RONGGOHADI, LAMONGAN – Di SDN Keting, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, belajar tidak selalu harus berlangsung di balik meja dan papan tulis. Ada pelajaran yang justru tumbuh dari tanah, dirawat dengan tangan kecil para siswa, lalu dipetik sebagai pengalaman.
Sekolah tersebut mulai mendorong konsep ketahanan pangan berbasis sekolah melalui kegiatan Sosialisasi Sekolah dan Gugus Depan Ketahanan Pangan, Rabu (12/8/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya SDN Keting membangun kesadaran siswa terhadap lingkungan sekaligus mengenalkan pentingnya kemandirian pangan sejak usia sekolah dasar.
Melalui taman edukasi yang dikembangkan di lingkungan sekolah, para siswa diajak mengenal proses pangan secara langsung. Mereka tidak hanya mengetahui makanan sehat dari buku pelajaran, tetapi juga belajar bagaimana prosesnya dimulai dari menanam, merawat hingga memanen.
Kepala SDN Keting, Siswo Handoko, mengatakan pengalaman langsung tersebut diharapkan dapat membentuk kepedulian siswa terhadap lingkungan dan pangan sehat.
“Dengan terlibat langsung menanam, merawat, hingga memanen, para siswa tidak hanya belajar teori pangan sehat, tetapi juga belajar menghargai proses dan mencintai lingkungan sekolah mereka sendiri,” ungkap Siswo.
Menanam Hari Ini, Menuai Kemandirian di Masa Depan
Konsep yang dibangun SDN Keting sederhana, tetapi memiliki pesan yang cukup besar: ketahanan pangan bisa dikenalkan sejak bangku sekolah.
Anak-anak diperkenalkan bahwa makanan yang mereka konsumsi tidak muncul begitu saja. Ada proses panjang yang melibatkan tanah, air, tanaman, perawatan, hingga akhirnya menghasilkan bahan pangan.
Dalam kegiatan tersebut, Ipda Purnomo hadir sebagai narasumber untuk memberikan motivasi kepada para siswa mengenai pentingnya kemandirian pangan nasional.
Ia mengajak siswa melihat kegiatan bercocok tanam bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari pembelajaran untuk membangun kepedulian terhadap alam.
“Menanam hari ini, merawat setiap hari, dan menuai di masa depan. Kita ingin anak-anak kita tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga belajar mencintai alam dan mandiri secara pangan,” tutur Ipda Purnomo.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika para siswa dilibatkan secara langsung dalam aktivitas di taman edukasi sekolah.
Bagi mereka, tanah dan tanaman menjadi “buku pelajaran” yang bisa disentuh dan dirawat sendiri.
Ketahanan Pangan Sekaligus Pendidikan Karakter
Program ketahanan pangan di SDN Keting tidak berhenti pada urusan menanam.
Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membangun karakter siswa, mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Sebab tanaman tidak bisa tumbuh hanya karena ditanam. Ia membutuhkan perawatan secara rutin. Dari proses itulah siswa belajar bahwa sesuatu yang ingin dipanen di kemudian hari membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Kepala Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Sekaran, Nanang Eko Prajoko, yang hadir bersama jajaran kepala sekolah se-Kecamatan Sekaran, memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.
Menurutnya, ketahanan pangan berbasis sekolah dapat menjadi media pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan kemandirian, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter.
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh inisiatif SDN Keting ini. Program ketahanan pangan berbasis sekolah tidak hanya melatih kemandirian serta kecintaan anak-anak terhadap alam, tetapi juga menjadi media nyata penguatan pendidikan karakter yang sangat selaras dengan kebutuhan dunia pendidikan saat ini,” pungkasnya.
Tak Hanya Bicara Pangan, Siswa Juga Dapat Bantuan
Dalam kesempatan tersebut, kepedulian terhadap siswa juga diwujudkan melalui penyaluran perlengkapan sekolah dan bantuan dana tunai kepada beberapa murid yang membutuhkan.
Ipda Purnomo menyerahkan tas sekolah serta bantuan bagi sejumlah siswa yang mengalami keterbatasan sarana belajar, termasuk kondisi sepatu yang sudah mengalami kerusakan.
Langkah tersebut membuat kegiatan tidak hanya berbicara mengenai ketahanan pangan dan lingkungan, tetapi juga menyentuh kebutuhan siswa dalam menjalani proses pendidikan.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan SDN Keting menunjukkan bahwa gerakan ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia bisa dimulai dari sebidang tanah di halaman sekolah, dari tangan anak-anak yang belajar menanam, dan dari kebiasaan sederhana untuk merawat apa yang telah ditanam.
Karena mungkin, sebelum menjadi generasi yang mampu menjaga ketahanan pangan bangsa, anak-anak memang perlu terlebih dahulu belajar menumbuhkan satu tanaman dengan tangannya sendiri. (rm)



