Wednesday, September 23, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Air Bersih Mulai Dikirim ke 15 Desa, 91 Desa Lamongan Masuk Peta Ancaman Kekeringan

LAMONGAN, RONGGOHADI – Lima truk tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan terus bergerak selama musim kemarau. Bukan membawa material proyek atau logistik biasa, melainkan membawa sesuatu yang semakin dibutuhkan warga: air bersih.

Hingga 18 Agustus 2026, BPBD Lamongan telah menyalurkan air bersih ke 15 desa di sembilan kecamatan yang terdampak kekeringan.

Distribusi tersebut menjangkau 22 dusun dengan total penerima manfaat mencapai 3.095 kepala keluarga (KK).

Namun angka tersebut ternyata belum menggambarkan seluruh ancaman kekeringan di Lamongan.

BPBD telah memetakan 91 desa di 15 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan. Wilayah tersebut tersebar di 168 dusun, dengan 44 desa masuk kategori kritis dan 47 desa lainnya berada dalam kategori langka air.

Artinya, persoalan air bersih di Lamongan masih berpotensi meluas seiring berlanjutnya musim kemarau.

Truk Tangki Jadi Penopang Warga

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamongan, Sami’an, mengatakan distribusi air bersih dilakukan secara bertahap.

Prioritas diberikan berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, laporan masyarakat, serta permintaan dari wilayah yang mengalami keterbatasan air.

“Distribusi air bersih kami lakukan secara bertahap berdasarkan hasil pemantauan, laporan, dan permintaan dari wilayah yang terdampak kekeringan,” kata Sami’an, Selasa.

Untuk mendukung distribusi tersebut, BPBD Lamongan menyiapkan lima armada truk tangki.

Tak hanya air, sejumlah perlengkapan pendukung juga disiapkan, mulai dari tandon air, terpal, hingga jeriken.

Perlengkapan tersebut menjadi penting karena persoalan warga bukan hanya bagaimana mendapatkan air, tetapi juga bagaimana menampung dan menyimpannya agar dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

91 Desa Sudah Masuk Peta Risiko

BPBD Lamongan sebelumnya telah melakukan pemetaan wilayah yang memiliki potensi mengalami kekeringan.

Pemetaan ini menjadi dasar pemerintah dalam menentukan wilayah prioritas sekaligus menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.

Hasil pemetaan terbaru menunjukkan terdapat 91 desa di 15 kecamatan yang berpotensi mengalami dampak kekeringan.

Wilayah tersebut mencakup 168 dusun.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 44 desa dikategorikan kritis, sedangkan 47 desa lainnya masuk kategori langka air.

Kondisi ini membuat pemerintah daerah harus menjaga kesiapsiagaan. Sebab, wilayah yang hari ini masih memiliki persediaan air belum tentu berada dalam kondisi yang sama ketika kemarau berlangsung lebih panjang.

Kekeringan Bukan Cuma Soal Air Minum

Kekeringan juga memiliki efek berantai.

Ketika sumber air menyusut, kebutuhan rumah tangga memang menjadi persoalan pertama yang terlihat. Namun di belakangnya terdapat sektor lain yang ikut terancam, terutama pertanian.

Terbatasnya air untuk irigasi dapat menurunkan produktivitas tanaman dan mengganggu pola tanam petani.

Pada saat yang sama, kondisi lahan yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, penanganan kekeringan tidak cukup hanya dengan mengirimkan air bersih. Pemerintah juga perlu memastikan sistem pemantauan dan respons terhadap berbagai dampak turunannya tetap berjalan.

Posko Siaga Kekeringan Terus Aktif

Untuk mempercepat respons, BPBD Lamongan mengaktifkan Posko Siaga Kekeringan serta Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops).

Keduanya menjadi pusat koordinasi untuk memantau perkembangan kondisi di wilayah terdampak sekaligus mempercepat penanganan apabila kebutuhan air meningkat.

Sami’an memastikan pemantauan akan terus dilakukan agar distribusi bantuan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

“Pemantauan terus kami lakukan agar penanganan dapat diberikan sesuai kebutuhan, khususnya bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan air bersih,” ujarnya.

Kemarau Belum Selesai, Perjalanan Tangki Air Masih Panjang

Lima truk tangki yang bergerak dari satu desa ke desa lainnya mungkin terlihat seperti pemandangan biasa selama musim kemarau.

Namun di balik setiap perjalanan itu ada keluarga yang sedang menunggu air untuk memasak, mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dan dengan 91 desa yang telah masuk peta potensi kekeringan, pekerjaan BPBD Lamongan jelas belum selesai.

Air bersih yang hari ini tiba di satu dusun adalah pertolongan nyata. Tetapi kesiapsiagaan tetap menjadi kunci agar ketika keran sumber air mulai mengering, bantuan tidak datang terlambat.

Sebab di musim kemarau, setetes air bukan sekadar air. Bagi warga yang kesulitan mendapatkannya, setetes air berarti kehidupan. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles