LAMONGAN, RONGGOHADI – Gempa bumi mungkin tidak bisa dijadwalkan seperti keberangkatan kereta. Kapan datangnya, di mana pusatnya, dan seberapa kuat guncangannya belum bisa diketahui secara tepat sebelum peristiwa itu benar-benar terjadi.
Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada satu hal yang justru bisa dipersiapkan sejak sekarang: kesiapsiagaan masyarakat.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, menegaskan hingga saat ini belum ada teknologi maupun metode keilmuan yang mampu memprediksi gempa secara tepat sebelum kejadian.
“Belum ada teknologi dan ilmu apapun yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa secara tepat waktu dan kekuatannya apabila gempanya itu belum terjadi,” ujar Ricko saat berbincang di Radio Ronggohadi.
Menurutnya, Indonesia memang menjadi salah satu wilayah yang aktif secara tektonik. Kondisi tersebut tidak hanya membuat gempa terjadi di satu atau dua daerah, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Wilayah kerja BMKG Stasiun Geofisika Malang yang meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta saja mencatat aktivitas gempa yang cukup tinggi.
Sepanjang Agustus 2026, BMKG mendeteksi 576 kejadian gempa bumi di wilayah tersebut. Namun, masyarakat hanya merasakan lima kejadian.
Artinya, sebagian besar gempa yang terjadi berlangsung begitu kecil sehingga tidak dirasakan manusia.
“Per harinya itu bisa mencapai 20 sampai 30 kejadian gempa bumi. Tapi memang tidak semua kejadian gempa bumi itu dirasakan oleh masyarakat,” jelas Ricko.
Gempa yang dirasakan masyarakat selama Agustus pun relatif kecil. Magnitudo terbesar yang dirasakan tercatat 3,5 dan sensasinya disebut seperti truk melintas.
Indonesia Memang “Langganan” Gempa
Ricko menjelaskan tingginya aktivitas kegempaan Indonesia berkaitan dengan posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik.
Di wilayah barat hingga selatan Indonesia terdapat aktivitas lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Sementara di kawasan timur juga terdapat pertemuan dengan lempeng Pasifik dan Filipina.
Di Jawa Timur sendiri, masyarakat juga hidup berdampingan dengan sejumlah sumber gempa aktif.
Pada bagian utara Jawa terdapat sejumlah jalur sesar aktif, termasuk Sesar Kendeng dan sumber gempa lainnya. Sementara di selatan Pulau Jawa terdapat zona subduksi yang dikenal sebagai megathrust.
Berdasarkan pemetaan sumber gempa, sejumlah sesar aktif di daratan Pulau Jawa memiliki potensi magnitudo yang cukup besar.
Namun, keberadaan sesar dan potensi magnitudo bukan berarti gempa bisa dipastikan akan terjadi pada tanggal tertentu.
“Berdasarkan data historis kejadian gempa bumi di masa lalu dan pendekatan metode-metode geofisika, kita bisa mengetahui jalur aktivitas sesar aktif maupun pertemuan lempeng. Tetapi kapan lempeng itu bergerak, akumulasi stresnya mencapai batas maksimum dan terjadi gempa bumi, itu yang sampai saat ini belum bisa kita prediksi,” terang Ricko.
Flores Diguncang Ribuan Gempa Susulan
Aktivitas kegempaan yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah gempa besar dapat diikuti rangkaian gempa susulan dalam jumlah sangat banyak.
Ricko menyebut gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 tersebut hingga 7 September 2026 telah diikuti 13.156 gempa susulan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 177 gempa dirasakan oleh masyarakat.
Kondisi tersebut membuat warga di Flores masih harus menghadapi guncangan yang terjadi berulang kali.
Menurut Ricko, pola gempa susulan secara umum dapat diamati melalui tren peluruhannya. Semakin lama jumlah dan kekuatan gempa susulan cenderung menurun.
BMKG memperkirakan aktivitas gempa di Flores mulai mereda sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.
Teknologi BMKG Kini Jauh Lebih Cepat
Di tengah ancaman gempa yang tidak bisa diprediksi, kabar baiknya adalah kemampuan Indonesia dalam mendeteksi gempa dan memberikan peringatan dini terus berkembang.
Ricko membandingkan kemampuan teknologi saat ini dengan kondisi ketika gempa dan tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004.
Saat itu, diperlukan waktu jauh lebih lama untuk mengetahui parameter gempa. Kini Indonesia telah memiliki 553 jaringan seismometer yang tersebar di berbagai wilayah.
Hasilnya, parameter gempa dapat diperoleh jauh lebih cepat.
Bahkan, peringatan dini tsunami kini dapat dikeluarkan dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terdeteksi.
“Kalau kejadian terakhir kemarin yang peringatan dini tsunami di Flores, itu 2 menit 16 detik sudah keluar informasinya,” ungkapnya.
Kecepatan tersebut menjadi sangat penting karena peringatan dini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk menentukan langkah evakuasi.
BMKG juga tengah mengembangkan sistem Early Warning System (EWS) yang memungkinkan informasi mengenai gempa diterima beberapa detik sebelum guncangan dirasakan di suatu lokasi.
Sistem tersebut saat ini masih dalam tahap uji coba di Lampung, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Targetnya, sistem dapat mencakup seluruh wilayah Indonesia pada 2029.
Bukan Menunggu Gempa, Tapi Bersiap Sebelum Gempa
Ricko menekankan bahwa menghadapi gempa bukan berarti masyarakat harus hidup dalam ketakutan. Justru, hal terpenting adalah membangun kebiasaan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.
Saat gempa kuat mengguncang, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk berdiri, berlari, bahkan sekadar membuka pintu.
Karena itu, BMKG mengenalkan prinsip Drop, Cover, Hold On.
Drop atau merunduk, kemudian Cover dengan melindungi kepala dan tubuh, lalu Hold On dengan berpegangan pada benda atau struktur yang kuat.
Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi diri dari benda yang jatuh seperti genteng, plafon maupun bagian bangunan lainnya.
Setelah guncangan berhenti, masyarakat baru dianjurkan keluar menuju tempat yang lebih aman dan terbuka.
“Ketika terjadi gempa bumi yang sangat kuat, untuk berdiri, untuk lari, untuk membuka pintu itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan,” jelas Ricko.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, kewaspadaan harus ditingkatkan.
Jika merasakan gempa kuat dan berada di wilayah yang berpotensi terdampak tsunami, masyarakat diminta tidak menunggu terlalu lama. Evakuasi mandiri menuju tempat yang lebih tinggi dapat dilakukan sambil menunggu informasi resmi.
Informasi terkait gempa dan potensi tsunami dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi Info BMKG.
Tas Siaga, Kecil Tapi Bisa Jadi Penyelamat
Kesiapsiagaan juga sebaiknya dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
Ricko menyarankan setiap keluarga memiliki rencana kedaruratan. Misalnya, menentukan lokasi berkumpul jika anggota keluarga sedang berada di tempat berbeda ketika bencana terjadi.
Tak kalah penting adalah menyiapkan tas siaga bencana.
Isinya tidak perlu rumit. Barang-barang yang dibutuhkan dalam kondisi darurat seperti obat-obatan, senter, peluit, dokumen penting, uang tunai, makanan, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya dapat disiapkan dalam satu tas yang mudah diambil.
“Ketika terjadi situasi darurat, kita cukup mengambil satu tas itu saja, kemudian pergi melakukan evakuasi,” kata Ricko.
Menurutnya, kebiasaan tersebut perlu dibangun sejak dini. Sekolah juga didorong untuk memperkuat edukasi kebencanaan melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Sebab, semakin sering seseorang berlatih menghadapi kondisi darurat, semakin besar pula peluang untuk mengambil keputusan yang tepat ketika bencana benar-benar terjadi.
Jangan Percaya Ramalan Gempa di Media Sosial
Di akhir perbincangan, Ricko memberikan satu pesan yang tak kalah penting.
Masyarakat diminta tidak mudah percaya dengan informasi yang mengklaim dapat mengetahui gempa akan terjadi pada malam, pagi, atau tanggal tertentu.
Informasi semacam itu justru berpotensi menimbulkan kepanikan.
“Pastikan kembali setiap informasi itu berasal dari sumber yang terpercaya,” tegasnya.
Gempa memang tidak bisa diberi jadwal. Tetapi keselamatan bukan sesuatu yang harus menunggu datangnya bencana.
Mengetahui potensi wilayah, memahami cara berlindung, mengenali jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga, serta mengikuti informasi resmi BMKG adalah langkah sederhana yang justru bisa menjadi pembeda ketika bumi mulai berguncang. (rm)


