Tuesday, September 22, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Bukan Cuma Waduk, Ini Jurus Lamongan Menjaga Sawah Tetap Hidup di Tengah Kemarau

LAMONGAN, RONGGOHADI – Saat hujan mulai jarang menyapa, perhatian petani Lamongan beralih pada satu hal yang jauh lebih berharga dari sekadar genangan: air.

Pemerintah Kabupaten Lamongan kini mengandalkan cadangan air yang tersimpan di puluhan waduk dan rawa untuk memastikan lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan irigasi selama musim kemarau.

Tak tanggung-tanggung, ada 44 waduk dan rawa yang menjadi bagian dari strategi pengelolaan air di Kabupaten Lamongan. Total tampungannya mencapai 116,38 juta meter kubik.

Namun, sebagian besar cadangan tersebut sudah mulai digunakan.

Data Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Lamongan mencatat sekitar 80,4 juta meter kubik atau 70 persen dari total tampungan telah dimanfaatkan. Sementara cadangan yang masih tersisa sekitar 35,9 juta meter kubik atau 30 persen.

Angka itu menjadi gambaran sekaligus pengingat bahwa air harus dikelola dengan cermat agar kebutuhan pertanian tetap terjaga hingga musim kemarau berakhir.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu kunci menjaga produktivitas pertanian, terutama menghadapi ancaman kekeringan pada Musim Tanam (MT) II 2026.

“Alhamdulillah, kekeringan di Lamongan pada MT II bisa kita atasi dengan baik. Ini tentu berkat kerja bersama dan dukungan infrastruktur pengairan yang terus kita bangun,” kata Yuhronur di Lamongan, Selasa.

Puluhan Ribu Hektare Lahan Bergantung pada Air

Cadangan air yang dikelola Pemkab Lamongan bukan sekadar angka dalam laporan. Air tersebut menopang aktivitas pertanian dalam skala yang cukup besar.

Tercatat 19.059 hektare tanaman padi mendapatkan dukungan dari pengelolaan sumber daya air tersebut. Rinciannya, 16.021 hektare berada pada MT II dan 3.038 hektare pada MT III.

Selain sawah padi, terdapat pula 5.314 hektare lahan palawija dan sekitar 185 hektare tambak yang turut masuk dalam cakupan pengelolaan air.

Artinya, menjaga air tetap tersedia berarti menjaga lebih dari sekadar tanaman. Ada produksi pangan, aktivitas ekonomi petani, hingga keberlangsungan usaha masyarakat yang ikut bergantung pada distribusi air.

Untuk kebutuhan air baku, hingga Agustus 2026 ketersediaannya tercatat mencapai 504.101,48 meter kubik.

“Khusus di wilayah Bengawan Jero, kebutuhan air baku disuplai dari long storage Bengawan Solo,” ujar Yuhronur.

Air Kemarau Tak Bisa Dikelola Sendirian

Menghadapi kemarau, Pemkab Lamongan tidak bekerja sendirian. Pengelolaan air dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta, serta PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur.

Kepala Dinas SDABK Lamongan Erwin Sulistya Pambudi mengatakan koordinasi tersebut mencakup berbagai langkah teknis untuk memastikan distribusi air tetap berjalan.

Mulai dari pemeliharaan sluis di sepanjang Bengawan Solo, normalisasi sungai, subsidi silang antardaerah irigasi, hingga pengaturan distribusi air bersama juru pengamat dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

“Koordinasi yang kami lakukan yakni berkaitan dengan pemeliharaan sluis di sepanjang Bengawan Solo, normalisasi sungai untuk mendukung ketersediaan air irigasi, subsidi silang antardaerah irigasi, serta pengaturan distribusi air bersama juru pengamat dan P3A,” jelas Erwin.

Menurutnya, tantangan pengelolaan sumber daya air bukan hanya bagaimana mendapatkan air, tetapi juga bagaimana menyimpan air saat musim hujan dan memastikan cadangannya tetap tersedia ketika kemarau datang.

Dari Waduk hingga Biopori

Karena itu, strategi Pemkab Lamongan tidak berhenti pada pemanfaatan cadangan air yang sudah tersedia.

Mitigasi kekeringan juga diperkuat melalui pembangunan embung, revitalisasi waduk, serta pengembangan biopori sebagai bagian dari upaya konservasi air.

Logikanya sederhana: air hujan yang melimpah tidak boleh begitu saja hilang. Sebisa mungkin, air harus ditahan, disimpan dan dimanfaatkan kembali ketika lahan mulai kekurangan pasokan.

“Mitigasi kekeringan terus kami perkuat melalui pembangunan embung, revitalisasi waduk, dan pengembangan biopori sebagai bagian dari konservasi air,” kata Erwin.

Lamongan Mulai Pakai Teknologi untuk Pantau Infrastruktur Air

Pengelolaan sumber daya air di Lamongan juga mulai bergerak ke arah yang lebih adaptif.

Bersama UPTD PSDA Karanggeneng, Pemkab Lamongan menghadirkan inovasi SMART untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam pengelolaan air dan infrastruktur.

Sistem tersebut juga mencakup layanan pengaduan terkait kerusakan dan bencana, sekaligus usulan rehabilitasi sungai maupun waduk.

Langkah ini menunjukkan bahwa menghadapi kekeringan tidak cukup hanya dengan mencari sumber air ketika sawah mulai kering. Infrastruktur harus dipantau, kerusakan harus cepat ditangani, dan distribusi air harus terus dikawal.

Sebab bagi Lamongan, kemarau bukan sekadar perubahan cuaca.

Di balik setiap pintu air, saluran irigasi, waduk dan pompa, ada sawah yang harus tetap hidup. Ada petani yang menunggu panen. Dan ada ketahanan pangan daerah yang harus dijaga.

Selama air masih bisa dikelola, harapan untuk menjaga sawah tetap hijau pun belum kering. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles