LAMONGAN, RONGGOHADI – Aktivitas jual beli di Pasar Tingkat Lamongan seharusnya menjadi denyut ekonomi yang hidup sejak pagi. Namun, pada Selasa (25/8/2026), pemandangan berbeda justru menyita perhatian pengunjung. Tumpukan sampah yang berserakan di sejumlah titik pasar menimbulkan bau tidak sedap dan membuat suasana pasar terlihat kumuh.
Keluhan mulai muncul sejak sekitar pukul 09.00 WIB. Sampah yang belum tertangani dikhawatirkan bukan hanya mengganggu kenyamanan pengunjung, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi para pedagang.
Bagi pasar tradisional, kenyamanan menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan kedatangan pembeli. Ketika lingkungan pasar dipenuhi sampah, muncul kekhawatiran masyarakat akan memilih berbelanja di tempat lain.
“Kumuh, bau, tidak nyaman dipandang. Kalau begini terus pembeli bisa kabur,” keluh salah seorang pengunjung.
Kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi para pedagang. Tumpukan sampah yang dibiarkan terlalu lama berpotensi mengundang lalat, menimbulkan bau, hingga menjadi sumber penyakit. Jika pengunjung merasa tidak nyaman, dampaknya bisa berujung pada menurunnya jumlah pembeli dan omzet pedagang.
Kebersihan Pasar Jadi Taruhan Kenyamanan Pembeli
Pasar Tingkat Lamongan berada di bawah pengelolaan Perumda Pasar Lamongan. Sejumlah pengunjung berharap persoalan sampah dapat segera ditangani secara lebih maksimal.
Beberapa usulan pun mencuat, mulai dari penambahan tempat sampah terpilah, memastikan pengangkutan sampah dilakukan secara rutin setiap hari, hingga meningkatkan edukasi kepada pedagang dan pengunjung agar lebih disiplin membuang sampah pada tempatnya.
Direktur Perumda Pasar Lamongan, Nurul Mukminin, merespons informasi terkait kondisi tersebut. Ia mengapresiasi adanya laporan dan masukan dari masyarakat.
“Terima kasih atas informasinya,” ujar Nurul Mukminin yang akrab disapa Kaji Nurul.
Menurutnya, pengawasan terhadap kondisi pasar sebenarnya telah dilakukan di berbagai lini manajemen, termasuk persoalan kebersihan. Perumda Pasar Lamongan juga rutin melakukan monitoring dan evaluasi bersama kepala UPT sebanyak dua kali dalam sebulan.
Selain itu, terdapat program Jumat Bersih yang meliputi berbagai kegiatan, seperti pengecatan, pembersihan saluran atau selokan, hingga penanganan sampah yang berserakan.
Pengawasan harian juga dilakukan melalui Satuan Pengawas Internal (SPI). Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan kondisi pasar tetap tertata dan persoalan kebersihan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi keluhan yang lebih besar.
Pasar Bersih, Pembeli Betah
Persoalan sampah di pasar mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa cukup luas. Pasar bukan sekadar tempat transaksi antara penjual dan pembeli. Pasar adalah ruang ekonomi yang membutuhkan kenyamanan, kebersihan, dan rasa aman bagi semua orang yang beraktivitas di dalamnya.
Ketika lingkungan pasar bersih, pembeli tentu lebih nyaman untuk berbelanja. Sebaliknya, pasar yang kumuh dan berbau dapat membentuk persepsi negatif serta membuat masyarakat enggan datang.
Karena itu, penanganan sampah membutuhkan kerja bersama antara pengelola pasar, petugas kebersihan, pedagang, hingga pengunjung. Tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan bersih-bersih secara berkala, tetapi juga diperlukan sistem pengangkutan yang konsisten dan kesadaran kolektif.
Kini, perhatian masyarakat tertuju pada tindak lanjut pengelola Pasar Tingkat Lamongan. Harapannya sederhana: tumpukan sampah segera teratasi, lingkungan pasar kembali bersih, dan aktivitas jual beli dapat berlangsung dengan nyaman tanpa kekhawatiran pembeli berpaling.
Pasar yang bersih bukan hanya enak dipandang, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga roda ekonomi pedagang tetap berputar. (rm)



