Thursday, September 10, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Keluarga Pasien di Lamongan Kecewa, Urusan Rujukan Disebut Berlarut hingga Tiga Kali ke Puskesmas

LAMONGAN, RONGGOHADI – Bagi keluarga pasien, urusan rujukan bukan sekadar persoalan administrasi. Ketika kondisi orang terdekat membutuhkan penanganan medis, setiap menit terasa berharga.

Situasi itulah yang dirasakan keluarga almarhum Teguh, warga Desa Sidogembul, Kecamatan Sukodadi, Lamongan. Keluarga mengaku sempat kebingungan saat harus mengurus surat rujukan melalui Puskesmas Sukodadi setelah pasien sebelumnya mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan lain.

Keluarga menilai proses tersebut membuat mereka merasa dipingpong ketika sedang berada dalam kondisi panik mencari pertolongan medis.

Ibu mertua almarhum, Kaswati, menceritakan Teguh sebelumnya tiba-tiba mengalami sakit dan sempat mendapatkan perawatan di Klinik Sartika. Pasien bahkan telah dipasang infus sebelum kemudian dibawa ke Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (RSI NU) Lamongan.

Namun, keluarga kemudian diminta mengurus surat rujukan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), yakni Puskesmas Sukodadi.

Keluarga pun mendatangi Puskesmas Sukodadi dengan membawa dokumen atau rekapan perawatan dari rumah sakit. Namun, menurut Kaswati, surat rujukan belum dapat diberikan karena Teguh disebut belum pernah menjalani perawatan di puskesmas tersebut.

“Setelah dari rumah sakit diminta ke Puskesmas untuk minta surat rujukan. Tapi dari Puskesmas tidak bisa memberikan, alasannya pasien belum pernah dirawat di Puskesmas,” ujar Kaswati, Selasa (8/9/2026).

Dalam kondisi tersebut, keluarga kemudian meminta bantuan Kepala Desa Sidogembul. Kepala desa disebut sempat menghubungi Kepala Puskesmas Sukodadi untuk menjelaskan kondisi pasien.

Namun, menurut pengakuan keluarga, persoalan tersebut belum langsung terselesaikan. Mereka bahkan kembali mendatangi Puskesmas Sukodadi hingga tiga kali untuk meminta surat rujukan.

Bagi keluarga, persoalan bukan semata soal ada atau tidaknya prosedur administrasi. Mereka mengaku dapat memahami apabila memang terdapat ketentuan yang harus dipenuhi.

Yang menjadi keberatan adalah cara pelayanan dan komunikasi yang mereka rasakan ketika tengah menghadapi kondisi darurat.

Siti Nur Jannah, kakak ipar almarhum Teguh, mengaku kecewa dengan cara penyampaian salah satu petugas yang menurutnya terkesan keras.

Menurut keluarga, situasi tersebut membuat beban mereka semakin berat. Mereka datang bukan untuk mengabaikan aturan, melainkan berusaha mencari jalan agar pasien segera mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.

“Keinginan kami, pasien jangan dilempar-lempar. Kalau memang ada prosedurnya, kami bisa mengikuti. Tapi tolong dijelaskan dengan baik, jangan sampai keluarga yang sedang panik malah merasa dipersulit,” ujar Kaswati.

Keluarga juga mengaku telah menunjukkan rekapan pemeriksaan dan berupaya menjelaskan kondisi Teguh kepada pihak puskesmas.

“Yang terakhir adik saya sendiri yang ngomong. Sudah ditunjukkan rekapan tadi, kemudian ditelepon dokter. Adik saya juga enggak emosi, tetap menjelaskan semuanya, tapi tetap enggak bisa, enggak dikasih,” katanya.

Keluarga Belum Pastikan Penyebab Kematian

Di tengah persoalan pelayanan tersebut, keluarga mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab Teguh meninggal dunia.

Berdasarkan informasi dari dokter yang diterima keluarga, terdapat kemungkinan kondisi almarhum berkaitan dengan diabetes. Namun, keluarga menyebut hasil pemeriksaan sebelumnya di Klinik Sartika dinyatakan normal.

Karena itu, keluarga berharap persoalan yang mereka alami dapat menjadi bahan evaluasi agar masyarakat yang sedang menghadapi kondisi serupa memperoleh informasi dan pelayanan yang jelas.

Bagi mereka, prosedur kesehatan tetap penting. Namun, prosedur tersebut diharapkan disampaikan dengan komunikasi yang mudah dipahami, terlebih ketika keluarga sedang berada dalam situasi panik dan membutuhkan kepastian mengenai langkah yang harus dilakukan.

Keluhan keluarga ini sekaligus membuka kembali pentingnya komunikasi dalam pelayanan kesehatan. Sebab bagi masyarakat, ketika anggota keluarga sedang sakit, yang mereka butuhkan bukan hanya jawaban soal administrasi, tetapi juga kepastian mengenai ke mana harus melangkah dan bagaimana mendapatkan pertolongan. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles