LAMONGAN, RONGGOHADI – Matahari yang terik bagi sebagian orang mungkin terasa menyengat. Namun bagi petambak garam di pesisir Lamongan, sinar matahari justru menjadi kabar baik. Tahun ini, cuaca cerah membuat produksi garam rakyat mulai kembali bergairah setelah sempat anjlok akibat kemarau basah pada 2025.
Di Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, aktivitas petambak garam kembali menggeliat. Hamparan tambak menjadi tempat para petambak berharap butiran putih dari air laut mampu mendatangkan hasil yang lebih baik.
Salah satu petambak dari Kelompok Garam Karya Makmur, Sodikin, menyebut produksi garam Lamongan 2026 jauh lebih menjanjikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, produksi tahun ini lebih bagus. Cuaca sangat mendukung sehingga hasilnya lebih banyak dibandingkan 2025,” ujar Sodikin di Lamongan, Jumat.
Bukan hanya cuaca yang menjadi penentu. Menurutnya, keterampilan para penggarap, ketersediaan tenaga kerja, hingga pasokan air laut menjadi kombinasi penting untuk menghasilkan garam dalam jumlah besar.
Jika kondisi cuaca tetap bersahabat, Sodikin memperkirakan lahan yang dikelolanya dapat menghasilkan sekitar 140 hingga 160 ton garam per hektare hingga akhir November 2026.
Namun, di balik optimisme tersebut, masih ada satu persoalan yang menjadi pekerjaan rumah petambak: geomembran.
Plastik pelapis meja kristalisasi itu dinilai berpengaruh besar terhadap kualitas garam. Tanpa geomembran, garam yang dihasilkan cenderung memiliki kualitas lebih rendah dan warna kekuningan.
“Kalau tidak dilapisi geomembran, hasil garamnya kurang bagus dan warnanya cenderung kuning,” katanya.
Saat ini, harga garam di tingkat petambak berada di kisaran Rp900 hingga Rp1.000 per kilogram. Petambak berharap dukungan pemerintah terhadap sarana produksi, khususnya geomembran, dapat diperkuat.
Bagi mereka, bantuan tersebut bukan sekadar soal fasilitas. Kualitas garam yang lebih baik berarti peluang mendapatkan harga dan pasar yang lebih baik pula.
“Harapannya pemerintah memberikan bantuan geomembran dan jangan sampai mengimpor garam dari luar,” harap Sodikin.
Produksi Garam Lamongan Mulai Bangkit
Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan Joko Nursiyanto mengatakan produksi garam rakyat di Lamongan hingga Juli 2026 telah mencapai 437 ton, yang dihasilkan oleh 293 petambak.
Pemerintah daerah juga terus melakukan pembinaan kepada petambak. Pada 2026, Dinas Perikanan memberikan pelatihan sekaligus bantuan sarana produksi berupa 40 gerobak sorong dan 40 pasang sepatu bot.
“Pada 2026 kami melakukan pembinaan dan pelatihan kepada petambak garam, serta memberikan bantuan sarana produksi berupa 40 gerobak sorong dan 40 pasang sepatu bot,” ujarnya.
Sentra garam Lamongan berada di lima desa di Kecamatan Brondong, yakni Sedayulawas, Lohgung, Labuhan, Brengkok, dan Sidomukti.
Kelima desa tersebut menjadi salah satu tumpuan produksi garam rakyat di Lamongan. Potensinya cukup besar, meski produktivitasnya dalam beberapa tahun terakhir sempat mengalami pasang surut.
Data Dinas Perikanan Lamongan mencatat produksi garam pada 2025 hanya mencapai 2.896,45 ton, atau sekitar 9,57 persen dari target 30.240 ton dengan luas lahan 217 hektare.
Anjloknya produksi saat itu tidak lepas dari kondisi cuaca. Kemarau basah dan tingginya intensitas hujan membuat proses penguapan air laut terganggu sehingga produksi garam ikut tertekan.
Kondisinya berbeda pada 2024. Produksi garam Lamongan kala itu mencapai 30.166,62 ton, bahkan melampaui target 29.400 ton dengan luas lahan 225 hektare.
Karena itu, cuaca cerah pada 2026 menjadi angin segar bagi petambak. Mereka kini kembali menatap hamparan tambak dengan harapan produksi garam bisa mendekati bahkan mengulang masa kejayaannya.
Dari Tambak Lamongan Menuju Swasembada Garam
Harapan petambak Lamongan juga sejalan dengan agenda pemerintah pusat untuk memperkuat produksi garam nasional.
Pemerintah menargetkan produksi garam nasional mencapai 2,5 juta ton pada 2026, kemudian meningkat menjadi 3,5 juta ton pada 2027 dan 5 juta ton pada 2029.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional dan menghentikan ketergantungan terhadap impor pada 2029.
Bagi petambak Lamongan, target besar tersebut tentu membutuhkan dukungan dari tingkat paling bawah. Cuaca memang menjadi berkah, tetapi kualitas sarana produksi, teknologi, pembinaan, hingga kepastian pasar juga menjadi bagian penting agar garam rakyat benar-benar mampu bersaing.
Sebab pada akhirnya, setiap butir garam yang dipanen dari tambak bukan sekadar komoditas. Di dalamnya ada panas matahari, tenaga petambak, dan harapan agar laut Lamongan mampu terus menghidupi masyarakat pesisir. (rm)


