Saturday, September 5, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Sensus Ekonomi Lamongan Tembus 116 Persen, BPS Temukan Usaha Baru hingga Cerita Perantau yang Pulang Kampung

LAMONGAN, RONGGOHADI – Sensus ekonomi di Kabupaten Lamongan ternyata tidak sekadar soal angka, formulir, dan deretan pertanyaan. Di balik perjalanan petugas dari rumah ke rumah selama lebih dari dua bulan, tersimpan potret menarik tentang warga Lamongan yang merantau, pulang membangun rumah, hingga usaha-usaha baru yang terus muncul dan menggantikan bisnis lama.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lamongan bahkan mencatat capaian pendataan yang melampaui target awal. Hingga menjelang berakhirnya masa pendataan pada 31 Agustus 2026, capaian sementara telah mencapai 116 persen dari target yang telah ditetapkan.

Kepala BPS Kabupaten Lamongan, Hermanto, S.Si., M.S.E., mengungkapkan capaian tersebut menjadi bukti tingginya kerja keras petugas sekaligus partisipasi masyarakat dalam mendukung proses pendataan.

“Alhamdulillah, dari target yang kami miliki, teman-teman petugas di lapangan sangat antusias dan semangat. Bahkan kami menemukan usaha-usaha baru, terutama usaha yang sebelumnya belum tercatat,” ujarnya dalam perbincangan bersama Radio Ronggohadi.

Target 585 Ribu Keluarga dan Usaha

Pendataan yang berlangsung sejak 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 itu menyasar dua kelompok utama, yakni keluarga dan usaha. Total target BPS Kabupaten Lamongan mencapai sekitar 585 ribu objek pendataan.

Namun, dinamika di lapangan membuat angka yang ditemukan petugas justru terus berkembang.

Menurut Hermanto, salah satu fenomena menarik yang ditemui adalah karakter masyarakat Lamongan sebagai perantau.

Lamongan, katanya, memiliki sejarah panjang sebagai daerah yang banyak melahirkan warga perantau. Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Surabaya, Gresik, Sumatera Selatan hingga Papua.

Namun, ada satu karakter khas yang cukup kuat.

Banyak perantau Lamongan yang pada akhirnya memilih kembali ke kampung halaman.

“Tipikal orang Lamongan itu merantau, tetapi cintanya terhadap tanah kelahiran juga luar biasa. Ketika sudah cukup, banyak yang memilih kembali,” ungkap Hermanto.

Fenomena tersebut juga terlihat dari bangunan rumah-rumah di sejumlah desa yang tampak megah, tetapi sempat kosong karena pemiliknya masih berada di perantauan.

Ketika para perantau kembali, kondisi keluarga di suatu wilayah pun berubah. Inilah salah satu dinamika yang harus ditangkap dalam pendataan.

Dari Usaha Kopi yang Menjamur hingga Bisnis yang Berganti

Cerita lain datang dari sektor usaha.

Hermanto menyebut siklus bisnis saat ini jauh lebih cepat dibandingkan beberapa tahun lalu. Sebuah jenis usaha bisa tumbuh pesat dalam waktu singkat, tetapi juga dapat hilang ketika tren dan selera konsumen berubah.

Fenomena usaha kopi menjadi salah satu contohnya.

Ketika bisnis kopi sedang diminati, usaha sejenis bisa bermunculan di banyak tempat. Namun, tidak semua mampu bertahan.

“Sekarang dinamika usaha sangat cepat. Kalau usaha tidak punya ciri khas atau tidak bisa mengikuti selera konsumen, bisa saja kemudian berganti,” katanya.

Dalam proses pendataan, petugas menemukan sejumlah usaha yang sebelumnya tercatat masih beroperasi, tetapi ketika didatangi ternyata sudah tutup. Sebagian lokasi kemudian berubah menjadi usaha baru dengan jenis bisnis berbeda.

Bagi BPS, perubahan tersebut bukan sekadar data.

Itu adalah potret nyata tentang bagaimana ekonomi Lamongan terus bergerak.

Hoaks Pajak Jadi Tantangan Petugas BPS

Meski capaian pendataan cukup menggembirakan, perjalanan sensus ekonomi tidak sepenuhnya mulus.

Salah satu tantangan terbesar justru datang dari informasi keliru yang beredar di media sosial. Pada awal pendataan, muncul kekhawatiran di tengah masyarakat bahwa mengikuti sensus akan berkaitan dengan pajak.

Framing tersebut membuat sebagian warga sempat enggan memberikan informasi kepada petugas.

Padahal, Hermanto menegaskan bahwa data statistik memiliki aturan kerahasiaan yang ketat dan tidak digunakan secara sembarangan untuk kepentingan lain.

“Di awal memang ada framing jangan mau disensus karena nanti pajak. Ini tentu menjadi tantangan kami di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan sensus dan pendataan telah dilakukan BPS secara berkala sejak lama. Data yang dikumpulkan menjadi bahan penyusunan statistik dan perencanaan, bukan untuk secara otomatis membebani masyarakat dengan pajak.

Selain itu, beredar pula berbagai informasi yang membuat masyarakat ragu terhadap petugas pendataan. Tantangan tersebut membuat para petugas harus bekerja lebih keras untuk memberikan penjelasan langsung kepada warga.

Namun perlahan, kepercayaan masyarakat kembali tumbuh.

Hasilnya terlihat dari capaian pendataan yang telah melampaui target awal.

Bukan Sekadar Sensus, BPS Memotret Perubahan Lamongan

Di tengah perbincangan, Hermanto juga menjelaskan bahwa pendataan menjadi bagian penting dalam memotret perubahan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Kondisi seseorang atau sebuah keluarga tidak selalu sama dari tahun ke tahun.

Ada keluarga yang kondisi ekonominya meningkat karena anggota keluarga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Ada pula keluarga yang mengalami penurunan kondisi akibat kehilangan pekerjaan, sakit, atau berbagai persoalan lainnya.

Karena itu, pemutakhiran data menjadi hal penting.

“Dinamika sosial ekonomi masyarakat itu terus bergerak. Ada yang kondisinya naik, ada yang turun. Maka data juga harus terus diperbarui,” jelasnya.

BPS sendiri memiliki mekanisme pengendalian kualitas dalam setiap kegiatan pendataan. Dengan sistem digital, perkembangan pekerjaan petugas dapat dipantau, termasuk lokasi yang belum ditemukan atau data yang perlu dilakukan pengecekan ulang.

Jika terdapat temuan yang belum sesuai dengan prosedur atau masih membutuhkan verifikasi, petugas akan kembali melakukan pemeriksaan.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas data sebelum nantinya digunakan sebagai bahan statistik dan perencanaan pembangunan.

Desil Bukan Penentu Tetap, Kondisi Warga Bisa Berubah

Dalam kesempatan itu, Hermanto juga menyinggung persoalan desil yang belakangan sering menjadi perbincangan masyarakat, terutama berkaitan dengan data sosial dan penerima bantuan.

Ia menegaskan bahwa desil bukanlah istilah baru. Secara sederhana, desil merupakan pengelompokan masyarakat ke dalam 10 kelompok berdasarkan kondisi sosial ekonomi.

Namun, posisi seseorang dalam kelompok tersebut tidak bersifat permanen.

Kondisi ekonomi masyarakat bisa berubah.

Karena itulah pemerintah terus melakukan pemutakhiran data melalui berbagai mekanisme dan sumber data.

Hermanto juga meluruskan informasi yang sering beredar di media sosial mengenai adanya angka penghasilan tertentu yang otomatis menentukan seseorang masuk desil tertentu.

Menurutnya, informasi tersebut tidak tepat.

BPS tidak menetapkan secara sederhana bahwa penghasilan dengan nominal tertentu langsung berarti masuk Desil 1, Desil 2, atau kelompok lainnya.

Penilaian dilakukan berdasarkan berbagai indikator dan kondisi sosial ekonomi yang lebih luas.

“Informasi yang menyebutkan ada batas pendapatan tertentu untuk setiap desil itu hoaks. Kami tidak pernah merilis seperti itu,” tegasnya.

Ke Depan, Data Akan Semakin Terintegrasi

Pemerintah juga terus mendorong penguatan basis data sosial ekonomi melalui sistem yang semakin terintegrasi.

Tujuannya adalah memperbaiki ketepatan sasaran berbagai program pemerintah.

Ke depan, pemutakhiran data diharapkan semakin mampu menangkap perubahan kondisi masyarakat secara lebih cepat. Masyarakat yang mengalami perubahan kondisi pun dapat melakukan pembaruan melalui kanal yang telah disediakan pemerintah.

Hermanto menilai akurasi data menjadi kunci penting agar program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sementara bagi BPS Lamongan, hari-hari terakhir pendataan masih menjadi pekerjaan penting.

Meski capaian telah mencapai 116 persen, petugas masih memiliki sejumlah temuan yang harus diselesaikan sebelum batas akhir pendataan pada 31 Agustus 2026.

Dari rumah-rumah para perantau yang kembali pulang, usaha baru yang muncul di sudut kampung, hingga bisnis yang berganti karena perubahan tren, semuanya menjadi bagian dari wajah Lamongan yang sedang dipotret melalui angka.

Dan di balik angka-angka tersebut, ada satu cerita besar yang sedang disusun:

bahwa Lamongan terus bergerak, berubah, dan tumbuh bersama masyarakatnya. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles