Thursday, September 10, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Cadangan Air Waduk Lamongan Tinggal 30 Persen, Pertanian Masih Aman tapi Distribusi Jadi Kunci

LAMONGAN, RONGGOHADI – Musim kemarau mulai menguras cadangan air di Lamongan. Dari total tampungan 44 waduk dan rawa, kini tersisa sekitar 35,9 juta meter kubik atau 30 persen dari kapasitas tampungan yang mencapai 116,38 juta meter kubik.

Meski tinggal sepertiga, Pemerintah Kabupaten Lamongan memastikan kondisi tersebut masih relatif aman untuk menopang kebutuhan masyarakat dan pertanian. Kuncinya bukan hanya pada seberapa banyak air yang tersisa, tetapi bagaimana cadangan tersebut diatur agar tidak cepat habis dan tetap sampai ke wilayah yang membutuhkan.

Data Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Lamongan menunjukkan sekitar 80,4 juta meter kubik atau 70 persen air dari total tampungan telah digunakan.

Kepala Dinas PU SDABK Lamongan Erwin Sulistya Pambudi mengatakan, cadangan yang ada saat ini masih mampu mendukung kebutuhan irigasi.

“Secara umum untuk kebutuhan irigasi di Lamongan masih relatif mencukupi. Tetapi tentu kita tetap harus melakukan pengelolaan dan pengaturan distribusi air dengan baik, karena kita tidak tahu bagaimana kondisi kemarau ke depan,” kata Erwin, Rabu (9/9/2026).

19 Ribu Hektare Padi Masih Jadi Prioritas

Pengelolaan cadangan air tersebut terutama diarahkan untuk menjaga keberlangsungan lahan pertanian. Tercatat sekitar 19.059 hektare tanaman padi menjadi sasaran pengelolaan air, terdiri dari 16.021 hektare pada Musim Tanam (MT) II dan 3.038 hektare pada MT III.

Selain padi, suplai air juga diperuntukkan bagi sekitar 5.314 hektare tanaman palawija serta 185 hektare tambak.

Menurut Erwin, tantangan terbesar bukan semata-mata jumlah air yang tersedia di waduk dan rawa. Distribusi menjadi persoalan penting karena kebutuhan antarwilayah tidak selalu sama.

“Yang paling penting adalah bagaimana air yang tersedia ini bisa kita kelola secara optimal. Mulai dari sumber air, jaringan irigasi, sampai distribusinya kepada petani,” ujarnya.

Artinya, cadangan 30 persen tersebut harus dikelola secara cermat agar mampu bertahan menghadapi perkembangan musim kemarau.

Air Baku Bengawan Jero Masih Disuplai dari Bengawan Solo

Selain cadangan di waduk dan rawa, Lamongan masih memiliki ketersediaan air baku yang hingga Agustus 2026 tercatat sekitar 504.101,48 meter kubik.

Untuk kebutuhan air baku di kawasan Bengawan Jero, suplai air diperoleh dari long storage Bengawan Solo.

Pemkab Lamongan juga terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta, serta PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur.

Koordinasi dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari pemeliharaan sluis di sepanjang Bengawan Solo hingga normalisasi sungai untuk mendukung ketersediaan long storage air baku dan irigasi.

Bupati Minta Penanganan Kekeringan Tak Sekadar Sementara

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menilai pengelolaan air harus disiapkan jauh sebelum kemarau datang. Menurutnya, ada dua pekerjaan besar yang harus dilakukan pemerintah.

Pertama, bagaimana air dapat ditampung dan dikelola ketika musim hujan. Kedua, bagaimana cadangan tersebut bisa dipastikan tetap tersedia ketika kemarau tiba.

“Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola air ketika musim hujan, sekaligus memastikan ketersediaannya saat musim kemarau,” ujar Yuhronur.

Karena itu, Pemkab Lamongan terus memperkuat mitigasi kekeringan melalui pembangunan dan revitalisasi infrastruktur sumber daya air. Sejumlah upaya yang dilakukan di antaranya pembangunan embung, revitalisasi waduk hingga pengembangan biopori sebagai bagian dari konservasi air.

Namun, Yuhronur meminta target penanganan kekeringan di sejumlah wilayah dipertajam. Ia mencontohkan kondisi di Sarirejo dan Tikung yang menurutnya masih membutuhkan penyelesaian lebih permanen.

“Target kerja harus dipertajam. Penanganan kekeringan di wilayah Sarirejo dan Tikung masih bersifat penyelesaian sementara,” kata Yuhronur.

Distribusi Air Dilakukan Bersama

Untuk menjaga pasokan tetap berjalan, Pemkab Lamongan juga menerapkan subsidi silang antardaerah irigasi serta melibatkan juru pengamat dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam pengelolaan distribusi.

Langkah tersebut menjadi penting ketika cadangan air terus berkurang. Sebab, air yang tersimpan tidak akan banyak berarti jika distribusinya tidak mampu menjangkau lahan yang sedang membutuhkan.

Erwin mengatakan pemantauan terhadap kondisi waduk, rawa, jaringan irigasi dan sungai terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kekurangan air.

“Pengelolaan sumber daya air ini membutuhkan kolaborasi. Tidak bisa hanya dilakukan oleh satu instansi, tetapi harus bersama-sama agar kebutuhan masyarakat dan pertanian bisa tetap terlayani,” pungkasnya.

Dengan cadangan sekitar 35,9 juta meter kubik, Lamongan memang belum berada dalam kondisi kekurangan air untuk kebutuhan irigasi. Namun, angka 30 persen menjadi pengingat bahwa cadangan tersebut tidak bisa digunakan tanpa perhitungan. Semakin panjang kemarau, semakin penting pula ketepatan pengaturan air dari hulu hingga ke lahan petani. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles