Monday, September 7, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Tak Sekadar Buku, Fatayat NU Lamongan Diganjar Penghargaan karena Merawat Jejak Budaya

LAMONGAN, RONGGOHADI – Sebuah buku bisa menjadi lebih dari sekadar kumpulan tulisan. Di tangan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Lamongan, buku menjadi cara untuk menyelamatkan cerita, tradisi, seni, dan kearifan lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Lamongan.

Fatayat NU Lamongan menerima penghargaan dari Pemkab Lamongan atas dedikasinya dalam mendokumentasikan kekayaan budaya daerah melalui riset yang dilakukan di 15 kecamatan.

Penghargaan itu diserahkan langsung Bupati Lamongan Yuhronur Efendi kepada Ketua PC Fatayat NU Lamongan, Dewi Maslahatul Ummah, dalam rangkaian Parade Kebangsaan yang digelar Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) di Alun-Alun Kota Lamongan, Sabtu (5/9/2026) malam.

Yang membuat penghargaan ini istimewa adalah karya yang menjadi dasar apresiasi tersebut. Fatayat NU Lamongan melahirkan buku berjudul ‘Merawat Warisan Bumi Lamongan’.

Buku tersebut lahir dari proses riset yang menggali berbagai kekayaan budaya di sejumlah wilayah Lamongan. Tradisi, seni, hingga kearifan lokal masyarakat dihimpun dan didokumentasikan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas daerah.

Bukan sekadar mencatat apa yang sudah ada, riset tersebut juga menjadi cara bagi kader Fatayat NU untuk lebih dekat dengan masyarakat dan memahami kehidupan sosial di berbagai wilayah.

Budaya Tak Boleh Berhenti Jadi Cerita Masa Lalu

Ketua PC Fatayat NU Lamongan Dewi Maslahatul Ummah mengatakan penghargaan tersebut menjadi energi bagi organisasinya untuk terus bergerak memberikan manfaat kepada masyarakat.

Baginya, pelestarian budaya Lamongan merupakan bagian dari khidmah atau pengabdian organisasi kepada masyarakat.

“Bagi kami, budaya bukan sekadar warisan masa lalu yang cukup untuk dikenang. Budaya adalah identitas, sumber pengetahuan, sekaligus kekayaan yang harus terus dirawat dan dikembangkan,” kata Dewi, Minggu (6/9/2026).

Menurutnya, melalui riset dan buku tersebut, kekayaan budaya Lamongan diharapkan tidak hanya tersimpan dalam ingatan masyarakat, tetapi memiliki dokumentasi yang dapat dipelajari generasi berikutnya.

“Melalui riset dan buku ini, kami ingin kekayaan budaya Lamongan dapat terdokumentasi dan semakin dikenal, khususnya oleh generasi muda,” lanjutnya.

Proses penelitian juga memberikan pengalaman tersendiri bagi para kader. Pendekatan by research membuat mereka tidak hanya berkutat dengan aktivitas organisasi, tetapi turun langsung untuk menggali informasi dan memahami realitas masyarakat.

Dari sana, lahir kesadaran bahwa menjaga budaya tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan atau seremoni. Budaya juga perlu dicatat, dipelajari, dikenalkan, dan diwariskan.

Dari Buku Menuju Gerakan Pelestarian Budaya

Fatayat NU Lamongan berharap ‘Merawat Warisan Bumi Lamongan’ tidak berhenti sebagai buku yang tersimpan di rak.

Karya tersebut diharapkan menjadi pijakan awal untuk membangun gerakan pelestarian budaya yang lebih luas. Untuk mewujudkannya, ruang kolaborasi antara organisasi masyarakat, pemerintah daerah, komunitas seni, akademisi, hingga generasi muda dinilai penting.

Sebab, menjaga budaya bukan pekerjaan satu kelompok. Ada banyak tangan yang harus ikut merawatnya agar identitas daerah tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari arah kepengurusan Fatayat NU Lamongan periode 2025–2030 yang ingin mendorong kader lebih aktif mengambil peran dalam berbagai persoalan masyarakat.

Tidak hanya pada isu sosial, tetapi juga seni, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

“Langkah strategis ini sejalan dengan visi kepengurusan Fatayat NU Lamongan periode 2025–2030, yang tidak hanya berfokus pada penguatan internal organisasi, tetapi juga mendorong para kader untuk proaktif turun tangan mengatasi persoalan sosial, seni, budaya, dan pemberdayaan masyarakat,” pungkas Dewi.

Penghargaan dari Pemkab Lamongan akhirnya menjadi semacam penanda bahwa kerja merawat budaya memiliki arti penting.

Sebab ketika sebuah tradisi dituliskan, diteliti, dan dikenalkan kepada generasi muda, yang sedang diselamatkan bukan hanya sebuah cerita.

Ada identitas Lamongan yang sedang dijaga agar tetap hidup. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles