaan gabah dari berbagai pihak ikut meningkat sehingga harga di tingkat petani terdongkrak.

Meski demikian, Mugito meminta para pelaku usaha penggilingan padi, pedagang beras hingga distributor tetap mematuhi ketentuan pemerintah mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.

Menurutnya, pemerintah tidak ingin tingginya harga gabah justru berdampak pada kenaikan harga beras yang akhirnya memberatkan masyarakat sebagai konsumen.

“Harga gabah memang sedang bagus, tetapi harga beras tetap harus mengacu pada HET yang telah ditetapkan pemerintah,” tegasnya.

Pengawasan Harga Beras Akan Diperketat

DKPP Lamongan memastikan pengawasan terhadap harga beras di pasaran akan terus dilakukan bersama instansi terkait. Tim akan turun ke lapangan apabila ditemukan harga yang melampaui batas kewajaran atau melebihi HET.

Sejauh ini, hasil pemantauan di berbagai pasar tradisional menunjukkan harga beras di Lamongan masih relatif stabil sehingga masyarakat belum perlu khawatir terjadi lonjakan harga.

Bulog Siap Menyerap Gabah Petani

Terkait penyerapan gabah, Mugito menjelaskan bahwa pemerintah melalui Bulog tetap menjadi salah satu saluran bagi petani apabila mengalami kesulitan menjual hasil panennya.

Namun dalam kondisi saat ini, tingginya harga gabah membuat banyak pembeli dari sektor swasta maupun penggilingan datang langsung ke petani sehingga gabah relatif mudah terserap pasar.

“Kalau ada petani yang kesulitan menjual gabah, Bulog tentu akan bergerak. Tetapi sekarang karena kualitas panen bagus dan harga juga tinggi, pembeli banyak yang datang langsung,” jelasnya.

Petani Diingatkan Waspadai Hama

Di tengah kondisi harga yang menguntungkan, Mugito mengingatkan petani agar tidak lengah. Pasalnya, pola tanam padi di Lamongan tidak berlangsung serentak.

Ada petani yang telah panen, sebagian sedang panen, sementara lainnya baru memasuki masa tanam. Kondisi tersebut berpotensi memicu munculnya serangan hama seperti wereng batang cokelat maupun ulat penggerek batang.

Karena itu, ia meminta petani meningkatkan intensitas pengamatan lahan agar serangan hama dapat ditangani lebih cepat sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar.

“Kami mengimbau petani rutin mengamati tanaman. Kalau ada gejala serangan hama, segera lakukan pengendalian agar tidak meluas,” katanya.

Mugito berharap momentum harga gabah yang tinggi dapat meningkatkan kesejahteraan petani Lamongan, namun tetap diiringi dengan stabilitas harga beras sehingga manfaatnya bisa dirasakan seluruh masyarakat.(rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles