LAMONGAN, RONGGOHADI – Di tengah semangat orang tua yang ingin melihat anaknya menjadi pesepak bola hebat, satu pesan justru menjadi perhatian penting dari dunia pembinaan usia dini: jangan terburu-buru mengejar kemenangan.
Bagi pelatih kelompok usia dini, keberhasilan seorang anak di lapangan bukan semata diukur dari jumlah gol, piala, atau kemenangan. Ada fondasi yang jauh lebih penting, yakni memastikan anak merasa senang saat bermain sepak bola.
Pesan itulah yang disampaikan Coach Khoiruzzaman Assyabani, S.Or, staf pelatih kelompok usia 10 tahun, saat berbincang bersama Ronggohadi.
Menurutnya, rasa senang merupakan pintu pertama dalam proses pembinaan pesepak bola usia dini.
“Yang untuk anak-anak itu yang terpenting adalah senang. Itu kunci utama. Kalau anak senang, anak bisa berkembang,” ujarnya.
Anak Usia Dini Jangan Dipaksa Jadi Pesepak Bola
Menurut Khoiruzzaman, salah satu tantangan terbesar dalam melatih anak-anak justru datang ketika sepak bola bukan menjadi pilihan mereka sendiri.
Tidak sedikit anak yang masuk ke dunia olahraga karena dorongan kuat dari orang tua, sementara sang anak belum tentu memiliki ketertarikan yang sama.
Situasi seperti ini, kata dia, menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih.
“Kalau anak tidak suka sepak bola tetapi dipaksakan untuk menyukai sepak bola, itu menjadi tantangan besar,” katanya.
Karena itu, pembinaan usia dini membutuhkan pendekatan yang berbeda. Pelatih tidak cukup hanya mengajarkan teknik menendang, mengoper, atau menggiring bola.
Anak juga harus diajak mengenal permainan secara perlahan, menikmati proses latihan, hingga akhirnya tumbuh rasa cinta terhadap sepak bola.
Pembinaan Anak Tidak Bisa Asal Latih
Khoiruzzaman menjelaskan, pembinaan sepak bola usia dini memiliki tahapan dan kurikulum tersendiri.
Setiap kelompok usia memiliki pendekatan berbeda sesuai perkembangan fisik, motorik, keterampilan, hingga pemahaman anak terhadap permainan.
Pada fase usia sekitar 6 hingga 9 tahun, pembinaan lebih menekankan pada fase kegembiraan. Anak diperkenalkan dengan sepak bola melalui suasana latihan yang menyenangkan.
Kemudian, pada kelompok usia sekitar 10 hingga 13 tahun, pembinaan mulai mengarah pada pengembangan keterampilan dasar.
Sementara pada usia yang lebih tinggi, pemain mulai diperkenalkan pada pemahaman permainan, peran posisi, strategi, hingga kerja sama tim.
“Setiap tahapan usia memiliki materinya sendiri. Jadi tidak asal melatih,” tegasnya.
Anak Lambat Motorik Bukan Berarti Tak Punya Masa Depan
Setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda.
Ada yang cepat memahami teknik dasar, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menguasai kontrol bola, passing, shooting, atau kemampuan lainnya.
Menurut Khoiruzzaman, kondisi tersebut tidak boleh langsung menjadi alasan untuk menilai seorang anak tidak memiliki potensi.
Justru, pelatih memiliki tugas untuk memberikan pemahaman dan latihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pemain.
Jika seorang anak mengalami kesulitan dalam mengontrol bola, misalnya, maka latihan dapat diarahkan lebih intens pada kemampuan tersebut.
“Kalau motoriknya lambat, kita berikan pemahaman dan latihan lebih. Misalnya bagaimana cara mengontrol bola, passing, atau shooting ke gawang,” jelasnya.
Baginya, komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pembinaan.
Komunikasi tidak hanya dilakukan antara pelatih dan pemain, tetapi juga harus terjalin dengan orang tua.
“Di usia dini, bukan hanya komunikasi dengan anak, tetapi juga komunikasi dengan orang tuanya,” ujarnya.

Kemenangan untuk Anak Usia Dini Hanyalah Bonus
Satu pesan yang paling menarik dari Coach Khoiruzzaman adalah pandangannya mengenai kemenangan.
Dalam pertandingan sepak bola anak-anak, kemenangan memang selalu menyenangkan. Namun, kemenangan tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan.
Bagi pemain usia di bawah 9 tahun, kemenangan hanyalah bonus.
“Kalau di usia ini, kemenangan adalah bonus. Bukan kita kejar untuk kemenangan, tetapi bagaimana cara anak bermain sepak bola dengan bahagia,” katanya.
Menurutnya, pendekatan latihan akan berkembang sesuai kelompok usia.
Pada usia 10 tahun ke atas, pemain mulai diarahkan untuk menerapkan keterampilan yang telah dipelajari saat latihan, seperti passing, kontrol bola, pergerakan, dan pengambilan keputusan.
Kemudian pada usia yang lebih tinggi, pembinaan mulai mengarah pada pemahaman permainan yang lebih kompleks.
Pemain mulai memahami tugas berdasarkan posisi, mulai dari penjaga gawang, pemain bertahan, gelandang, hingga penyerang.
Pelatih Harus Punya Rencana Sebelum Masuk Lapangan
Di mata masyarakat, seorang pelatih terkadang terlihat santai saat pertandingan berlangsung. Namun, proses di balik pembinaan seorang pemain ternyata tidak sesederhana itu.
Khoiruzzaman mengatakan, seorang pelatih seharusnya sudah memiliki perencanaan sebelum turun ke lapangan.
Pelatih perlu memahami perkembangan setiap pemain dan menentukan kemampuan apa yang harus ditingkatkan.
“Sebelum melatih ke lapangan, kita sudah punya gambaran. Kita punya planning bagaimana anak-anak ini bisa berkembang,” katanya.
Perencanaan tersebut membuat pelatih mengetahui kebutuhan setiap pemain.
Anak yang memiliki kekurangan tertentu akan mendapatkan perhatian dan materi latihan yang berbeda.
Ketika terjadi kesalahan, tugas pelatih bukan sekadar memarahi pemain, tetapi memberikan pemahaman agar kesalahan yang sama tidak terus terulang.
Di situlah ketenangan, komunikasi, dan kesabaran seorang pelatih diuji.
Pesan untuk Orang Tua: Dorong, Jangan Memaksa
Khoiruzzaman juga menitipkan pesan khusus kepada para orang tua yang memiliki anak dengan minat dan bakat di bidang sepak bola.
Menurutnya, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan pemain muda.
Namun, dukungan tersebut seharusnya berbentuk dorongan dan motivasi, bukan tekanan.
Jika anak benar-benar memiliki ketertarikan untuk mendalami sepak bola, orang tua diharapkan dapat memberikan ruang agar potensinya berkembang.
“Kalau memang anak mempunyai minat dan keinginan di sepak bola, tolong didorong dan dimotivasi,” pesannya.
Bagi masyarakat Lamongan yang memiliki anak dengan ketertarikan terhadap sepak bola, ia juga mengajak untuk mulai mengenalkan pembinaan yang terarah.
Sebab, pemain hebat tidak selalu lahir dari latihan paling keras sejak usia dini.
Kadang, semuanya justru dimulai dari sesuatu yang sederhana: seorang anak yang merasa bahagia ketika mengejar bola. (rm)



