Friday, November 6, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pamerkan Dua Inovasi di IGA 2026, Bupati Lamongan Bidik Pengangguran dan Layanan Kesehatan

RONGGOHADI, LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan memamerkan dua inovasi unggulan dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, Kamis (5/11/2026).

Dua inovasi tersebut adalah MegPreneur (Megilan Entrepreneur) untuk mendorong pertumbuhan wirausaha dan penyerapan tenaga kerja, serta SIMAS KDP (Sistem Informasi Puskesmas Kedungpring) untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Dalam presentasi bertajuk Mengakselerasi Kesejahteraan melalui Inovasi Berkelanjutan, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menjelaskan bahwa inovasi daerah harus mampu menjawab persoalan pembangunan yang dihadapi masyarakat.

Ia menyebut Lamongan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kemiskinan, pendidikan, pengangguran, kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), hingga kondisi infrastruktur jalan.

“ Kabupaten Lamongan ini masih menghadapi lima tantangan pembangunan. Kemiskinan 11,74 persen. Rata-rata lama sekolah masih 8,73 tahun. Pengangguran terbuka masih 4,29 persen. Kemudian keaktifan peserta JKN masih 71,06 persen serta infrastruktur jalan yang kita sebut jalan mantap dan halus Lamongan masih 60,21 persen,” ungkap Yuhronur.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemkab Lamongan menetapkan empat isu strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Keempatnya meliputi pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas layanan kesehatan, transformasi ekonomi melalui hilirisasi, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

Yuhronur menegaskan, inovasi tidak boleh hanya bergantung pada sosok atau individu tertentu. Karena itu, Pemkab Lamongan berupaya membangun ekosistem inovasi melalui regulasi dan budaya kerja pemerintahan, termasuk kebijakan satu bidang satu inovasi.

“Sesungguhnya kami telah menyiapkan fondasi untuk memastikan bahwa inovasi ini terus tumbuh, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.

MegPreneur Dorong Wirausaha dan Penyerapan Tenaga Kerja

Salah satu inovasi yang dipaparkan adalah MegPreneur. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan pengangguran dan kemiskinan melalui penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus mendorong lahirnya wirausaha muda.

Yuhronur menjelaskan, MegPreneur menawarkan pendekatan berbeda dari pelatihan kewirausahaan konvensional. Program tersebut dikembangkan menjadi ekosistem inkubasi terpadu yang mencakup pendampingan produk, akses pemasaran lokal hingga ekspor, sertifikasi kompetensi, serta pembelajaran digital.

Sejak 2022 hingga 2026, program MegPreneur telah melibatkan 590 tim atau 1.537 peserta dengan dukungan anggaran mencapai Rp2,638 miliar.

Dari pelaksanaan program tersebut, sebanyak 557 peserta memperoleh akses pemasaran daring dan reseller. Kemudian, 80 peserta menerima hibah modal usaha, 50 peserta mendapatkan sertifikat BNSP, sebanyak 880 usaha difasilitasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), dan 60 produk memperoleh fasilitasi pemasaran.

“Dampaknya juga turut tercermin pada peningkatan jumlah usaha mikro dari 33.174 pada 2021 menjadi 157.488 pada 2025 serta pertumbuhan ekonomi Lamongan dari 3,43 persen menjadi 5,40 persen dan juga indeks daya saing daerah Lamongan juga meningkat dari 3,14 menjadi 3,81 pada 2025,” papar Yuhronur.

Ia juga menyebut program tersebut berkontribusi terhadap penyerapan 1.683 tenaga kerja. Sementara itu, rata-rata omzet peserta setelah mengikuti inkubasi meningkat dari Rp3,583 juta pada 2022 menjadi Rp5,861 juta pada 2025.

Pengembangan MegPreneur dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Pemkab Lamongan juga mengembangkan program tersebut secara mandiri dengan pendampingan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), tanpa menggunakan vendor eksternal.

SIMAS KDP Pangkas Waktu Tunggu Pasien

Selain sektor ekonomi, inovasi bidang kesehatan juga menjadi perhatian dalam presentasi Yuhronur. Pemkab Lamongan memperkenalkan SIMAS KDP, sistem informasi digital yang dikembangkan Puskesmas Kedungpring untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dasar.

Melalui sistem tersebut, pelayanan yang sebelumnya dilakukan secara manual diarahkan menjadi lebih terintegrasi, mudah diakses, dan responsif.

Berdasarkan data yang dipaparkan, SIMAS KDP telah mencatat 210.573 kunjungan pasien. Sebanyak 14.841 orang memanfaatkan pendaftaran rawat jalan digital, 322 orang mengakses konsultasi kesehatan, dan 101 orang menggunakan fitur pertolongan darurat.

Selain itu, sebanyak 14.064 orang memanfaatkan fitur Perpus Sehat dan 14.284 orang menikmati layanan cek kesehatan gratis.

Yuhronur menyebut digitalisasi tersebut turut berdampak pada efisiensi pelayanan. Waktu tunggu pasien yang sebelumnya mencapai 30 menit atau lebih diklaim dapat dipangkas menjadi sekitar lima menit.

Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) juga disebut meningkat dari 84,34 menjadi 93,26.

“Bagi kami inilah esensi inovasi pelayanan publik. Jadi bukan sekadar menghadirkan teknologi, tetapi juga memangkas waktu pelayanan, memperluas akses informasi, meningkatkan kepuasan, dan juga menjaga kuat keberlanjutan daripada kualitas,” kata Yuhronur.

Dalam pemaparannya, Yuhronur juga menyampaikan sejumlah indikator kesehatan masyarakat Lamongan yang menunjukkan perbaikan. Prevalensi stunting disebut turun dari 20,5 persen pada 2021 menjadi 4,6 persen pada 2025. Sementara indeks kesehatan meningkat dari 0,836 menjadi 0,852.

Melalui dua inovasi tersebut, Pemkab Lamongan berupaya menunjukkan bahwa pengembangan inovasi daerah tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi atau pelaksanaan program, tetapi juga pada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, baik dalam pengembangan usaha maupun akses pelayanan kesehatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles